xxx

KRITERIA COWOK YANG KAMU SUKA
(polls)

TANTANGAN BAHASA INDONESIA BAGI PAKAR DI LUAR INDONESIA: EMOSI DAN PENYEBABNYA

TANTANGAN BAHASA INDONESIA BAGI PAKAR DI LUAR INDONESIA: EMOSI DAN PENYEBABNYA
Adjekiva atau verba?
Tantangan yang besar dalam memerikan bahasa yang asing bagi pengamatnya adalah perbedaan kategori semantis (yang mencakupi bukan hanya kosa kata melainkan juga kategori gramatikal), dan tentunya ketidaksejajaran kategori gramatikal itu sendiri. Berbagai pengamat di luar “alam Melayu” atau Asia Tenggara (alias dari Eropa) karena itu cenderung menggarisbawahi perbedaan antara bahasa Melayu/Indonesia dan bahasa mereka sendiri. Ancangan itu menghasilkan pengamatan yang negatif seperti “bahasa ini tidak mempunyai kata sandang dan tidak mengenal kala juga”. Tidak jarang mereka terpikat dengan ciri bentuk yang menonjol (di mata mereka), maka keanehan bentuk itulah yang mereka garis bawahi dengan melangkahi analisis semantis yang memadai (“untuk jamak cukuplah mengulangi kata untuk tunggal”). Dengan berkembangnya linguistik pengamatan pakar asing itu menjadi lebih canggih. Sampai ada yang mencegah istilah adjektiva untuk bahasa Indonesia untuk menekankan perbedaan dengan bahasa Inggris, Prancis, dan Belanda. Padanan adjektiva bahasa-bahasa Eropa itu disamakan mereka dengan verba, khususnya verba intrasitif. Tetapi tidak seratus persen juga, karena tetap dibedakan. Labrousse mengikuti Lombard (1977) membedakan verbes d’action (verba kegiatan, yang mencakupi verbes transitifs dan verbes intransitifs) dan verbes d’état (verba keadaan) (Labrousse 1984: xv). Prentice (1987: 192) dengan membedakan transitive verbs (seperti bunuh, sapu ‘sweep’, rusak ‘damage’), dynamic verbs (seperti pergi, duduk, mati ‘die’, tahu), dan stative verbs “ (seperti bagus, banyak ‘numerous’, mati ‘dead’, rusak ‘damaged’). Steinhauer (2001: 46) malah menggunakan istilah dynamisch intransitieve verbalen dan statisch intrasitieve verbalen (verba intransitif dinamis dan verba intransitif statis).
Sebenarnya bukan hanya pengamat Eropa yang bergelut dengan masalah penggolongan kata dalam bahasa Melayu/Indonesia. Harimurti
Kridalaksana menguraikan berbagai ancangan sepanjang sejarah pengamatan bahasa Melayu/Indonesia (Kridalaksana 1986: 10-25). Satu orang pakar Indonesia mendahului pengamat Eropa dalam menggolongkan adjektiva sebagai subkelas verba. Anton M. Moeliono dalam tesis masternya memilah kategori besar “verbals” (yang ditandai oleh penegasian dengan tidak) menjadi dua subkelas, transitif dan intransitif; subkelas terakhir mencakupi juga adjektiva yang merupakan subkelas bawahan lagi berkat kemungkinannya didahului oleh pemarkah taraf (1965: 15-16).
Yang jelas, kategori adjektiva dalam bahasa Melayu/Indonesia merupakan kategori yang cukup goyah. Namun, itu inheren pada suatu kategori satuan bahasa yang fungsi utamanya mengungkapkan ciri acuan nomina. Dan karena itu bisa muncul sebagai inti atribut nominal atau sebagai inti predikat. Posisi menengah itu tercermin secara lintas bahasa dalam kelakuan kata yang merupakan padanan dari adjektiva dalam bahasa Eropa barat.
Berbagai bahasa di dunia tidak mempunyai adjektiva sama sekali. Dalam tradisi ketatabahasaan klasik romawi apa yang sekarang kita sebut “adjektiva” dalam bahasa Latin dianggap nomina. Kedua-duanya mempunyai kategori kasus dan jumlah dengan morfologinya yang sama juga. Bandingkan paradigma untuk nomina dominus ‘tuan’, dan “adjektiva” doctorandus ‘(laki-laki) yang harus menjadi doktor’, dan bonus ‘(laki-laki) yang baik’.

BEBERAPA CATATAN TENTANG PERAN PEMDA DALAM PEMASYARAKATAN BAHASA

BEBERAPA CATATAN TENTANG PERAN PEMDA DALAM PEMASYARAKATAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA
Drs. Ismail Titapele, M.Pd
Kepala Dinas P&K Provinsi Maluku
1. Pengantar
Selama ini pembahasan tentang kebijakan bahasa nasional di Indonesia mengacu pada (1) Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36, (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VII, Pasal 33, (1), dan (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.
Kebijakan bahasa nasional yang digunakan sebagai pedoman dalam pengelolaan masalah kebahasaan di Indonesia adalah hasil Seminar Politik Bahasa Nasional di Jakarta pada tahun 1975. Dalam konteks itu, setelah hampir 25 tahun peristiwa itu, diadakan kembali Seminar Politik Bahasa di Cisarua, Bogor, pada 8—12 November 1999 guna meninjau kembali hasil Seminar Politik Bahasa Nasional 1975 itu. Selain itu, seminar tahun 1999 ini juga dimaksudkan untuk memperkuat putusan Kongres Bahasa Indonesia VII (1998) tentang perlunya peningkatan kedudukan, fungsi, dan wewenang Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa sekarang berganti nama menjadi Pusat Bahasa. Intinya adalah bahwa di dalam seminar itu diadakan perumusan kembali politik bahasa nasional atau kebijakan bahasa nasional–yakni kebijakan nasional yang berisi pengarahan, perencanaan, dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar pengelolaan keseluruhan masalah kebahasaan baik masalah bahasa dan sastra Indonesia, masalah bahasa dan sastra daerah, maupun masalah bahasa asing di Indonesia dan kesastraan di Indonesia.
Sebagai bahasa yang berkembang, bahasa Indonesia telah dan akan terus mengalami perubahan sejalan dengan masyarakat pemakainya. Disamping itu luasnya wilayah pemakaian bahasa Indonesia, kemajuan teknologi informasi membuat penyebaran bahasa asing tidak terelakan lagi dan tercampur dengan bahasa Indonesia. Hal
ini nampak jelas dalam bahasa pergaulan kerap orang mempergunakan bahasa yang serampangan. Terkadang banyak orang menggunakan kosakata dari tiga bahasa dalam satu kalimat dalam perbincangan di forum resmi.
Berkenaan dengan hal tersebut maka pemerintah daerah otonom baik provinsi maupun kabupaten / kota harus dapat merumuskan kebijakan strategis dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional melalui program pemasyarakatan bahasa dan sastra Indonesia sehingga pada akhirnya mampu Mewujudkan Insan Cerdas, Bermartabat dan Berperadaban.
2. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
• Bahasa Indonesia secara historis dianggap lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, sebagaimana diikrarkan oleh para pemuda kala itu di dalam salah satu sumpah dalam trisumpah Sumpah Pemuda, dan secara yuridis diakui eksistensinya dalam kehidupan kebangsaan Indonesia pada tahun 1945 di dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36–merupakan bahasa persatuan, atau bahasa kebangsaan.
• Secara formal sampai saat ini bahasa Indonesia mempunyai kedudukan, yaitu sebagai bahasa persatuan (bahasa nasional) dan sebagai bahasa negara (bahasa resmi). Dalam perkembangannya lebih lanjut, bahasa Indonesia berhasil mendudukkan diri sebagai bahasa budaya dan bahasa ilmu. Kedudukan ini mempunyai fungsi yang berbeda, walaupun dalam praktiknya dapat saja muncul secara bersama-sama dalam satu peristiwa, atau hanya muncul satu atau dua fungsi saja.
• Kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfunsgi sebagai Lambang kebangsaan bangsa, Lambang identitas bangsa, Alat pemersatu masyarakat yang berbeda-beda latar belakang sosial dan budaya, Alat perhubungan antar budaya dan antar daerah. Dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara bahasa Indonesia berfungsi sebagai Bahasa resmi di semua lembaga pendidikan, Bahasa resmi didalam perhubungan pada tkt nasional dan Bahasa resmi dalam pengembangan IPTEK moderen
• Dengan menggunakan bahasa Indonesia rasa kesatuan dan persatuan bangsa yang berbagai etnis terpupuk. Kehadiran bahasa Indonesia di tengah-tengah ratusan bahasa daerah tidak
menimbulkan sentimen negatif bagi etnis yang menggunakannya. Sebaliknya, justru kehadiran bahasa Indonesia dianggap sebagai pelindung sentimen kedaerahan dan sebagai penengah ego kesukuan.
• Latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda berpotensi untuk menghambat perhubungan antardaerah antarbudaya. Tetapi, berkat bahasa Indonesia, etnis yang satu bisa berhubungan dengan etnis yang lain sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
• Dalam hubungannya sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku yang mempunyai latar belakang budaya dan bahasa masing-masing, bahasa Indonesia justru dapat menyerasikan hidup sebagai bangsa yang bersatu tanpa meinggalkan identitas kesukuan dan kesetiaan kepada nilai-nilai sosial budaya serta latar belakang bahasa etnik yang bersangkutan. Bahkan, lebih dari itu, dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan ini, kepentingan nasional diletakkan jauh di atas kepentingan daerah dan golongan. Latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda berpotensi untuk menghambat perhubungan antardaerah antarbudaya. Tetapi, berkat bahasa Indonesia, etnis yang satu bisa berhubungan dengan etnis yang lain sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman
3. Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia
• Pembinaan dan pengembangan bahasa adalah usaha-usaha yang di-tujukan untuk memelihara dan mengembangkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan pengajaran bahasa asing supaya dapat memenuhi fungsi dan kedudukannya (Alwi dan Sugono (Ed.) 2003:9).
• Pemerintah Daerah Provinsi Maluku sekarang ini terus melaksanakan pembinaan bahasa indonesia yakni upaya untuk meningkatkan mutu pemakaian bahasa dalam konteks ini adalah bahasa Indonesia guna memertabatkan bahasa Indonesia sebagai sarana mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa. Pembinaan bahasa Indonesia ini direncanakan lebih diarahkan pada dunia persekolahan. Dunia persekolahan dianggap sebagai basis untuk pembinaan bahasa Indonesia (dan, tentu saja, bahasa daerah). Siswa dari SD sampai dengan siswa Sekolah Menengah diarahkan untuk mempunyai sikap yang positif terhadap bahasa Indonesia (dan bahasa daerah), mencintai bahasa Indonesia dan menggunakannya dalam pelbagai kesempatan baik formal, semiformal maupun nonformal.
• Beberapa usaha pembinaan yang direncanakan akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Maluku mencakup antara lain, upaya peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa yang diselenggrakan, antara lain, melalui pengajaran dan pemasyarakatan di sekolah dan masyarakat.
• Pemberdayaan bahasa Indonesia lebih diarahkan pada dunia persekolahan. Dunia persekolahan dianggap sebagai basis untuk pembinaan bahasa Indonesia hal ini disebabkan karena pada tatanan ini diyakini bahasa Indonesia dapat dikembangkan.
Namun ditengah-tengah upaya pengembangan dan pemasya-rakatan Bahasa Indonesia masih dijumpai hambatan-hambatan di tengah masyarakat antara lain sebagai berikut (menurut Masnur Muslich) :
• Banyak orang Indonesia merasa malu apabila tidak menguasai bahasa asing tetapi tidak pernah merasa malu dan kurang apabila tidak menguasai bahasa Indonesia.
• Banyak orang Indonesia memperlihatkan dengan bangga kemahirannya menggunakan bahasa Inggris, walaupun mereka tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
• Banyak orang Indonesia menganggap remeh bahasa Indonesia dan tidak mau mempelajarinya secara baik karena merasa dirinya adalah orang Indonesia yang telah menguasai bahasa Indonesia dengan baik padahal kenyataannya tidak demikian.
• Banyak orang Indonesia merasa dirinya lebih pandai daripada yang lain karena telah menguasai bahasa asing (Inggris) dengan fasih, walaupun penguasaan bahasa Indonesianya kurang sempurna.
Akibat lanjut yang timbul dari kenyataan-kenyataan tersebut antara lain sebagai berikut :
• Banyak orang Indonesia lebih suka menggunakan kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan asing, padahal kata-kata, istilah-istilah, dan ungkapan-ungkapan itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, bahkan sudah umum dipakai dalam bahasa Indonesia. contohnya background, (Latar belakang) airport (bandara).
• Banyak orang Indonesia menghargai bahasa asing secara berlebihan sehingga ditemukan kata dan istilah asing yang “amat asing” atau “terlalu asing”.
• Banyak orang Indonesia belajar dan menguasai bahasa asing dengan baik tetapi menguasai bahasa Indonesia apa adanya. Terkait dengan itu, banyak orang Indonesia yang mempunyai bermacam-mecam kamus bahasa asing tetapi tidakmempunyai satu pun kamus bahasa Indonesia. Seolah-olah seluruh kosakata bahasa Indonesia telah dikuasainya dengan baik.
