PENELUSURAN PERKEMBANGAN PENGKAJIAN NASKAH MELAYU

PENELUSURAN PERKEMBANGAN PENGKAJIAN
NASKAH MELAYU
Dr. Mu’jizah
Pusat Bahasa
1. Pengantar
Tradisi tulis dalam bahasa Melayu yang paling awal ditemukan pada beberapa prasasti, di antaranya Prasasti Telaga Batu (sekitar 686 M) yang teks dan terjemahannya diterbitkan oleh De Casparis (1956:1—46) dan beberapa prasasti Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7. Selain pada prasasti, tradisi tulis dalam bahasa Melayu juga ditemukan dalam produk budaya lain, yaitu naskah (manuscript). Selama ini, naskah tertua dalam khazanah pernaskahan Melayu adalah Hikayat Sri Rama, tahun 1633 (naskah Laud). Namun, pada tahun 2006 Uli Kozok menemukan naskah Melayu yang lebih tua di Kerinci, Kitab Tanjung Tanah, yang berasal dari abad ke-14 (sekitar 1304—1436 Masehi). Pembuktian itu dilakukan dengan penelitian radio-carbon. Dalam naskah itu ada dua halaman ditulis dalam jenis aksara Melayu Tengah (Kozok, 2006).
Naskah Melayu sebagian besar ditulis dalam aksara Jawi atau yang dikenal dengan huruf Arab gndul yang terdiri atas 29 abjad Arab dan 5abjad tambahan. Aksara itu merupakan turunan dari aksara Arab yang mulai dikenal di Nusantara dengan masuknya agama Islam. Menurut Shellabear (1901), orang Melayu menerima sistem tulisan Jawi ini secara langsung dari orang Arab. Bahkan, ada pakar lain yang mengatakan bahwa aksara Arab diperkenalkan ke Indonesia langsung dari India atau Parsi.
Dalam khazanah naskah Nusantara, jumlah naskah Melayu merupakan karya terbesar kedua setelah naskah Jawa. Naskah ini sangat kaya dengan berbagai pengetahuan, seperti hukum, agama, sejarah, adat, obat-obatan, dan sastra. Naskah Melayu tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti Aceh, Riau, Lingga, Jambi, Kerinci, Palembang, Minangkabau, Betawi, Bima, Pontianak, Mempawah, dan Banjarmasin. Bahkan, jenis naskah tertentu yang ditulis dalam bahasa Melayu terdapat di beberapa daerah yang berbahasa ibu bukan bukan Melayu. Kekayaan naskah tersebut sudahbanyak dikaji oleh pakar pernaskahan baik dari dalam maupun luar negeri. Dalam makalah ini penelusuran pengkajian dilakukan untuk melihat perkembangannya sebab kajian ini merupakan awal kajian sastra akademik yang sudah mapan.
2. Khazanah Naskah Melayu
Naskah Melayu yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia saat ini disimpan di berbagai lembaga, seperti museum daerah, Perpustakaan Nasional, yayasan-yayasan, pesantren, masjid, dan keluarga atau pemilik naskah. Di Perpustakaan Nasional koleksi naskah mencapai 9.626 yang ditulis dalam berbagai aksara dengan berbagai bahasa. Jumlah naskah Melayu sampai saat belum pernah pasti karena jumlah yang diajukan terus bertambah seiring dengan ditemukannya koleksi-koleksi baru dan jumlah itu juga terus berkurang karena banyak naskah yang rusak dan tidak terawat lagi.
Mengenai jumlah naskah Melayu, Ismail Husein (1974) pernah mengemukakan angka 5.000, Chambert-Loir (1980) mengemukakan angka 4.000, dan Russel Jones sampai pada angka 10.000 (Mulyadi, 1994). Sampai saat ini naskah-naskah tersebut disimpan di 29 negara, yakni (1) Afrika Selatan, (2) Amerika, (3) Austria, (4) Australia, (5) Belanda, (6) Belgia, (7) Brunei, (8) Ceko-Slovakia, (9) Denmark, (10) Hongaria, (11) India, (12) Indonesia, (13) Inggris, (14) Irlandia, (15) Italia, (16) Jerman Barat, (17) Jerman Timur, (18) Malaysia, (19) Mesir, (20) Norwegia, (21) Polandia, (22) Perancis, (23) Rusia, (24) Singapura, (25) Spanyol, (26) Srilangka, (27) Swedia, (28) Swiss, dan (29) Thailand (Chambert-Loir, 1999).
Naskah Melayu yang begitu besar jumlahnya dan sangat tersebar penyimpanannya itu harus segera ditangani dengan berbagai program. Semakin lama naskah itu tidak ditangani akan semakin rapuh keadaannya, khususnya naskah yang menjadi koleksi pribadi (keluarga). Oleh sebab itu, kegiatan konservasi, digitalisasi, pengkajian, dan pemasyarakatan akan pentingnya warisan budaya ini menjadi prioritas utama. Jika naskah tersebut hilang atau rusak berarti hilang pula hasil pemikiran bangsa. Padahal kita tahu, di dalam naskah itu terdapat berbagai kekayaan pemikiran, seperti bahasa, sastra, sejarah, hukum dan adat, seni-budaya, agama, serta filsafat. Kurangnya penelitian dan sosialisasi akan pentingnya menjaga warisan budaya ini kepada masyarakat menyebabkan kurangnya penghargaan masyarakat
terhadap naskah. Bahkan, akhir-akhir ini mulai marak penjualan naskah, seperti yang dilaporkan Kompas pada pertengahan Maret 2006. Padahal kekayaan ini sangat penting untuk mengembangkan kebudayaan Indonesia.
3. Penelusuran Kajian Pernaskahan Melayu
Kajian terhadap naskah Nusantara, khususnya Melayu, dilakukan oleh para filolog yang bergelut dengan teks-teks lama. Perhatian terhadap teks-teks lama di Nusantara diawali oleh para pedagang dari Eropa yang tertarik dengan sebaran naskah (manuskrip) yang begitu banyak. Sementara itu, di Eropa naskah menjadi benda pusaka yang diperjual belikan. Oleh sebab itu, para pedagang ini mulai memasarkan naskah Nusantara dalam perdagangan benda pusaka di Eropa. Di antara nama para pedagang tersebut terdapat nama Peter Floris dan El Bink. Menurut catatan, El Bink yang pada tahun 1604 pernah tinggal di Aceh ini, banyak menjual naskah ke ahli orientalis dari Leiden yang bernama Erpenus (1624). Koleksi naskah dari tokoh ini banyak disimpan di Universitas Oxford. Perhatian terhadap naskah Nusantara semakin besar setelah Fredreik de Houtman pada tahun1603 menulis tentang bahasa dan cerita dari Melayu. Buku ini banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Inggris, dan Perancis.
Teks-teks lama di Indonesia pada tahun 1629 juga menjadi perhatian para penginjil dalam penyebaran agama. Mereka mengerjakan terjemahan alkitab ke dalam bahasa Melayu. Bahkan, di Belanda berdiri sebuah lembaga yang bernama Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG). Lembaga ini mengutus para penginjil ke Nusantara, misalnya J.V.C. Gerick 1824 yang diminta ke Jawa membantu pemerintah mengajarkan bahasa Jawa kepada para pegawai sipil Belanda. Kegiatan lembaga ini menyebar ke berbagai daerah lain, seperti Kalimantan dan Sumatra.
Perhatian ini menumbuhkan minat orang pada kajian ilmiah terhadap naskah-naskah dalam bahasa daerah tempat mereka ditugasi, misalnya H.N. van der Tuuk untuk naskah Batak dan Bali dan B.F. Mattes untuk naskah Bugis. Para peneliti itu belum melakukan kajian filologi; mereka hanya menerjemahkan naskah ke dalam bahasa asing, terutama Belanda.
Perhatian terhadap naskah Nusantara lebih jauh dilakukan oleh para peneliti Eropa, khususnya Belanda, dengan dibukanya pengajaran
bahasa-bahasa Nusantara yang diberikan kepada para calon pegawai dan pejabat Belanda yang akan dikirim ke Hindia-Belanda. Mereka dibekali pengetahuan bahasa, ilmu bumi, dan kebudayaan. Kuliah pertama kali diadakan di Breda (tahun 1836) dan di Delf (tahun 1842). Taco Roorda dan Roorda van Eysinga adalah para perintis yang kemudian diangkat sebagai guru besar. Pada akhirnya kuliah ini dipindahkan ke Fakultas Sastra Universitas Leiden, Belanda. Dari kegiatan ini kajian filologi terus berkembang, bahkan beberapa ahli dari Inggris juga memberikan perhatian khusus pada teks-teks klasik Nusantara, seperti John Leyden, R.O. Winstedt, dan dari Jerman, Hans Overbeck (Baried, dkk. 1994:50).