Kenyataan-kenyataan dan akibat-akibat tersebut kalau tidak diperbaiki akan berakibat perkembangan bahasa Indonesia terhambat. Sebagai warga negara Indonesia yang baik, sepantasnyalah bahasa Indonesia itu dicintai dan dijaga. Bahasa Indonesia harus dibina dan dikembangkan dengan baik karena bahasa Indonesia itu merupakan salah satu identitas atau jati diri bangsa Indonesia.
Strategi Pengembangan dan Pemasyarakatan Bahasa dan Sastra Indonesia dilakukan melalui kegiatan
a) Merumuskan implementasi kebijakan pemerintah daerah dalam rangka pelestarian dan pengembangan Bahasa Negara di daerah sekaligus melakukan sosialisasi penggunaan bahasa negara sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan pendidikan, forum pertemuan resmi pemerintah dan pemerintahan daerah dan surat menyurat resmi sesuai amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 40 Tahun 2007.
b) Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada semua jenjang pendidikan;
c) Pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan metodologi pengajaran bahasa;
d) Pengembangan tenaga kependidikan kebahasaan yang profesional;
e) Kewajiban penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan baik pendidikan formal, nonformal maupun informal;
f) Seminar Bahasa Indonesia dalam rangka membangkitkan minat generasi muda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menjadikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia;
g) Pemilihan Duta Bahasa Indonesia;
h) Penyuluhan bahasa pegawai dan guru non bahasa Indonesia sehingga mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berbagai kesempatan;
i) Diklat penulisan musikalisasi puisi kerjasama dengan pusat bahasa Depdiknas;
j) Bengkel Sastra yang terlaksana dalam musikalisasi puisi bagi siswa SMA dan SMK;
k) Lomba cipta dan baca puisi;
l) Pengikutsertaan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pemasyarakatan penggunaan bahasa Indonesia;
(m) Pengembangan bahan ajar dengan pendekatan terpadu yakni menyimak, membaca, berbicara, dan menulis yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan metodologi pengajaran bahasa baik bahasa Indonesia, bahasa daerah maupun bahasa asing; dan
(n) Pembentukan Institusi Pusat Bahasa di Provinsi Maluku;
Dalam pada itu, Pemerintah Daerah Provinsi Maluku juga me-lakukan upaya pengembangan bahasa daerah, yakni upaya meningkat-kan mutu bahasa agar dapat dipakai untuk berbagai keperluan dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan mengacu pada politik bahasa nasional yang telah ditetapkan pada tingkat pusat (dalam hal ini oleh Pusat Bahasa), upaya pengembangan itu, antara lain, meliputi penelitian, pembakuan, dan pemeliharaan.
Strategi …
Peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia di Provinsi Maluku dilakukan melalui kegiatan (a) pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (b) pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan perkembangan metodologi pengajaran bahasa, (c) pengembangan tenaga kependidikan kebahasaan yang profesional, (d) pengembangan sarana pendidikan bahasa yang memadai, dan (e) kewajiban penggunaan bahasa indonesia sebagai bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan baik pendidikan formal, nonformal maupun informal.
Agar sejalan dengan kebijakan bahasa nasional, Pemerintah Daerah Provinsi Maluku juga sudah melaksanakan dan sedang merencanakan melakukan program pemasyarakatan bahasa Indonesia melalui kegiatan (a) Seminar Bahasa Indonesia dalam rangka membangkitkan minat generasi muda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menjadikan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa Indonesia; (b) Pemilihan Duta Bahasa Indonesia; (c) Penyuluhan bahasa pegawai dan guru non bahasa Indonesia sehingga mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berbagai kesempatan; (d) Diklat penulisan musikalisasi puisi kerjasama dengan pusat bahasa Depdiknas; (e) Bengkel Sastra yang terlaksana dalam musikalisasi puisi bagi siswa SMA dan SMK; (f) Lomba cipta dan baca puisi; (g) pengikutsertaan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pemasyarakatan penggunaan bahasa Indonesia.
Dalam pada itu, Pemerintah Daerah Provinsi Maluku juga melakukan upaya pengembangan bahasa daerah, yakni upaya me-ningkatkan mutu bahasa agar dapat dipakai untuk berbagai keperluan dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan mengacu pada politik bahasa nasional yang telah ditetapkan pada tingkat pusat (dalam hal ini oleh Pusat Bahasa), upaya pengembangan itu, antara lain, meliputi penelitian, pembakuan, dan pemeliharaan.

UPAYA PENINaGKATAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA DI AMERIKA SERIKAT

UPAYA PENINaGKATAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA
DI AMERIKA SERIKAT
Dr. Marmo Soemarmo
President COTIM, Ohio University
Laporan tentang Upaya Peningkatan Pengajaran Bahasa Indonesia di Amerika Serikat terdiri dari dua bagian:
A. Kesempatan untuk Belajar Bahasa Indonesia
B. Peningkatan Pengajaran
A. Kesempatan untuk Belajar Bahasa Indonesia Usaha untuk memberi kesempatan mahasiswa Amerika untuk belajar Bahasa Indonesia terdiri dari:
1. Pelajpkins University dan Columbia University:
i. Arizona State University
ii. Cornell University
iii. Northern Illinois University
iv. Ohio University
v. University of California at Berkeley
vi. University of California at Los Angeles
vii. University of Hawai’i
viii. University of Michigan
ix. University of Washington
x. University of Wisconsin-Madison
xi. Yale University
xii. University of Colorado at Boulder
2. Pelajaran intensif di Amerika:
i. SEASSI: http://seassi.wisc.edu/General%20Information/index.htm – diadakan tiap musim panas (Summer) di University of Wisconsin – Madison.
3. Pelajaran intensif di Indonesia:
i. COTIM: http://www.ohiou.edu/COTIM/. Program ini sudah berjalan selama 32 tahun. Dana didapat dari pemerintah Amerika dan Fulbright. Program ini program intensif (9 minggu, 5 jam sehari). Mahasiswa tinggal di keluarga asuh dan disamping belajar bahasa, mereka juga belajar kebudayaan dan tugas lapangan. Dana untuk empat tahun lagi (2008-2012) sudah dihadiahkan. Mulai tahun ini program ini diadakan di UKSW Salatiga. Sebelum tahun ini, di UNSRAT, Manado.
ii. PIBBI–Salatiga: http://www.geocities.com/pibbiid/. “PIBBI, commonly known as The Salatiga Program, is a high quality intensive Indonesian language and culture program offering courses at the campus of Satya Wacana Christian University in Salatiga, …” = “PIBBI, terkenal dengan nama Program Salatiga, adalah program intensif tingkat tinggi untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga …”
iii. USINDO: http://usindo.org/. “The United States-Indonesia Society is dedicated to expanding understanding of Indonesia and of the importance of the United States-Indonesia relationship. … Despite its great importance, most Americans know little about Indonesia.” = USINDO (The United States-Indonesia Society) membaktikan tujuannya untuk memperluas pengetahuan tentang Indonesia dan mutu perhubungan antara Amerika dan Indo-nesia. Meskipun pentingnya daerah ini kebanyakan orang Amerika hanya tahu sedikit atau tidak tahu tentang Indonesia”
4. Bahasa Indonesia sebagai “Critical Language”: Homeland Security Administration menentukan bahasa apa yang dianggap “critical”. Tahun ini kami diberi tahu bahwa Bahasa Indonesia dimasukkan sebagai “critical” language. Mudah-mudahan pergantian ini akan menambah bea siswa untuk belajar Bahasa Indonesia.
i. Fulbright Critical Language Enhancement Award : http:// us.fulbrightonline.org/language_crit.html ii. Staffing and Foreign Language Shortfalls Persist Despite Initiatives to Address Gaps: http://www.gao.gov/new.items/d06894.pdf
5. Beasiswa dari pemerintah Indonesia: Beasiswa dari Konsulat Indonesia pernah ada, tetapi sudah beberapa tahun ini tidak ada lagi. Mahasiswa yang ingin belajar Bahasa Indonesia masih memerlukan bantuan, meskipun mereka dapat bea siswa dari COTIM.
6. Pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar: bahasa Jepang dan Cina sudah mulai diajarkan di sekolah dasar, tetapi usaha untuk mengajar Bahasa Indonesia belum ada.
7. Pelajaran Jarak Jauh (Distance Learning): Tiga universitas akan melancurkan pelajaran bahasa Indonesia jarak jauh: Cornell University, Ohio Univesrity, dan Unviversity of Michigan.
B. Peningkatan Pengajaran
1. Pengaruh jumlah mahasiswa dan nilai metode pengajaran: Seperti yang dilaporkan di konperensi BIPA tahun 2007, jumlah mahasiswa yang belajar Bahasa Indonesia turun. Yang ironis ialah bahwa karena rasio antara mahasiswa dan pengajar turun, jadi dipandang dari metode pengajaran, mutu pengajaran naik.
2. Pendidikan Guru Bahasa Indonesia di Amerika Serikat: Sampai sekarang belum ada institusi di Amerika yang mendidik guru Bahasa Indonesia. Hampir semua pengajar Bahasa Indonesia mempunyai pengalaman mengajar Bahasa Indonesia and belajar atau sudah mendapat gelar MA di bidang TESOL (Teaching English for Speakers of Other Languages) atau Language Acquisition. Institusi juga biasanya memberi lokakarya cara mengajar yang modern. Program seperti COTSEAL (The Council of Teachers of Southeast Asian Languages –. http://cotseal.org/) juga sering memberi lokakarya untuk pengajar bahasa-bahasa Asia Tenggara.
3. Pemakaian Teknologi:
i. Situs yang sangat berguna sebagi sumber bahan pengajaran adalah:
1. Nothern Illinois University: http://www.seasite.niu.edu/ Indonesian/
2. University ot Hawaii: http://www.hawaii.edu/indolang/reader/
ii. Program yang dipaki untuk menyokong pengajaran:
1. Blackboard: program ini dipakai untuk menyebarkan bahan pengajaran, pekerjaan rumah, komunikasi dengan pengajar dan pelajar, dan test.
2. WordSmith: program ini dapat dipakai untuk menganalisa bahan tertulis – contoh disajikan dibawah.
3. Permainan Bahasa (Language Games): program ini diciptakan oleh pemakalah ini dan dipakai untuk mencitakan bermacam-macam latihan. Sudah dipakai untuk pengjaran bahasa Jepang, Cina, dan Spanyol (Soemarmo (2008). Contoh dalam bahasa Indonesia akan didemonstrasikan.
4. Pelajaran JavaScript diciptakan oleh pemakalah ini bagi pengajar yang ingin menciptakan bahan online yang interaktif. (Soemarmo, 2000).
4. Bahan Pelajaran: disamping buku pengajaran, bahan yang asli (atentik) diambil dari media (radio, rekaman, TV, surat kabar, dan sebagainya.)
5. Profisiensi dan Metode Pengajaran:
i. Saran untuk memakai bahan untuk menentukan pro-fisiensi dianjurkan oleh tim COTIM dan dicoba di UKSW Salatiga tahun ini. Projek ini dipimpim oleh Dr. A. Rafferty dari University of Wisconsin, Madison. Pada dasarnya, pelajar diminta untuk menceritakan apa yang dilihat digambar yang disajikan. Dengan memakai “ACTFL Proficiency Guidelines” (http://www.actfl.org/i4a/pages/index.cfm?pageid=1) tingkat profisiensi dapat ditentukan.
ii. Kontektual Deduktif Tata Bahasa: Membuat deduksi dari suatu kata dan konteksnya. Dengan program WordSmith Tools (Scott, Mike. 2008), bahan tertulis dapat dianalisa untuk menentukan frekwensi tiap kata (contoh terlampir) dan untuk menentukan konkordinasi (concordance). Dari daftar kata ini, mahasiswa dan pengajar dapat membicarakan bentuk dan kata kunci (key word) di bacaan tersebut. Dari konkordensi suatu kata mahasiswa dapat mempelajari konteks kata dan menentukan (secara deduktif) bentuk dan pemakain kata tersebut sehingga dapat membuat kalimat baru dengan kata itu. Metode ini sering dipakai dipelejaran Bahasa Inggris untuk penutur asing dan dicoba di COTIM untuk pelajaran Kosakata dan Tata Bahasa Indonesia. Mahasiswa menyaksikan salah satu video dari Soemarmo (2004). Berdasarkan atas anjuran Celce-Murcia (2000), Moder dan Martinovic-Zic (eds. 2004) pelajar harus dibimbing dalam membuat kalimat dengan memperhatikan pilihan kata (Lumintaintang, Indiyastini, dan Kurniawati. 1998), memperhatikan kohesi dan topic (Soemarmo, 1971; Suladi, Non Martis, Titik Indiyastini, 2000; Unger, 2006; Wolf danGibson, 2006). Karena kecerundungan persepsi terpilih (selective perception – Mantero, 2002), pelajar harus dibimbing untuk memperhatikan latar belakang (background) dan perincian (details) dari apa yang dilihat dan didengar. Dengan demikian, pelajar dapat mencapai profisiensi tertentu, menurut ACTFL “Proficiency Guidelines.”
3 September 2008
DAFTAR PUSTAKA
• ACTFL Proficiency Guidelines (http://www.actfl.org/i4a/pages/index.cfm?pageid=1)
• Celce-Murcia, Marianne. 2000. Discourse and context in language teaching : a guide for language teachers. Cambridge, UK ; New York : Cambridge University Press.
• Mantero, Miguel. 2002. The reasons we speak : cognition and discourse in the second language classroom. Westport, Conn. : Bergin & Garvey.
• Moder, Carol Lynn, Aida Martinovic-Zic (eds.) 2004. Discourse across languages and cultures. Amsterdam ; Philadelphia : John Benjamins Pub.
• Richard McGinn ,James Coady, Marmo Soemarmo (eds.) 1998. Studies in Austronesian linguistics. Athens, Ohio : Ohio University Center for International Studies, Center for Southeast Asian Studies.
• Scott, Mike. 2008. WordSmith Tools. http://www.lexically.net/wordsmith/
• Soemarmo, Marmo. 2000. Creating Interactive Exercises on the Web.
• Soemarmo, Marmo. 2004. Bahasa Indonesia / [electronic resource] / courseware developer and project director, Marmo Soemarmo ; content writers, Suharni Soemarmo. Distance Learning Projects, Department of Linguistics, Ohio University.
• Soemarmo, Marmo. 2008. Marmo Soemarmo’s Word Game Construction Set. Bahasa Indonesia. http://www.ohiou.edu/dlcds/jsgames2002/.
• Soemarmo. 1971. Subject-Predicate, Focus-Presupposition, and Topic- Comment in Bahasa Indonesia and Javanese. UCLA: Department of Linguistics.
• Soemarmo. 1997. Syntactic And Semantic Well-Formedness. Jakarta: NUSA, pp. 19-26.
• Suladi, Non Martis, Titik Indiyastini. 2000. Kohesi dalam media massa cetak bahasa Indonesia : studi kasus tentang berita utama dan tajuk. Jakarta : Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.
• Unger, Christoph. 2006. Genre, relevance and global coherence : the pragmatics of discourse type. Basingstoke [England] ; New York : Palgrave Macmillan.
• Wolf, Florian and Edward Gibson. 2006. Coherence in natural language : data structures and applications. Cambridge, Mass. : MIT Press.
• Yayah B. Lumintaintang, Titik Indiyastini, Wati Kurniawati. 1998. Bahasa Indonesia ragam lisan fungsional : bentuk dan pilihan kata. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

PENELUSURAN PERKEMBANGAN PENGKAJIAN NASKAH MELAYU

PENELUSURAN PERKEMBANGAN PENGKAJIAN
NASKAH MELAYU
Dr. Mu’jizah
Pusat Bahasa
1. Pengantar
Tradisi tulis dalam bahasa Melayu yang paling awal ditemukan pada beberapa prasasti, di antaranya Prasasti Telaga Batu (sekitar 686 M) yang teks dan terjemahannya diterbitkan oleh De Casparis (1956:1—46) dan beberapa prasasti Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7. Selain pada prasasti, tradisi tulis dalam bahasa Melayu juga ditemukan dalam produk budaya lain, yaitu naskah (manuscript). Selama ini, naskah tertua dalam khazanah pernaskahan Melayu adalah Hikayat Sri Rama, tahun 1633 (naskah Laud). Namun, pada tahun 2006 Uli Kozok menemukan naskah Melayu yang lebih tua di Kerinci, Kitab Tanjung Tanah, yang berasal dari abad ke-14 (sekitar 1304—1436 Masehi). Pembuktian itu dilakukan dengan penelitian radio-carbon. Dalam naskah itu ada dua halaman ditulis dalam jenis aksara Melayu Tengah (Kozok, 2006).
Naskah Melayu sebagian besar ditulis dalam aksara Jawi atau yang dikenal dengan huruf Arab gndul yang terdiri atas 29 abjad Arab dan 5abjad tambahan. Aksara itu merupakan turunan dari aksara Arab yang mulai dikenal di Nusantara dengan masuknya agama Islam. Menurut Shellabear (1901), orang Melayu menerima sistem tulisan Jawi ini secara langsung dari orang Arab. Bahkan, ada pakar lain yang mengatakan bahwa aksara Arab diperkenalkan ke Indonesia langsung dari India atau Parsi.
Dalam khazanah naskah Nusantara, jumlah naskah Melayu merupakan karya terbesar kedua setelah naskah Jawa. Naskah ini sangat kaya dengan berbagai pengetahuan, seperti hukum, agama, sejarah, adat, obat-obatan, dan sastra. Naskah Melayu tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Aceh, Riau, Lingga, Jambi, Kerinci, Palembang, Minangkabau, Betawi, Bima, Pontianak, Mempawah, dan Banjarmasin. Bahkan, jenis naskah tertentu yang ditulis dalam bahasa Melayu terdapat di beberapa daerah yang berbahasa ibu bukan bukan Melayu. Kekayaan naskah tersebut sudahbanyak dikaji oleh pakar pernaskahan baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam makalah ini penelusuran pengkajian dilakukan untuk melihat perkembangannya sebab kajian ini merupakan awal kajian sastra akademik yang sudah mapan.
2. Khazanah Naskah Melayu
Naskah Melayu yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia saat ini disimpan di berbagai lembaga, seperti museum daerah, Perpustakaan Nasional, yayasan-yayasan, pesantren, masjid, dan keluarga atau pemilik naskah. Di Perpustakaan Nasional koleksi naskah mencapai 9.626 yang ditulis dalam berbagai aksara dengan berbagai bahasa. Jumlah naskah Melayu sampai saat belum pernah pasti karena jumlah yang diajukan terus bertambah seiring dengan ditemukannya koleksi-koleksi baru dan jumlah itu juga terus berkurang karena banyak naskah yang rusak dan tidak terawat lagi.
Mengenai jumlah naskah Melayu, Ismail Husein (1974) pernah mengemukakan angka 5.000, Chambert-Loir (1980) mengemukakan angka 4.000, dan Russel Jones sampai pada angka 10.000 (Mulyadi, 1994). Sampai saat ini naskah-naskah tersebut disimpan di 29 negara, yakni (1) Afrika Selatan, (2) Amerika, (3) Austria, (4) Australia, (5) Belanda, (6) Belgia, (7) Brunei, (8) Ceko-Slovakia, (9) Denmark, (10) Hongaria, (11) India, (12) Indonesia, (13) Inggris, (14) Irlandia, (15) Italia, (16) Jerman Barat, (17) Jerman Timur, (18) Malaysia, (19) Mesir, (20) Norwegia, (21) Polandia, (22) Perancis, (23) Rusia, (24) Singapura, (25) Spanyol, (26) Srilangka, (27) Swedia, (28) Swiss, dan (29) Thailand (Chambert-Loir, 1999).
Naskah Melayu yang begitu besar jumlahnya dan sangat tersebar penyimpanannya itu harus segera ditangani dengan berbagai program. Semakin lama naskah itu tidak ditangani akan semakin rapuh keadaannya, khususnya naskah yang menjadi koleksi pribadi (keluarga). Oleh sebab itu, kegiatan konservasi, digitalisasi, pengkajian, dan pemasyarakatan akan pentingnya warisan budaya ini menjadi prioritas utama. Jika naskah tersebut hilang atau rusak berarti hilang pula hasil pemikiran bangsa. Padahal kita tahu, di dalam naskah itu terdapat berbagai kekayaan pemikiran, seperti bahasa, sastra, sejarah, hukum dan adat, seni-budaya, agama, serta filsafat. Kurangnya penelitian dan sosialisasi akan pentingnya menjaga warisan budaya ini kepada masyarakat menyebabkan kurangnya penghargaan masyarakat
terhadap naskah. Bahkan, akhir-akhir ini mulai marak penjualan naskah, seperti yang dilaporkan Kompas pada pertengahan Maret 2006. Padahal kekayaan ini sangat penting untuk mengembangkan kebudayaan Indonesia.
3. Penelusuran Kajian Pernaskahan Melayu
Kajian terhadap naskah Nusantara, khususnya Melayu, dilakukan oleh para filolog yang bergelut dengan teks-teks lama. Perhatian terhadap teks-teks lama di Nusantara diawali oleh para pedagang dari Eropa yang tertarik dengan sebaran naskah (manuskrip) yang begitu banyak. Sementara itu, di Eropa naskah menjadi benda pusaka yang diperjual belikan. Oleh sebab itu, para pedagang ini mulai memasarkan naskah Nusantara dalam perdagangan benda pusaka di Eropa. Di antara nama para pedagang tersebut terdapat nama Peter Floris dan El Bink. Menurut catatan, El Bink yang pada tahun 1604 pernah tinggal di Aceh ini, banyak menjual naskah ke ahli orientalis dari Leiden yang bernama Erpenus (1624). Koleksi naskah dari tokoh ini banyak disimpan di Universitas Oxford. Perhatian terhadap naskah Nusantara semakin besar setelah Fredreik de Houtman pada tahun1603 menulis tentang bahasa dan cerita dari Melayu. Buku ini banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Inggris, dan Perancis.
Teks-teks lama di Indonesia pada tahun 1629 juga menjadi perhatian para penginjil dalam penyebaran agama. Mereka mengerjakan terjemahan alkitab ke dalam bahasa Melayu. Bahkan, di Belanda berdiri sebuah lembaga yang bernama Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG). Lembaga ini mengutus para penginjil ke Nusantara, misalnya J.V.C. Gerick 1824 yang diminta ke Jawa membantu pemerintah mengajarkan bahasa Jawa kepada para pegawai sipil Belanda. Kegiatan lembaga ini menyebar ke berbagai daerah lain, seperti Kalimantan dan Sumatra.
Perhatian ini menumbuhkan minat orang pada kajian ilmiah terhadap naskah-naskah dalam bahasa daerah tempat mereka ditugasi, misalnya H.N. van der Tuuk untuk naskah Batak dan Bali dan B.F. Mattes untuk naskah Bugis. Para peneliti itu belum melakukan kajian filologi; mereka hanya menerjemahkan naskah ke dalam bahasa asing, terutama Belanda.
Perhatian terhadap naskah Nusantara lebih jauh dilakukan oleh para peneliti Eropa, khususnya Belanda, dengan dibukanya pengajaran
bahasa-bahasa Nusantara yang diberikan kepada para calon pegawai dan pejabat Belanda yang akan dikirim ke Hindia-Belanda. Mereka dibekali pengetahuan bahasa, ilmu bumi, dan kebudayaan. Kuliah pertama kali diadakan di Breda (tahun 1836) dan di Delf (tahun 1842). Taco Roorda dan Roorda van Eysinga adalah para perintis yang kemudian diangkat sebagai guru besar. Pada akhirnya kuliah ini dipindahkan ke Fakultas Sastra Universitas Leiden, Belanda. Dari kegiatan ini kajian filologi terus berkembang, bahkan beberapa ahli dari Inggris juga memberikan perhatian khusus pada teks-teks klasik Nusantara, seperti John Leyden, R.O. Winstedt, dan dari Jerman, Hans Overbeck (Baried, dkk. 1994:50).
Pada tahap awal, kajian terhadap teks-teks Nusantara hanya terbatas pada suntingan. Berhubung tenaga penelitinya masih terbatas, teks-teks yang diambil kebanyakan dari naskah Jawa dan Melayu. Hasil suntingan mereka pun masih terbatas karena hanya berupa penyajian teks dalam huruf aslinya dan diberi pengantar pada bagian pendahuluan. Suntingan seperti ini di antaranya adalah Syair Bidasari oleh Van Hoevel (terbit 1849) dan Hikayat Sri Rama oleh Roorda van Eysinga (1845). Kajian berikutnya dilakukan terhadap Sejarah Melayu oleh John Leyden (1921). Dalam terbitan ini teks dialihaksarakan dan ditambahkan dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Suntingan yang serupa juga dilakukan oleh H. Over Beck (1922) Hikayat Hang Tuah dan A. Teeuw (1966) terhadap Hikayat Seribu Masalah
Dari para peneliti inilah kemudian berkembang berbagai penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Indonesia sejak tahun 1970-an. Kegiatan ini berawal dengan dikirimnya beberapa pengajar dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia yang belajar ke Eropa, khususnya Leiden dan London. Para pengajar tersebut di antara adalah Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Achadiati Ikram, Sulastin Sutrisno, Chamamah Suratno, dan Kuntara Wiryamartana.
Pakar tersebut sebagian besar memakai kajian filologi dengan mengambil teks Melayu; hanya pakar yang terakhir menggunakan teks Jawa. Kajian filologi ini bertujuan mengungkap informasi tentang situasi sosial budaya masa lampau suatu masyarakat yang tersimpan dalam peninggalan tulisan (naskah) yang ditulis ulang dan diturunkan dalam sebuah tradisi penyalinan. Tradisi ini mewujudkan naskah yang bermacam-macam dengan berbagai versi dan varian. Kajian ini sebagian besar berkembang di kalangan dunia akademik. Untukmenekuni bidang ini kita menghadapi tiga masalah besar, yakni (1) teks ditulis dalam aksara yang sudah jarang dikenal, (2) bahasanya arkais, dan (3) latar belakang teks yang berasal dari masa lampau.