Pada tahap awal, kajian terhadap teks-teks Nusantara hanya terbatas pada suntingan. Berhubung tenaga penelitinya masih terbatas, teks-teks yang diambil kebanyakan dari naskah Jawa dan Melayu. Hasil suntingan mereka pun masih terbatas karena hanya berupa penyajian teks dalam huruf aslinya dan diberi pengantar pada bagian pendahuluan. Suntingan seperti ini di antaranya adalah Syair Bidasari oleh Van Hoevel (terbit 1849) dan Hikayat Sri Rama oleh Roorda van Eysinga (1845). Kajian berikutnya dilakukan terhadap Sejarah Melayu oleh John Leyden (1921). Dalam terbitan ini teks dialihaksarakan dan ditambahkan dengan terjemahan dalam bahasa Inggris. Suntingan yang serupa juga dilakukan oleh H. Over Beck (1922) Hikayat Hang Tuah dan A. Teeuw (1966) terhadap Hikayat Seribu Masalah
Dari para peneliti inilah kemudian berkembang berbagai penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Indonesia sejak tahun 1970-an. Kegiatan ini berawal dengan dikirimnya beberapa pengajar dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia yang belajar ke Eropa, khususnya Leiden dan London. Para pengajar tersebut di antara adalah Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Achadiati Ikram, Sulastin Sutrisno, Chamamah Suratno, dan Kuntara Wiryamartana.
Pakar tersebut sebagian besar memakai kajian filologi dengan mengambil teks Melayu; hanya pakar yang terakhir menggunakan teks Jawa. Kajian filologi ini bertujuan mengungkap informasi tentang situasi sosial budaya masa lampau suatu masyarakat yang tersimpan dalam peninggalan tulisan (naskah) yang ditulis ulang dan diturunkan dalam sebuah tradisi penyalinan. Tradisi ini mewujudkan naskah yang bermacam-macam dengan berbagai versi dan varian. Kajian ini sebagian besar berkembang di kalangan dunia akademik. Untukmenekuni bidang ini kita menghadapi tiga masalah besar, yakni (1) teks ditulis dalam aksara yang sudah jarang dikenal, (2) bahasanya arkais, dan (3) latar belakang teks yang berasal dari masa lampau.
Untuk mengkaji teks, peneliti harus lebih dahulu menempatkan teks pada zamannya. Padahal untuk mengetahui masa penulisan diperlukan pengkajian khusus sebab jarang sekali teks yang menyebutkan masa penulisannya. Namun, ada beberapa naskah yang menyertakan kolofon (catatan dalam teks yang berisi informasi tentang waktu, tempat, dan penyalin). Langkah lainnya adalah menempatkan teks di antara berbagai versi dan variannya. Telaah seperti ini menjadi kegiatan tersendiri yang dalam filologi disebut kritik teks. Kritik teks merupakan pekerjaan penting yang harus dilakukan oleh seorang filolog dalam membuat sebuah edisi karena kritik ini bertujuan menilai mutu suatu teks. Melalui kritik teks ini dapat ditelusur kembali suatu teks ke dalam bentuknya yang asli, yakni teks yang mendekati teks yang dulu ditulis oleh pengarangnya. Konsep ini masih terus dianut dalam filologi tradisional. Berbagai teks sejenis disusun genealoginya dengan suatu metode yang disebut stemma, suatu metode yang bertujuan mendekati teks aslinya melalui perbandingan. Asumsi dasar metode ini adalah bahwa teks disalin satu demi satu dan berbagai kesalahan terjadi dalam tradisi penurunannya (Robson, 1978:37).
Untuk memulai kegiatan itu, dalam kajian filologi ada beberapa langkah kerja yang harus dilakukan, yakni inventarisasi naskah. Dalam inventarisasi ini, teks yang menjadi objek kajian harus diperiksa dalam berbagai koleksi. Untuk itu, katalog naskah menjadi acuan penting. Berbagai katalog naskah Melayu yang pernah diterbitkan di antaranya adalah koleksi Catalogue of Malay and Minangkabau Manuscripts yang disusun oleh Wieringa (1998 dan 2007), Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections (1977) oleh Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve, Katalog Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat (1972) oleh Sutaarga dkk yang diperbaharui oleh Behrend (1998) Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara. Berbagai katalog dalam koleksi naskah di negara lain, seperti Jerman