Untuk mengkaji teks, peneliti harus lebih dahulu menempatkan teks pada zamannya. Padahal untuk mengetahui masa penulisan diperlukan pengkajian khusus sebab jarang sekali teks yang menyebutkan masa penulisannya. Namun, ada beberapa naskah yang menyertakan kolofon (catatan dalam teks yang berisi informasi tentang waktu, tempat, dan penyalin). Langkah lainnya adalah menempatkan teks di antara berbagai versi dan variannya. Telaah seperti ini menjadi kegiatan tersendiri yang dalam filologi disebut kritik teks. Kritik teks merupakan pekerjaan penting yang harus dilakukan oleh seorang filolog dalam membuat sebuah edisi karena kritik ini bertujuan menilai mutu suatu teks. Melalui kritik teks ini dapat ditelusur kembali suatu teks ke dalam bentuknya yang asli, yakni teks yang mendekati teks yang dulu ditulis oleh pengarangnya. Konsep ini masih terus dianut dalam filologi tradisional. Berbagai teks sejenis disusun genealoginya dengan suatu metode yang disebut stemma, suatu metode yang bertujuan mendekati teks aslinya melalui perbandingan. Asumsi dasar metode ini adalah bahwa teks disalin satu demi satu dan berbagai kesalahan terjadi dalam tradisi penurunannya (Robson, 1978:37).
Untuk memulai kegiatan itu, dalam kajian filologi ada beberapa langkah kerja yang harus dilakukan, yakni inventarisasi naskah. Dalam inventarisasi ini, teks yang menjadi objek kajian harus diperiksa dalam berbagai koleksi. Untuk itu, katalog naskah menjadi acuan penting. Berbagai katalog naskah Melayu yang pernah diterbitkan di antaranya adalah koleksi Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscripts yang disusun oleh Wieringa (1998 dan 2007), Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (1977) oleh Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve, Katalog Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat (1972) oleh Sutaarga dkk yang diperbaharui oleh Behrend (1998) Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara. Berbagai katalog dalam koleksi naskah di negara lain, seperti Jerman dan Perancis, juga pernah disusun oleh Wan Ali Wan Mamat. Di samping itu, beberapa katalog dalam koleksi masyarakat juga akhir-akhir ini mulai banyak diterbitkan, di antaranya Katalog Naskah Buton, Katalog Naskah Palembang, danKatalog Naskah Aceh yang disusun oleh tim dari Yanassa dan Manassa yang bekerja sama dengan Toyota Foundations dan TUFS, Jepang.
Setelah teks yang menjadi objek kajian didaftarkan dengan menyebutkan tempat penyimpanannya, naskah-naskah tersebut ke-mudian dideskripsi dengan rinci. Langkah selanjutnya adalah perbandingan naskah. Perbandingan ini dilakukan dengan melihat berbagai aspek seperti tulisan, isi, dan bahasa. Dalam perbandingan ini kadangkala ada beberapa naskah yang dieliminasi dan hanya naskah yang dianggap ”bermutu” akan dipakai untuk kajian berikutnya. Setelah ditemukan teks yang “bermutu”, kemudian dibuatlah suatu suntingan (edisi). Dalam penyuntingaini terdapat dua metode yang diperkenalkan dalam filologi, yakni (1) metode edisi diplomatik dan (2) metode edisi kritis (standar). Dalam sebuah edisi biasanya dibuat juga terjemahan dalam bahasa Indonesia jika teksnya memakai bahasa daerah. Bahkan, para penelaah asing biasanya membuat terjemahan ke dalam Inggris atau Belanda. Penerjemahan ini dilakukan semata-mata agar teks dapat dibaca, dipahami, dan dinikmati khalayak pembaca sebab edisi ini merupakan pintu gerbang bagi para peneliti dari disiplin ilmu lain untuk menggali berbagai hasil pemikiran yang terkandung di dalamnya.
Dalam perkembangan studi filologi, konsep teks asli yang paling bermutu mulai beralih dengan munculnya penganut filologi modern yang beranggapan bahwa setiap teks mempunyai nilainya sendiri karena teks tersebut mewakili zamannya; sebuah teks dihasilkan oleh suatu masyarakat pada suatu masa tertentu dengan kekhasannya. Dengan anggapan ini, pilihan teks yang akan disunting bukan hanya pada teks yang paling tua (mendekati aslinya), tetapi disesuaikan dengan tujuan sang peneliti. Dengan munculnya anggapan ini, kajian filologi berkembang pesat. Berbagai edisi naskah tunggal (codex unicus) banyak diterbitkan.
Suntingan dengan kritik teks terhadap naskah Melayu mulai banyak dilakukan pada abad ke-20. Suntingan dengan mencari teks yang mendekati aslinya dilakukan oleh A. Teeuw (1966) terhadap Hikayat Seribu Masail dan Shair Ken Tambuhan dan J.J. Ras (1968) terhadap Hikayat Bandjar dan Kota Waringin. Dalam telaahnya Ras meneliti kurang lebih sekitar 18 naskah Banjar yang terdapat dalam berbagai koleksi, Perpustakaan Nasional, Jakarta (8 naskah), Universitas Leiden, Belanda (3 naskah), Perpustakaan KITLV (1naskah), Milik Prof. G. F. Pijfer (1 naskah), milik Prof. A. Cense (1 naskah), Universitas Tubingan, Jerman Barat (1 naskah), British Museum dan Perpustakaan John Ryland, London, Inggris (masing-masing 1 naskah). Naskah-naskah tersebut dikelompokkan menjadi dua yang disebutnya dengan resensi 1 dan resensi 2, kemudian kedua resensi itu dibandingkan. Berdasarkan perbandingan itu, Ras menemukan bahwa pada dasarnya kedua resensi itu sama, tetapi juga berbeda. Resensi 1 lebih ringkas dan gaya bahasanya lebih sederhana dan jelas, sedangkan resensi 2 mempunyai gaya bahasa yang bertele-tele.
Menurut Ras, mungkin naskah-naskah yang termasuk dalam resensi 1 berasal dari istana karena resensi ini memberikan perhatian khusus pada lukisan, adat dan istiadat istana dan pemerintahan, sedangkan yang lainnya tidak. Perbedaan lainnya, resensi 1 dimulai dengan masuknya raja-raja dan keturunannya ke dalam agama Islam, dan resensi 2 cerita berakhir dengan masuknya Islam ke Banjar.
Pada masa itu, teks sejarah juga mulai menjadi perhatian, yaitu dengan diterbitkannya De Hikajat Atjeh oleh Teuku Iskandar (1959), demikian pula dengan sastra kitab yang ditelaah oleh Naguib al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri (1970).
Pada tahun-tahun berikutnya telaah naskah tidak lagi hanya berisi kritik teks dan suntingan atau edisi teks, tetapi ditambah dengan kajian isi. Kajian ini muncul karena peneliti berkeinginan untuk memahami makna teks. Keinginan ini merupakan perkembangan baru dalam telaah filologi karena beberapa penelaah mulai menggunakan pendekatan sastra. Misalnya, Achadiati Ikram (1980) terhadap Hikayat Sri Rama dan telaah Edwar Djamaris (1999) terhadap Tambo Minangkabau menggunakan metode struktural. Dalam penelitian Hikayat Sri Rama terungkap bahwa pesan dan amanat tentang raja ideal memiliki tujuh sifat utama. Hal itu ditunjang oleh penokohan, alur, dan latar yang menonjolkan sifat-sifat tersebut menjadi karya yang utuh. Dalam Tambo Minangkabau terungkap bahwa pesan atau amanat dibangun dalam struktur tema, tokoh, latar, dan alur yang keseluruhannya mengarah pada amanat bahwa masyarakat Minangkabau didasari oleh kerukunan dalam masyarakat, yakni nilai desa dan keislaman (masjid).
Pandangan sastra sejarah sebagai fairy tales sudah tidak berlaku lagi, seperti yang dikatakan Hoesein Djajadiningrat dalam Sejarah
Banten. Berbagai telaah yang mengangkat sastra sejarah (historiografi) terus dilakukan dan kritik teks yang cermat juga dikembangkan. Penelitian Chambert-Loir merupakan salah satu contoh. Dia berusaha mengungkap sejarah Bima dengan menelaah beberapa teks, yaitu(1) Syair Kerajaan Bima,(1982), Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, (1985) dan Bo’ Sangaji Kai (1999). Bo’ Sangaji Kai merupakan buku catatan harian Kerajaan Bima yang berisi berbagai hal, sistem pemerintahan kerajaan Bima, silsilah keluarga, hukum, hubungan diplomasi, dan berbagai salinan akte yang disahkan Raja Bima. Semua catatan itu disusun secara kronologis dan lengkap dengan pencantuman tanggal peristiwanya. Dalam kajian ini Chambert-Loir membandingkan naskah Yayasan Museum Sampuraja dengan naskah milik Held.
Sampai saat ini berbagai kajian terhadap naskah-naskah Melayu terus dilakukan di berbagai lembaga akademis dan lembaga penelitian. Hasilnya juga terus diterbitkan oleh berbagai lembaga, di antaranya KITLV dan EFEO, serta lembaga lain di Indonesia. Berturut-turut telah terbit Shair Sinyor Kosta (2004) oleh A. Teeuw dkk, Syair Bidasari (2005) oleh Julian Millie, dan Istiadat Butun oleh Achadiati Ikram (2005), Martabat Tujuh (2006) oleh Mu’jizah, dan Karya lengkap Abdullah oleh Amin Sweeney (2006), dan Karya Lengkap Abdullah bin Muahmmad Al-Misri (2008) oleh Monique Lajoubert.
Akhir-akhir ini penelitian filologi juga diperkaya dengan penelitian kodikologi, yaitu ilmu yang mempelajari naskah (codex). Mulyadi (1994) mengatakan “daerah” kajian kodikologi, antara lain, sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian tempat-tempat penyalinan, penyusunan katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan naskah. Penelitian seperti ini di Indonesia baru dimulai, beberapa penelitian tentang tempat-tempat (scriptorium) penyalinan mulai dilakukan, misalnya penyalinan naskah Merbabu-Merapi oleh Wiryamartana, van der Molen, dan Kartika (1999); naskah Bali oleh H.I.R Hinzler (1993); naskah Jawa oleh T.E. Behrend (1999); naskah Betawi oleh Teuku Iskandar, Chambert-Loir, Dewaki Kramadibrata, dan Maria Indra Rukmi; naskah-naskah Riau oleh UU Hamidi, Ding Choo Ming, Virginia Matheson, dan Mu’jizah.
Dalam penelitian ini berbagai aspek yang berkaitan dengan sejarah naskah dan teks diungkap. Bahkan, keindahan visual pada naskah-naskah bergambar pun mulai dikaji. Dalam penelitian ini
keindahan gambar dalam naskah Melayu mulai dikumpulkan dan diperkenalkan kepada masyarakat; kajian tersebut di antaranya dilakukan oleh Gallop dan Arps (1991), Gallop (1994), Janson Aan dkk (1995), dan Mu’jizah (1992, 2002, 2005). Keindahan seni dalam naskah Jawa diteliti oleh Tim Behrend (1999) dan Sakti Mulya (1996) dan prasi Bali oleh Suparta. Telaah seperti ini diperkaya lagi dengan terbitnya buku Illuminations yang disunting oleh Ann Kumar dan McGlynn (1994). Dalam buku itu berbagai keindahan naskah Nusantara digambarkan dengan sangat baik.
Telaah-telaah yang disebutkan di atas sebagian besar masih dilakukan oleh para akademisi dan peneliti. Pembaca mereka juga berasal dari kalangan khusus, bukan khalayak umum. Akankah telaah seperti ini terus menjadi kegiatan para akademisi, bisakah telaah seperti ini lebih dimasyarakatkan? Berbagai usaha untuk memasyarakatkan kajian teks telah dilakukan, tetapi kelihatannya usaha itu belum berkembang jauh dan masih berjalan di tempat.
Pengalihan pengetahuan dalam kajian filologi terus dilakukan, terutama di universitas-universitas yang membuka program filologi. Namun, hasilnya juga kurang menggembirakan. Mahasiswa yang memilih studi ini sebagai bahan skripsi, tesis, dan disertasi semakin kurang. Berbagai bantuan atau beasiswa untuk studi ini agak membantu, tetapi tidak selamanya bantuan itu dapat berlangsung. Misalnya, Program Penggalakan Tradisi Tulis Nusantara, Universitas Indonesia, Yayasan Naskah Nusantara, The Ford Foundation, yang pada masa lalu giat memberikan beasiswa sejak tahun 2000 mulai tersendat karena dana yang semakin menipis. Kegiatan ini sebenarnya sangat mulia karena bertujuan merangsang dan mendorong minat para peneliti muda untuk mengkaji berbagai khazanah pemikiran masa lalu.
Meskipun begitu, berbagai terbitan teks klasik terus bermunculan. Berbagai suntingan yang mengambil teks tunggal (codex unicus) diterbitkan. Pada tahun 1993 terbit dua edisi faksimile, yakni Hikayat Isma Yatim yang disunting oleh Ismail dan Mukhtasar Tawarikh al-Wusta oleh Roger Toll dan Jan Just Wirkam. Untuk mengetahui berbagai suntingan yang pernah dilakukan, pada tahun 1999 Edi S. Ekadjati dkk. menyusun buku Direktori Edisi Naskah Nusantara. Selain kajian di atas, berbagai tulisan ringkas dalam beberapa jurnal masih terus berlangsung. Namun, jumlah jurnal juga belum banyak bertambah. Sampai kini kita hanya menemukan jurnal
BKI (Belanda), JMBRAS (Inggris), Archipel (Perancis), ditambah dengan Jurnal Filologi (Malaysia), Wacana dan Lektur (Indonesia).
DAFTAR PUSTAKA
Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Behrend, T.E. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.
——. 1993. “Manuscript Production in Nineteenth-Century Java, Codicology and the Writing of Javanese Literary History. Dalam BKI, 149. hlm.408—435.
——. 2005. “Frontispiece Architecture in Ngayogyakarta. Dalam Archipel, 69, hlm.42—59.
Chambert-Loir , Henri dan Siti Maryam R. Salahuddin. 1999. Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima. Jakarta : EFEO dan Yayasan Obor Indonesia.
——. 1999. Khazanah Naskah : Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Jakarta : EFEO-Yayasan Obor Indonesia.
Djamaris, Edwar. 1991. Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka.
Gallop, Annabel Teh dan Bernard Arps. 1991. Golden Letters: Writing Traditions of Indonesia;Surat Emas: Budaya Tulis di Indonesia. Jakarta: Yayasan Lontar.
—–. 1994. The Legacy of the Malay Letter. London: The British Library.
—–. 2002. “Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia”. Disertasi Universitas London.
Ikram, Achadiati. 1980. Hikayat Sri Rama: Suntingan Maskah disertai Telaah Amanat dan Struktur. Jakarta: UI Press.
Kozok, Uli. 2006. Kitab Undang-Undang Tandjung Tanah. Jakarta: Yayasan Obor
Mu’jizah. 2005. Martabat Tujuh: Pemaknaan Tanda, Simbol, dan Makna. Jakarta: Djambatan.
——- 2006. ”Surat Melayu Beriluminasi Raja Nusantara dan pemerintah Hindia-Belanda Abad XVII–XVIII”. Disertasi FIB-UI.
Mulyadi, Rujiati. 1994. Kodikologi Melayu di Indonesia. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve. 1977. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. London: Oxford University Press.
Robson, S.O. 1978. “Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional Indonesia”. Dalam Bahasa dan Sastra, No.6, IV. hlm. 3—48.
——. 1988. Principles of Indonesian Philology. Holland: Foris Publication Series.
Teeuw, A. dkk. 2004. A Merry Senshor in the Malay World Four Texts of the Syair Sinyor Kosta. Leiden: KITLV.
Wiryamartana, I Kuntara. 1999. “The Scriptoria in the Merbabu Marapi Area”. Dalam BKI, 149, hlm. 504—509.
Zaini-Lajoubert, Monique, 2008. Abdullah bin Muhammad Al-Misri. Jakarta: EFEO-Komunitas Bambu.
DAFTAR KATALOG NASKAH MELAYU
Behrend, T.E. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.
Howard, Joseph. 1966. Malay Manuscripts: A Bibliographical Guide. Kuala Lumpur: Universuity of Malay Library
Fathurrahman, Oman dan Munawar Holil. 2006. Katalog Naskah Aceh. Jakarta: C-DATS
Ikram, Achadiati, dkk. 2004. Katalog Naskah Palembang. Tokyo: C-DATS.
—–. 1999. Katalog Naskah Buton. Jakarta: Manassa-Yayasan Obor Indonesia.
Juynboll, H.H. 1899. Catalogus van de Maleische en Sundaneesche Handschriften der Leidsche Universiteits-Bibliotheek. Leiden: E.J. Brill.
Mamat, Wan Ali Wan. 19.. Katalog Naskah Melayu di Perancis. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
—— Katalog Naskah Melayu di Jerman. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve. 1977. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. London: Oxford University Press.
Ronkel, Ph. S. Van. 1909. Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wettenschappen. Leiden: E.J. Brill.
—— 1929. Supplement-Catalogus der Malesche en Minangkabausche Handschriften in de Leidsche Universiteits-Bibliotheek. Leiden: E.J. Brill.
Sutaarga, Amir dkk. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wieringa, E.P. 1998. Catalog of Malay and Minangkabau Manuscripts in the Library of Leiden University and Other Collections in the Netherlands. Leiden: Legatum Warnerianum in Leiden University Library.

NASIONALISME DALAM NOVEL-NOVEL A. HASJMI

NASIONALISME DALAM NOVEL-NOVEL A. HASJMI
Wildan
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Nasionalisme baik sebagai suatu paham atau pun sebagai suatu pergerakan pembebasan tanah air adalah isu yang hangat terutama selepas Perang Dunia Kedua. Justeru, untuk bumi Aceh persoalan itu tidak pernah padam. Aceh adalah satu-satunya wilayah yang terakhir dicerobohi oleh kolonial Belanda, yaitu pada tahun 1873. Selepas Indonesia mencapai kemerdekaan, Aceh masih terus menjadi duri kepada pemerintah pusat Indonesia. Aceh terus menuntut otonomi mutlak. Keadaan ini menunjukkan bahwa nasionalisme di Aceh adalah suatu persoalan yang penting. Persoalan itu turut diungkap dan terungkap dalam karya sastera, lebih-lebih lagi dalam karya pengarang seperti A. Hasjmy, seorang pengarang terkenal dan prolifik di Aceh.
Karya sastera merupakan juru bicara suatu bangsa dalam membangkitkan semangat nasionalisme, sekaligus menjadi aspirasi bagi meletakkan harga diri dan kedaulatan bangsa. Faktor itu dikuatkan pula dengan penglibatan pengarangnya sendiri, baik pengalaman langsung maupun pengalaman tidak langsung, baik pengalaman masa kecil atau masa remaja sehinggalah mereka dewasa. Karya sastera merupakan rakaman peristiwa sejarah yang telah dialami atau dirasakan oleh pengarang. Demikian juga halnya dengan novel-novel A. Hasjmy yang ditulis sebelum kemerdekaan, yaitu sejak zaman Angkatan Pujangga Baru, melalui zaman kemerdekaan, dan sampai pada era pasca kemerdekaan. Persoalan kebangsaan yang dikandung dalam novel tersebut tentu merangkumi banyak aspek, yang merentasi waktu dan ruang yang panjang, yaitu sesuai dengan latar belakang kehidupan A. Hasjmy. Justeru, persoalannya adalah apakah persoalan kebangsaan yang direkabayangkan di dalam novel A. Hasjmy itu merefleksikan nasionalisme dalam bingkai ke-Indonesiaan atau nasionalisme ke-Acehan?
Masalah penelitian bertumpu kepada tiga hal, yaitu doktrin nasionalisme, misi nasionalisme, dan teknik penyampaian nasionalisme di dalam novel A. Hasjmy. Doktrin nasionalisme bermakna 1
nasionalisme sebagai idea, konsep, gagasan, pandangan, atau paham. Doktrin nasionalisme meliputi unsur otonomi, kesatuan, kesamaan, dan identitas. Bagaimanakah kewujudan idea, konsep, gagasan, pandangan, atau paham yang mencerminkan unsur-unsur tersebut dibayangkan di dalam novel-novel A. Hasjmy? Selanjutnya, misi nasionalisme ditakrifkan sebagai objektif atau tujuan yang hendak dicapai melalui nasionalisme itu. Bagaimanakah misi nasionalisme ini digambarkan di dalam novel-novel A. Hasjmy? Bagaimanakah pula cara A. Hasjmy membangunkan, menghidangkan, dan mengembangkan nasionalisme di dalam novel-novelnya itu? Teknik apakah yang digunakan oleh A. Hasjmy dalam merekabayangkan doktrin dan misi nasionalisme di dalam novel-novel tersebut?
Pengkajian terhadap karya sastera tidak boleh terlepas dari kewujudan pengarang. Dengan begitu, penelitian ini juga turut melihat hubung kait antara ketiga unsur di atas dengan latar kepengarangan. Sebagaimana yang diketahui, A. Hasjmy adalah pelaku sejarah pada zamannya. Karya-karyanya lahir dalam zaman penjajahan dan berterusan hingga zaman kemerdekaan. Karya-karya itu menyuarakan kehidupan masyarakat sejak zaman sebelum datangnya penjajah, merekam realiti masyarakat pada zaman penjajahan, dan merefleksikan suasana anak bangsa setelah Indonesia merdeka. Perkembangan konsep nasionalisme dalam karyanya yang merentas zaman tersebut belum mendapat apresiasi yang memadai dari masyarakat, sedangkan ia telah memperlihatkan sikap, pemikiran, dan keupayaan untuk kepentingan bangsa (Indonesia) dan etniknya (Aceh). Di samping itu, adanya pandangan yang saling bertentangan dalam hubungan Aceh-Indonesia di sepanjang sejarah turut mempengaruhi A. Hasjmy dalam melahirkan karyanya itu. Justeru, persoalan yang perlu dijawab adalah bagaimanakah gambaran hubung kait latar belakang kehidupan A. Hasjmy terhadap muatan nasionalisme di dalam novel-novelnya itu?
Penelitian ini bertujuan untuk melihat wajah nasionalisme yang dipegang oleh A. Hasjmy yaitu nasionalisme yang dapat menentukan posisi pengarang dalam perkaitan antara nasionalisme ke-Indonesiaan atau ke-Acehan. Untuk itu, sumber data penelitian adalah tujuh buah novel A. Hasjmy, yaitu Melalui Jalan Raya Dunia (MJRD, 1938), Bermandi Cahaya Bulan (BCB, 1939), Suara Azan dan Lonceng Gereja (SALG, 1940), Nona Pressroom (NP, 1951), Elly Gadis Nica (EGN, 1951), Meurah Djohan: Sultan Aceh Pertama (MJ, 1976), dan
2
Tanah Merah: Digul Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia (TM, 1976).
1.2 Kajian Pustaka
Penulis secara eklektik menggunakan konsep nasionalisme dari para sarjana seperti Benedict Anderson (1999 & 2002), Hans Kohn (1965), Anthony D. Smith (2001), K.R. Minogue (1967), John Breuilly (2005). Di samping itu, penulis juga berpedoman kepada beberapa pengkaji yang secara khusus meneliti nasionalisme Indonesia seperti Goerge M. Kahin (1995) dan Sartono Kartodirdjo (1993).
Secara etimologi, nasionalisme berasal dari nation ‘bangsa’. Menurut Anderson (1999), bangsa adalah suatu komunitas politik yang direkabayangkan (imagined community). Bangsa dikatakan sebagai sesuatu yang direkabayangkan karena para anggota bangsa itu sering tidak saling mengenal satu sama lain, tidak saling bersemuka, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar satu sama lain, meskipun dalam pikiran mereka hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka. Jadi, komunitas sejati itu tidak ada. Dalam kenyataan, semua komunitas adalah imaginatif.
Menurut Anderson (1999), nasionalisme hadir dalam pelbagai aspek seperti taman makam pahlawan, makam perajurit yang tidak dikenal dan cenotaph1, lagu kebangsaan, bendera nasional, kesamaan bahasa ibu, kesepahaman bahasa agama, pandangan-dunia tentang agama, gambar-gambar (ukiran, lukisan, atau sketsa), dan seterusnya. Hal-hal seperti inilah yang disebut sebagai akar-akar budaya nasionalisme. Dengan akar-akar budaya itulah direkabayangkan hal-hal yang bersifat imaginatif sehingga menjadi sangat nyata karena sifat audio-visualnya. Anderson menunjukkan dua bentuk pembayangan itu, yaitu novel dan surat khabar. Kedua wahana itu secara teknikal dapat menampilkan ’keterwakilan’ atau ‘mengkinikan kembali’ komunitas imaginatif yang disebut sebagai bangsa. Dengan itu, Anderson membuat kesimpulan bahwa nasionalisme merupakan sesuatu yang diciptakan dan ia memberi tinjauan terhadap masa silam sekaligus memberi bayangan terhadap masa depan.
1 Cenotaph adalah tugu peringatan bagi para tentara yang gugur dan dikuburkan di tempat lain.
3
Teori Anderson yang abstrak tersebut dijelaskan melalui tinjauan yang ringkas (1999:35-45) terhadap empat buah novel, yang kesemuanya menekankan perkara keserempakan (simultanitas) waktu bagi kelahiran komunitas imajinasi yang disebut bangsa itu. Pertama, novel Noli Me Tangere (1887) karya berbahasa Sepanyol ‘Bapak Nasionalisme Filipina’ Jose Rizal (lihat juga Anderson (2002:3). Melalui novel ini Anderson menunjukkan bahwa antara latar waktu ’interior’ novel dan waktu ’eksterior’ kehidupan nyata memberi citra hipnotik akan kepaduan sebuah komunitas tunggal, yang merangkul semua orang; watak (novel), penulis, maupun pembaca (Manila). Kedua, novel Pinagdaanang Buhay ni Florente at ni Laura sa Cahariang Albania (Kisah Florente dan Laura di Kerajaan Albania, 1861) karya berbahasa Tagalog oleh Francisco Balagtas. Kisah rekaan itu mengenai Florante, seorang laki-laki bangsawan Albania yang beragama Kristen dan sahabat karibnya Aladin, seorang ningrat Muslim dari Persia (’Moro’). Di sini, Anderson juga menunjukkan teknik bercerita Balagtas, yaitu berupa bait-bait kuatrin sebanyak 399, yang penyingkapan ceritanya tidak tunduk kepada urutan kronologis, melainkan in medias res, dalam serangkaian percakapan yang berfungsi sebagai kilas balik. Ketiga, novel El Periquillo Sarniento (Kakatua yang Gelisah, 1861) karya sastra Amerika Latin dari Jose Joaquin Fernandez de Lizardi. Melalui novel ini Anderson menunjukkan bahwa ’imajinasi nasional’ dalam lanskap sosiologi dilukiskan dengan memadukan dunia novel dengan dunia nyata. Ia berisikan dakwaan tajam atas pemerintahan kolonial Sepanyol di Meksiko, yang melahirkan kebodohan, tahyul, dan rasuah. Terakhir, novel Semarang Hitam (1924) karya berbahasa Indonesia dari Mas Marco Kartodikoro.2 Melalui novel itu Anderson menunjukkan bahwa fenomena sosial yang hadir melalui watak tidak bernama “laki-laki muda kita” boleh mewakili tubuh kolektif “orang-orang Indonesia” atau merujuk kepada ‘komunitas imajinatif’ Indonesia.
2 Mas Marco Kartodikromo (1890—1932) adalah nasionalis komunis Indonesia dan seorang jurnalis radikal, yang ditangkap dan dibuang ke Boven Digul, salah satu pusat tahanan pertama di dunia. Ia menjalani hukuman selama enam tahun sehingga ia meninggal. Lihat ulasan Anderson (1999:41)! Perihal kekejaman Boven Digul akan terlihat nyata dalam novel A. Hasjmy, TM.
4
Jauh sebelum itu Kohn (1965:9-10) telah menyatakan bahwa suatu bangsa memiliki faktor-faktor objektif tertentu yang membuat mereka itu berbeda dari bangsa lain, seperti persamaan keturunan, bahasa, daerah, kesatuan politik, adat-istiadat dan tradisi, atau agama. Tiada satu pun di antara faktor-faktor itu yang bersifat hakiki dalam merumuskan bangsa. Meskipun faktor-faktor itu penting, tetapi unsur terpenting ialah kemahuan bersama. Kemahuan inilah yang dinamakan nasionalisme, yaitu suatu paham atau doktrin yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu diserahkan kepada negara-bangsa. Kesetiaan itu berkembang dan meluas menjadi sentimen yang membentuk kehidupan masyarakat. Kesetiaan dan sentimen itu melahirkan gerak kesedaran dari anggota masyarakat untuk mengembangkan aktivitas-aktivitas dengan tujuan mendirikan sebuah negara yang berdaulat.
Selanjutnya, Smith (2001:5-9) memerikan definisi kerja nasionalisme sebagai suatu pergerakan ideologi untuk mencapai dan memelihara otonomi, kesatuan, dan identitas untuk suatu populasi yang sebahagian anggotanya mempertimbangkan untuk membuat satu “bangsa” yang nyata. Menurut Smith, perkara-perkara itulah yang menjadi doktrin nasionalisme. Otonomi nasional merupakan sesuatu yang berkaitan dengan upaya mengatur diri sendiri (self-regulation), menentukan nasib sendiri (self-determination), memiliki undang-undang dan aturan sendiri, mendengar suara batin sendiri, memiliki kebebasan dari segala tekanan asing, dan bebas dalam berpolitik. Otonomi nasional dapat berupa otonomi total, dalam bentuk negara berdaulat, atau otonomi parsial, dalam bentuk pemerintahan federal. Kesatuan nasional dapat berupa kesatuan wilayah, kesatuan bangsa secara sosial dan budaya. Kesatuan atau persatuan mencerminkan konsep dan proses integrasi berdasarkan kebersamaan (solidarity) nasional yang melampaui kebersamaan kedaerahan (local) dan etnik. Identitas nasional menunjukkan kesamaan di dalam suatu objek pada suatu waktu dan ketetapan suatu pola khas di dalam periode tertentu. Masing-masing bangsa memiliki kaitan dengan sejarah budaya yang khas, cara-cara khas dalam berpikir, bertindak, dan berkomunikasi yang menjadi milik bersama bagi semua anggota bangsa. Tugas para nasionalis, jika budaya khas itu hilang atau dilupakan, adalah menemukan kembali budaya cendekia yang unik dari bangsanya dan mengembalikan identitas budaya yang otentik bagi rakyat. Menurut
5
Smith, identitas nasional merupakan kesinambungan reproduksi dan penerjemahan kembali terhadap nilai, simbol, kenangan, mitos, dan tradisi yang membentuk warisan bangsa yang unik, serta identifikasi individu dengan pola dan warisan tersebut beserta unsur-unsur budayanya.
Sejalan dengan doktrin dari Smith di atas, Kartodirdjo (1993) mengemukakan lima prinsip nasionalisme, yaitu kesatuan (unity) dalam wilayah tanah air, bangsa, bahasa, ideologi dan doktrin kenegaraan, sistem politik atau pemerintahan, sistem perekonomian, sistem pertahanan-keamanan, dan polise kebudayaan; kebebasan (liberty, freedom, independence) dalam beragama, berbicara dan berpendapat secara lisan dan bertulis, berkelompok dan berorganisasi; kesamaan (equality) dalam kedudukan hukum, hak dan kewajiban, serta kesamaan kesempatan (oportunity); keperibadian (personality) dan identitas (identity): memiliki harga diri (self esteem), rasa bangga (pride) dan rasa sayang (devotion) terhadap keperibadian dan identitas bangsanya yang tumbuh dan sesuai dengan sejarah dan kebudayaannya; dan prestasi (achievement, performance): cita-cita untuk mewujudkan kesejahteraan (welfare) serta kebesaran dan kemuliaan (the greatness and the glorification) terhadap bangsa (lihat juga Daliman, 2001:12).
Dari huraian di atas jelaslah bahwa nasionalisme sebenarnya mengandung misi atau tujuan. Ia merupakan pandangan, perasaan, wawasan, sikap, sekaligus perilaku suatu bangsa yang terjalin karena persamaan sejarah, nasib dan tanggung jawab untuk hidup bersama-sama secara merdeka dan mandiri. Artinya, nasionalisme mengandung tujuan perjuangan suatu bangsa dan negara. Misi perjuangan yang terkandung dalam nasionalisme seseorang, bangsa atau negara berbeda atau sama dengan orang, bangsa atau negara lain. Para pejuang kemerdekaan Indonesia Raya seperti Soekarno dan Wahid Hasjim mengambil paham ini sebagai motivator perjuangan. Misi nasionalisme Soekarno berasaskan konsep nasakom (Yatim, 1985), yang berbeda dengan nasionalisme Wahid Hasjim yang lebih berorientasi kepada agama (Maskur, 1988). Organisasi pegerakan seperti Jong Java dan Jong Sumatranen Bond melihat bangsa berdasarkan kesamaan etnik, kesatuan budaya, dan kesamaan masa lalu sebagai asas nasionalisme mereka (van Miert 3003). Misi nasionalisme bangsa Indonesia secara umum dimaksudkan untuk menegakkan ideologi Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (Daliman, 2001).
6
Misi nasionalisme Indonesia seperti tersebut di atas berbeda dengan tujuan negara-bangsa lain. Misalnya, nasionalisme Malaysia lebih mengutamakan kesatuan antara pelbagai kaum guna pembentukan negara berdasarkan federalisme (Balasubramaniam, 1988). Contoh lain, nasionalisme Inggeris, Amerika, Perancis bertujuan untuk mencapai kebebasan (liberty). Namun, bentuk kebebasan yang diperjuangkan tidak sama sehingga memunculkan bentuk kebebasan yang berbeda. Inggeris memperjuangkan kebebasan individu sehingga wujud nasionalisme dengan konsep kebebasan individu (nastinalism with the concept of individual liberty), dan demikian juga Perancis dengan konsep kebebasan rasional (nationalism with the concept of rational liberty). Selain itu, Amerika dengan konsep kebebasan am (nationalism with the concept of public liberty), dan Jerman memperjuangkan kedaulatan di tangan rakyat dengan nasionalisme kerakyatan (nationalism with the concept of legal and rational citizentship)
Dengan berpandukan pada huraian di atas, maka dapatlah dipahami bahwa nasionalisme memperlihatkan pelbagai hal: nasionalisme sebagai sentimen atau perasaan, nasionalisme sebagai aksi atau pergerakan, dan nasionalisme sebagai gagasan atau idea atau doktrin (Breuilly, 2005:48). Dengan berpandukan cakupan makna nasionalisme yang telah dikemukakan oleh para pakar di atas, terutama idea-idea utama dari Smith dan prinsip nasionalisme dari Sartono Kartodirjo, untuk kepentingan penelitian ini, doktrin nasionalisme dibatasi pada empat unsur, yaitu otonomi, kesatuan, kesamaan, dan identitas. Keempat unsur doktrin itu sekaligus merangkum misi nasionalisme sebagai suatu gerakan kebangsaan yang memperlihatkan proses pembentukan atau pertumbuhan bangsa dan negara. Jadi, dari segi misi, nasionalisme bertujuan untuk mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemerdekaan, kemakmuran, dan kekuatan bangsa. Selain itu, sebagaimana dinyatakan oleh Anderson, nasionalisme juga dapat dinyatakan atau disampaikan melalui karya kreatif seperti novel. Justeru, nasionalisme dan sastra berkait rapat. Oleh karena itu, sastra dapat memberikan sumbangan yang besar dan memainkan peranan penting dalam usaha pembangunan sesuatu bangsa (Abdullah, 1995). Pengarang dan karya sastra berperanan dalam menyampaikan nasionalisme untuk kepentingan diri pengarang, bangsanya, dan negaranya, atau umat manusia umumnya. Cara penyampaian seseorang pengarang akan berbeda dengan orang 7
lain karena setiap pengarang memiliki cara yang khas atau teknik bersastra dengan gaya tersendiri.
2. Hasil Penelitian
2.1 Latar Kepengarangan A. Hasjmy
Berdasarkan latar kepengarangan dapat dipahami bahwa A. Hasjmy adalah seorang pengarang Aceh yang sangat terkenal dan prolifik. Beliau adalah sastrawan juga negarawan yang menjadi saksi dan pelaku sejarah sejak masa penjajahan sehingga selepas kemerdekaan Indonesia. Sebagai pengarang yang prolifik beliau menulis karya kreatif yang merefleksikan latar zaman dan latar belakang dirinya sendiri. Beliau merefleksikan semangat kebangsaan atau semangat kenegaraan dalam karya-karya kreatif itu. Semangat kebangsaan atau kenegaraan itulah yang disebut sebagai nasionalisme. Berdasarkan latar belakang itu tampak bahwa nasionalisme A. Hasjmy adalah nasionalisme Indonesia yang berasaskan ke-Acehan. Simbol ke-Acehan melatari upaya meraih cita-cita nasional Indonesia. Jadi, ke-Acehan beliau jadikan sebagai pangkal bertolak. Karya-karya beliau tidak lahir dalam kekosongan, melainkan dipersiapkan dengan saksama, baik berupa pengalaman A. Hasjmy sendiri, hasil pengamatan langsung, maupun hasil bacaan beliau terhadap literatur yang sesuai dengan tema karangan.
Secara kronologis, tahapan perkembangan kepengarangan A. Hasjmy dapat dibahagi dalam lima masa. Pertama, zaman penjajahan Belanda (1914—1942), yang merupakan masa penuh dinamika bagi A. Hasjmy untuk belajar agama dalam keluarga dan di sekolah, belajar berorganisasi dan berpolitik selama dua periode di Sumatera Barat, dan melahirkan lima buah novel, tiga puluhan cerpen, dan dua kumpulan puisi. Kedua, zaman penjajahan Jepun (1942—1945), yaitu zaman pematangan pengalaman berorganisasi bagi A. Hasjmy seperti organisasi keagamaan, organisasi kepanduan (pramuka), dan organisasi politik dan bawah tanah, serta bekerja sebagai guru, polisi, wartawan, dan pengarang sebuah novel. Ketiga, zaman revolusi (1945—1949), merupakan masa pematangan jiwa dan pikiran dan beliau lebih memberi perhatian kepada dunia kerja seperti wartawan, pegawai negeri, birokrat, anggota parlimen dan militer, serta menerbitkan sebuah kumpulan puisi. Keempat, akhir masa Orde Lama (1950—1966), merupakan masa kematangan karier politik. Dalam masa ini
8
beliau mengambil peranan dalam pelbagai lapangan kebangsaan dan kenegaraan seperti menjadi gubernur Aceh dan terlibat dalam perdamaian DI/TII melalui misi Hardi. Dalam bidang kreatif beliau melahirkan dua novel pendek, satu kumpulan puisi, satu hasil analisis sastra, dan sebuah kumpulan surat. Kelima, zaman Orde Baru (1966—1998), adalah masa yang sangat produktif bagi A. Hasjmy karena beliau menghasilkan dua novel dan empat kumpulan puisi, di samping terlibat dalam dunia akademik.
Berdasarkan latar kepengarangan terlihat bahwa A. Hasjmy melahirkan 11 kumpulan puisi, 11 buah novel dan 32 buah cerpen. Dari kesebelas novel tersebut, hanya tujuh buah novel yang dapat ditemukan, yaitu ketujuh novel yang dianalisis dalam penelitian ini. Empat buah novel selain itu tidak dapat ditemukan, yaitu Sayap Terkulai (roman perjuangan, 1938?) Di Bawah Naungan Pohon Kemuning (roman sejarah, 1940), Cinta Mendaki (roman falsafah/perjuangan, 1941), dan Dewi Fajar (roman politik, 1943).
2.2 Doktrin Nasionalisme
Konsep, gagasan, atau paham yang merupakan ideologi nasionalisme A. Hasjmy tersimpul dalam doktrin nasionalisme sebagaimana terkesan melalui tujuh novel kajian. Doktrin nasionalisme itu merupakan gambaran dari paham kebangsaan yang wujud dalam bentuk otonomi, kesatuan, kesamaan, dan identitas nasional.
Bagi A. Hasjmy, otonomi nasional lebih mengacu kepada konsep kebebasan dari segala kendala eksternal, khususnya hal ini disemat di dalam sikap antikolonial (Belanda) dan antifeodal. Hal ini dapat dipilah ke dalam tiga zaman, yaitu zaman prakolonial, zaman kolonial, dan zaman revolusi. Hal ini direfleksikan melalui kisah perang gerilya (SALG), kisah penawanan dan pembuangan para pejuang (SALG, TM), narasi mengenai perilaku kejam Belanda (SALG, EGN, NP, TM), kebiadaban dan tanpa perikemanusiaan situasi tanah buangan dan penjara (TM). Hal senada lainnya adalah upaya propaganda Belanda melalui generasi akhir kaum feodal yang berkehendak mendirikan ‘negara boneka merdeka’, kerja sama sekutu dan gigihnya perjuangan rakyat, dan propaganda dan kontra revolusi para mata-mata (NP & EGN). Semua ini dikemas oleh A. Hasjmy guna menunjukkan konsep otonomi nasional dengan membina rasa antipati terhadap eksistensi kaum penjajah di bumi Indonesia. Di dalam dua
9
novel terawal, yaitu MJRD dan BCB, A. Hasjmy hanya memasukkan unsur kebebasan beragama, sementara hal-hal yang bersifat politik kurang mendapat perhatian, meskipun novel ini ditulis semasa Indonesia masih dijajah Belanda. Sementara itu, di dalam novel MJ, gambaran otonomi itu disebutkan, tetapi bukan dalam konteks zaman Indonesia, melainkan disemat dalam kerangka masuknya Islam ke Banda Aceh. Di dalam novel-novelnya yang lain, yaitu SALG—NP—EGN—TM, topik ini dibicarakan secara saksama dan meluas. Kesaksamaan dan keluasan bahasan tersebut mengindikasikan bahwa masalah otonomi dalam makna kebebasan, kemerdekaan, dan kemandirian ini merupakan salah satu inti dari doktrin nasionalisme A. Hasjmy.
Kesatuan (unity) bagi A. Hasjmy mencakup kesatuan wilayah atau tanah air, kesatuan bangsa, kesatuan bahasa, kesatuan ideologi dan doktrin kenegaraan, kesatuan sistem pertahanan-keamanan, dan kesatuan dalam polise kebudayaan. Kesatuan wilayah atau tanah air terungkap melalui pengakuan akan kewujudan tanah air dan pemujaan akan keindahan alam tanah air, yaitu tanah air Indonesia yang terbentang dari Sabang (Aceh) hingga Merauke (Irian Jaya). Kesatuan bangsa merupakan kesatuan pelbagai etnik dengan adat dan budayanya yang tersendiri, yang mendiami seluruh kepulauan nusantara, yaitu bangsa Indonesia. Kesatuan bangsa ini antara lain diungkapkan melalui perkawinan antaretnik warga nusantara (lihat lampiran 1). Kesatuan bahasa bermakna penjanjungan terhadap bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia (SALG).3 Kesatuan ideologi dan doktrin kenegaraan bagi A. Hasjmy mengarah kepada penganutan ideologi dan negara Islam, yang dalam perkembangannya beliau harus menerima ideologi Pancasila dalam lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesatuan dalam polise kebudayaan adalah kesatuan dalam arti bhinneka tunggal
3 A. Hasjmy bersikukuh bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Pasai, Aceh, bukan daripada bahasa Melayu Riau sebagaimana selama ini dipahami orang, kerana bahasa Melayu lebih dahulu berkembang dan digunakan di Aceh daripada di mana-mana kawasan di Nusantara. Huraian yang agak memadai tentang perkembangan bahasa Melayu sebagai lingua franca di Aceh lihat Alfian (2005:267—8), istimewa dalam bab “Dari bahasa Jawi Pasai di Aceh Utara ke bahasa nasional Indonesia” (hlm. 53—76).
10
ika ‘walau beraneka namun satu jua’.4 Dengan ini nyatalah bahwa doktrin nasionalisme dalam novel-novel A. Hasjmy dalam kaitannya dengan unsur kesatuan mencerminkan konsep dan proses integrasi berdasarkan solidaritas nasional yang melampuai solidaritas lokal dan etnik. Persoalan kesatuan tersebut dapat dijumpai di dalam ketujuh-tujuh novel A. Hasjmy. Secara jelasnya kesatuan yang dimaksudkan oleh A. Hasjmy merujuk kepada Indonesia. Tiga buah novel sebelum Indonesia merdeka, yaitu MJRD—BCB—SALG, secara nyata menggambarkan ke-Indonesiaan itu. Manakala dua buah novel semasa revolusi (semasa awal Indonesia merdeka), yaitu NP—EGN, semakin memperkuat gagasan yang dimaksudkan. Selanjutnya, dua buah novel terakhir, yang lahir ketika Indonesia sedang membangun, yaitu MJ—TM, menunjukkan kematangan ke-Indonesiaan itu dengan meninjau peristiwa masa silam, ketika Indonesia belum terbentuk (MJ) dan ketika perjuangan merebut kemerdekaan (TM).5
Kesamaan merupakan unsur doktrin nasionalisme yang mendapat posisi penting dalam novel-novel A. Hasjmy. Hal ini misalnya dijabarkan dalam bentuk kritikan terhadap banyak hal mengenai kebangsaan. Namun, hal yang mendominasi sebahagian besar novel-novelnya adalah konsep penentangan terhadap kelas sosial. Kecuali dalam novel NP, yang tidak dikaitkan dengan persoalan ini secara nyata dalam konteks nasionalisme, di dalam lima novel lainnya,
4 A. Hasjmy sebenarnya sedang menyusun kriteria dalam upaya membuat ’bangsa baru’ yang merangkum semua kultur etnik yang ada. Sebagaimana berlaku pada Amerika Syarikat, bahwa konstruksi kesatuan bangsa dan negara yang dianuti oleh A. Hasjmy bagi negara-bangsa Indonesia adalah berdasarkan konsep pluralisme, yang dikemas dengan bhineka-tunggal-ika itu (lihat juga Daliman, 2002:13).
5 Posisi A. Hasjmy seperti itu selaras dengan ulasan Smith (2005:95), bahwa bangsa adalah suatu komuniti yang (1) sempadan wilayahnya dikenal dan dibatasi, (2) legal secara politik, dengan satu institusi dan sistem hukum dalam wilayahnya, (3) berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik warga negara, (4) perbedaan kultur masyarakatnya didesiminasi melalui suatu sistem yang dibakukan, (5) otonomi kolektifnya dilembagakan dalam suatu negara berdaulat, (6) merupakan anggota daripada masyarakat atau sistem internasional, dan (7) ada pengesahan melalui ideologi nasionalisme. Kombinasi pelbagai harapan itu melahirkan tipa ideal sesuatu bangsa. Beginilah paham bangsa yang dibayangkan dalam erti nasionalisme sebagai the civic-territorial kind menurut Smith. Bangsa seperti inilah yang dikesankan oleh A. Hasjmy dalam novel-novelnya.
11
yaitu BCB—SALG—EGN—MJ—TM, persoalan kelas sosial merupakan topik yang sangat signifikan dalam kerangka perwujudan doktrin nasionalisme itu. Penentangan terhadap kelas sosial tersebut dijalin beriringan dengan kritikan terhadap organisiasi pergerakan yang masih membeda-bedakan peringkat anggotanya, kritikan terhadap kaum pergerakan yang turut membiarkan eksistensi kelas soal, kritikan terhadap kaum feodal yang terus memelihara kelas sosial dan memandang rendah kepada bangsa sendiri, dan penanaman sikap antipati terhadap perilaku diskriminatif kaum penjajah dalam menghadapi komuniti pribumi. A. Hasjmy telah berupaya mencari sekaligus mendapatkan jawapan terhadap akar atau asal-usul lahirnya ketidaksamaan di dalam masyarakat. Jawapan itu adalah bersebab manusia bersifat loba, tamak, serta suka mengikut nafsu. Upaya pemberantasan kelas sosial yang bersifat negatif itu adalah dengan menjadikan diri bangsa ini berbudi, juga melalui upaya diplomasi, dan pilihan terbaik adalah berkiblat kepada agama, yaitu Islam, yang sememangnya sangat menjunjung keberagaman manusia.6
Identitas bangsa dalam novel-novel A. Hasjmy direfleksikan dalam wujud simbol atau metafora, baik simbol organisasi (BCB, SALG, EGN, NP, TM), simbol tokoh (MJRD, SALG, EGN, NP, MJ, TM), simbol adat dan budaya (MJRD, SALG, TM), maupun metafora (sejarah) etnik (SALG, NP, MJ, TM). Meskipun begitu, keadaan tersebut menyiratkan bahwa karya kreatif A. Hasjmy tidak begitu terpengaruh oleh konsep etnonasionalisme, nasionalisme lokal, termasuk nasionalisme ke-Acehan. Latar ke-Acehan atau etnik lainnya
6 Ternyata bahwa konsep kesamaan bagi A. Hasjmy mengacu kepada idea pengenalan diri bangsa tidak menurut ciri-ciri mereka sendiri sebagai makhluk sosial, tetapi berdasarkan negasi sifat kaum feudal itu. Inilah gejala yang juga terjadi di alam nyata ketika Indonesia sedang berjuang merebut kemerdekaan pada awal abad ke-20, bahwa persepsi diri anggota bangsa berdasarkan kesedaran negatif itu, yang diperkuat lagi oleh budaya birokrasi semi-feudal. Keadaan itu menimbulkan kecendrungan untuk tumbuhnya jiwa serba-tunduk (submissive) pada pihak bawahan dan berkembangnya suatu otoritarianisme pada pihak atasan. Pembudayaan ideologi penguasa kolonial dengan membiarkan eksistensi kelas telah menciptakan situasi yang diterima oleh rakyat bawahan sebagai situasi alamiah. Artinya, di sini A. Hasjmy menunjukkan bahwa simbol-simbol superioritas dan superordinasi penguasa, baik dalam kalangan kolonial, bangsawan, maupun pemimpin lokal, merupakan sumber ketegangan sosial bagi golongan tertentu. Lihat antara lain ulasan Kardodirdjo (1993)! 12
digunakan untuk merujuk kepada identitas sebagai wujud doktrin nasionalisme ke-Indonesiaan. Keadaan ini pun dilihat dalam pelbagai demensi, yaitu demensi moralitas, histori, kultural, dan sebagainya, yang melekat pada ciri-ciri kedaerahan atau kepribadian etnik sebagai refleksi identitas bangsa. Misalnya, Aceh dikenalkan sebagai negeri yang makmur, rakyat dan pemimpinnya memiliki sifat ksatria yang luar biasa dalam melawan pelbagai kejahatan, bersahabat dengan semua bangsa di dunia, agamis dan sekaligus antikomunis, sehingga akhirnya menjadi modal dan asas nasionalisme Indonesia. Kesemuanya ini dibangun dalam kerangka penyematan harga diri, rasa bangga, dan rasa cinta terhadap identitas dan kepribadian bangsa. Ini semua digali jauh menukik ke dalam sejarah peradaban dan pernik-pernik kehidupan berbagai etnik yang ada.7
7 Terlihat bahwa alur pikir A. Hasjmy seirama dengan realitas perkembangan tamaddun bangsanya. Dalam perkembangan komuniti kebangsaan di nusantara, terutama bangsa Indonesia, tumbuh dua kesedaran dalam diri setiap individu, yaitu kesedaran akan individualitas dan kesedaran solidaritas. Interaksi kedua kesedaran itu menjelmakan identitas kebangsaan individu yang bersangkutan. Dalam awal perkembangannya, sebagai masyarakat tradisional tumbuh identitas primordial, yaitu identitas yang bersangkut paut dengan etnik, daerah, agama, bahasa ibu, dan sebagainya. Dalam perkembangan selanjutnya tumbuh identitas komunitas berasaskan budaya daerah masing-masing. Kemudian, identitas kultural itu mengalami krisis yang disebabkan oleh pelbagai faktor seperti kolonialisme, pendidikan, atau komunikasi. Berbagai tekanan atau deprivasi itu menumbuhkan kesedaran kolektif sebagai dasar bagi pertumbuhan solidaritas. Dalam masa-masa awal pergerakan nasionalisme Indonesia, solidaritas itu mengambil organisasi sebagai wadah pertumbuhannya, seperti Budi Otomo, Serikat Islam, Jong Sumatera, dan sebagainya. Organisasi itu juga menjadi simbol bagi identitas kolektif bagi setiap individu yang berada di dalamnya. Identitas dalam novel-novel A. Hasjmy juga mengikuti perkembangan seperti ini. Pertama, A. Hasjmy memperlihatkan identitas yang bersifat purba daripada individu tertentu seperti tercermin dalam etnik (Aceh) atau agama (Islam). Ini bermakna bahwa kesedaran akan bangsa, dan kesedaran akan tanah air, sebagai realitas objektif kebangsaan A. Hasjmy cenderung sentrifugal, yaitu membina oposisi ke luar. Melalui watak-watak novel, beliau cenderung mempernyatakan diri sebagai orang Aceh dan Islam dengan orang lain yang bukan Aceh dan bukan Islam. Lama-kelamaan kesedaran Ke-Acehan itu berobah ke arah sentripetal, melingkar ke dalam, yaitu mengarah ke upaya menyatukan berbagai perbedaan etnik yang ada dalam wilayah NKRI. Setelah memberi perhatian kepada etniknya Aceh, beliau melangkah ke wilayah Sumatera, Jawa, sehingga Irian Jaya, yang semuanya mengalir ke wujud Indonesia Raya. Dengan itu, sifat sentrifugal juga lahir, yaitu untuk membedakan diri sebagai bangsa Indonesia dengan bukan Indonesia. Dalam dua
13
2.3 Misi Nasionalisme
Berdasarkan data-data sebagaimana tercermin dalam ketujuh novel A. Hasjmy dapat ditarik beberapa rumusan berkenaan dengan misi atau objektif nasionalisme. Menurut A. Hasjmy, nasionalisme bertujuan untuk mencapai, mempertahankan, dan memelihara, serta mengisi kemerdekaan sesuatu bangsa. Hampir semua novel A. Hasjmy, kecuali MJRD, mengandung misi nasionalisme ini. Bagi A. Hasjmy, kemerdekaan adalah upaya pembebasan bangsa dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan itu perlu diraih, dibina, dipertahankan, dan hormati oleh segenap indivividu. Selanjutnya, nasionalisme juga bertujuan dalam menegakkan kehidupan beragama, yaitu untuk menyampaikan risalah Islam, yang bagi A. Hasjmy Islam adalah agama dan negara.8 Misi ini tercermin di dalam hampir semua novel yang dikaji, kecuali novel NP dan EGN. Berikutnya, nasionalisme bertujuan untuk meraih dan meningkatkan taraf kemakmuran rakyat. Misi ini direfleksikan dalam bentuk pembangunan dunia pertanian dan perdagangan. Pengarang berpandangan bahwa pencapaian kemakmuran bangsa melalui dunia pertanian sulit didapati kecuali bangsa Indonesia mengutamakan penguasaan ilmu pertanian, pembentukan organisasi tani dan dagang, dan pembinaan kesadaran pemilikan tanah dan usaha antara pribumi dan asing.9 Hal ini disampaikan oleh A. Hasjmy melalui novel-novel panjangnya, yaitu MJRD, BCB, SALG, dan MJ. Di samping itu, nasionalisme juga bertujuan untuk pemerolehan dan pencapaian taraf pendidikan bangsa.10 Hal ini direfleksikan oleh A.
lingkaran itu mengalir identitas kebangsaan A. Hasjmy, baik dalam bingkai individualitas maupun dalam kerangka kesolideran yang bersifat kolektif. Lihat juga ulasan Kardodirdjo (1993) dan Faruk (2001)!
8 Kupasan pengarang tentang hubungan sastra dan agama yang mencerminkan pandangan beliau lihat Hasjmy (1980) Sastera dan agama dan (1984) Apa tugas sastrawan sebagai khalifah Allah.
9 Meskipun ada pandangan yang mengatakan bahwa tidak ada pengarang dari kelas atas yang mau mengubah keadaan agraria Indonesia, pembagian tanah, atau menentang sistem kapitalis (Aveling, 2002:49), ternyata A. Hasjmy memberi perhatian yang saksama terhadap persoalan itu.
10 Para sarjana berpandangan bahwa pendidikan secara politik diperlukan bukan hanya untuk menciptakan warga negara yang berpendidikan tinggi, melainkan juga untuk mengabsahkan tanggung jawab pemerintah (Yeok dalam Alis Puteh, 14
Hasjmy melalui novel MJRD, BCB, SALG, MJ, dan TM. Terakhir, nasionalisme bertujuan membina demokrasi politik dan mencapai hak politik rakyat.11 Misi ini dijumpai dalam semua novel A. Hasjmy.

MEDIA CETAK DAN BAHASA INDONESIA: MELIRIK SEGMEN MEDIA ORANG MUDA

MEDIA CETAK DAN BAHASA INDONESIA: MELIRIK SEGMEN MEDIA ORANG MUDA
Hendry Ch Bangun
Sekjen PWI Pusat
Contoh 1
• Apa sih yang sering kita lakukan untuk mengisi waktu luang atau kegiatan yang kita sukai? Misalnya, kita suka membaca, menggambar, menulis buku harian, dan memasak. Coba deh mengasah hobi kita itu dengan memperbanyak latihan, seperti banyak membaca dan menulis puisi. (Kompas, Muda, 17 Oktober 2008)
Contoh 2
• “Kamu punya buku baru nggak?”
• “Buku ini bagus lho, aku udah baca.”
• Teman-teman mungkin sering denger-denger kata-kata seperti itu dari teman-teman kita yang hobi baca. Dan kalau kita ke toko buku, kita pasti nemuin orang-orang yang nggak cuma liat-liat, tapi juga niat beli atau cuma numpang baca doang. (Warta Kota Muda, 19 Oktober 2008)
Contoh 3
• Dulu..setiap mengisi sebuah form pada bagian “Hobi:” aku seringnya jawab berenang, tidur, ngemil,nonton…Well, bisa aja sih menghasilkan uang dari hobi-hobi tersebut, tapi sebenernya aku punya hobi (the real one which i never realized when i was younger) yang sekarang jadi modal aku bekerja di Gogirl, yaitu hobi baca majalah dan doodling (bikin coret-coretan nggak jelas dimana-mana). Some of you guys mungkin udah tahu kalau me and my sisters are magazine freaks…(Gogirl! Oktober 2008).
Contoh 4
• Social network sites has become a lifestyles nowadays. Situs pertemanan kayak facebook, My Space dan Friendster jadi ajang “ketemu dan ngumpul” bareng temen-temen, finding long
lost friends, cari temen baru bahkan pacar. Adu narsis dengan gonta-ganti foto supaya profile kita dilihat orang sih wajar. But lately, kita bisa lihat banyak banget foto-foto yang “berani” di sana. Hmm, apa maksudnya yah? (Gogirl! Okt 2008)
Contoh 5
• Kuliah di Harvard University-Amerika merupakan dambaan setiap orang, namun study di kampus bergengsi ini bisa diraih gratis lho? Tentu dengan cara melewati program bea siswa yang ditawarkan beberapa institusi untuk mengambil gelar S1, S2 atau non gelar di luar negeri. AMINEF misal lembaga yang menelorkan program Fullbright ini, memberi dana US$ 30.000 pertahun bagi peserta yang lolos test. Karena basicnya harus pintar maka bila memiliki IP 4.00 akan lebih punya peluang mengenyam study di Amerika. (Kartika, 2007)
Contoh 6
• Concern-nya pada bisnis kosmetika Mamanya, Martha Tilaar, Kilala Tilaar menjadi sering keluar masuk mal mencicipi lipstick dan produk kecantikan wanita lainnya. Teman-temannya di Amerika jadi sering menaruh curiga,” Kiki are you gay?” Baginya tidak ada kata manja, bahkan untuk bisa beli mobil rela menjadi loper koran. (Kartika, 2007).
Segmen Pembaca Muda (1)
• Kutipan-kutipan tadi mewakili dua jenis media dengan segmen pembaca muda. Pertama dari media umum yang mencoba menggaet pembaca muda lewat rubrik khusus yang ditujukan bagi kelompok usia belasan tahun tersebut. Di sini pekerja jurnalistiknya pelajar: mereka meliput dan menulis berita atau artikel yang disajikan. Dalam proses mereka dibantu redaksi.
Segmen Pembaca Muda (2)
• Kedua adalah majalah remaja: media dengan sasaran pembaca kaum muda, yang dikelola jurnalis profesional.
• Ada perbedaan dalam dua kelompok contoh, karena perbedaan kepentingan.
• Di media umum, rubrik kaum muda adalah upaya mengajak orang muda membaca koran, karena kecenderungan pembaca makin berusia tua dan akan habis.
Segmen Pembaca Muda (3)
• Media menjadikan kaum muda sebagai target sejak dini agar kelak mereka menjadi pembaca setia.
• Di negara maju kaum muda meninggalkan media cetak karena kemajuan iptek. Anak muda yang akrab komputer dan peralatan teknologi lain terbiasa mendapat berita dari perangkat itu. Mereka harus didekati dengan cara yang sesuai dunia mereka.
Segmen Pembaca Muda (4)
• Selain persoalan dan aneka problema orang muda, maka bahasa yang dipakai pun disesuaikan dengan dunia mereka. Misalnya istilah, ungkapan, kata, yang digunakan, pasti yang sedang ngetren.
• Secara umum bahasa Indonesia yang digunakan masih sesuai kaidah, berkat campur tangan pihak redaksi.
Segmen Pembaca Muda (5)
• Boleh disebut bahwa di media umum, remaja menjalani proses pembelajaran dalam mengekspresikan diri melalui Bahasa Indonesia di karya jurnalistik mereka.
• Remaja pembaca pun dapat menikmati topik yang disajikan karena penulisannya tidak jauh dari bahasa sehari-hari mereka.
Segmen Pembaca Muda (6)
• Dalam contoh dua majalah remaja putri di depan, bahasa yang digunakan bersifat paripurna. Bentuk ekspresi dibuat sesuai asumsi target pembacanya.
• Bila di media umum ada semacam proses pembaca muda kelak menjadi pembaca umum (tua), di media remaja tidak: akan selalu ada lapis baru pembaca muda.
• Saya berpendapat di sini tidak ada unsur mendidik, hanya menyuapi pembaca sesuai selera mereka: kurun usia yang suatu saat tokh akan ditinggalkan.
• Bila betul ini terjadi, terjadi perusakan karena ada kesenjangan bahasa media dengan bahasa yang didapat di sekolah.
Siapa Pemenangnya?
• Karena Bahasa Indonesia yang “dimasyarakatkan” di koran, majalah, media elektronik, justru sebagian besar bahasa lisan di pergaulan, bahasa anak muda cenderung menjauh dari bahasa baku. Apa yang mereka dapatkan di sekolah makin tergerus.
Solusi
• Media bagi kaum muda harus mendapat perhatian dari Pusat Bahasa, dijadikan mitra untuk pembinaan bahasa Indonesia.
• Dibuat program yang bermanfaat bagi kedua belah pihak, dan terutama masa depan bangsa secara keseluruhan.
• Sebetulnya media dituntut berperan dalam memasyarakatkan Bahasa Indonesia.
Media Memasyarakatkan Bahasa Indonesia
• Dalam UU no. 40 Tahun 1999 tentang Pers disebutkan dua fungsi media yang menurut saya terkait dengan peranan pemasyarakatan Bahasa Indonesia.
• Pasal 3 ayat : Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
Sebagai Media Informasi
• Berupa berita: memberikan informasi tentang kebijakan pemerintah tentang kebahasaan, kegiatan, tokoh, lembaga kebahasaan, dsb secara kontinyu.
• Memberi ruang: kolom kebahasaan atau artikel, opinis, dan pembahasan problema kebahasaan.
Media Pendidikan
• Media menjadikan dirinya sendiri, produk yang dihasilkannya, sebagai contoh dari masalah kebahasaan itu.
• Wujudnya adalah menyajikan pilihan berita yang menarik dan berdaya jual, tetapi mudah dicerna, sesuai kaidah tata bahasa dan kosa kata yang baku.
Kemampuan Media
• Data Dewan Pers 2006, dari 851 media di Indonesia (284 SKH, 327 SKM, 237 Majalah, 3 Buletin), Cuma 30% yang sehat.
• Sekitar 70% kurang sehat dan tidak sehat. (Tahun 2008 prosentase kira-kira sama)
• Sehat: ekonomis baik, terbit teratur, gaji sesuai standar, punya masa depan.
• Diasumsikan organisasi dan SDM baik.
Media Sehat
• Organisasi baik: di editorial ada fungsi penyaringan berita sebelum dilepas ke bagian produksi.
• SDM baik: memiliki kompetensi dalam meliput, menulis, dan mengolah berita
• Ada evaluasi rutin, pelatihan, dsb untuk meningkatkan kualitas SDM.
Media Tidak Sehat
• Organisasi seadanya, bergantung pada pemilik yang biasa adalah juga pimpinan.
• Wartawan sering merangkap pencari iklan, agen/penjual media tersebut.
• Rekrutmen SDM dengan persyaratan minimal.
• Kemampuan SDM terbatas, kepedulian atas bahasa juga kurang, seperti juga tidak peduli pada kode etik.
Kesimpulan
• Media hanya dapat menjalankan perannya termasuk peran memberi informasi dan edukasi, yakni dalam memasyarakatkan Bahasa Indonesia.
• Kondisi media saat ini memperlihatkan sebagian besar dalam kondisi tidak sehat sehingga sulit diharapkan peran itu dapat dilakukan dengan baik.
• Media untuk kaum muda yang berperan banyak dalam membentuk kepribadian generasi masa depan Indonesia harus mendapat perhatian dari Pusat Bahasa.
• Upaya pemasyarakatan Bahasa Indonesia melalui medium televisi yang menguasai sebagian besar waktu kaum muda perlu digencarkan kembali.
Bahan Bacaan
• Harian Kompas, 17 Oktober 2008
• Harian Warta Kota, 19 Oktober 2008
• Majalah Gogirl!, Oktober 2008
• Majalah Kartika, Desember 2007
• Membangun Profesionalisme Pers Dengan Menegakkan Hukum dan Etika Pers, Jakarta Depkominfo, 2007.
• Wawancara dengan Leo Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers, 20 Oktober 2008

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Mei    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari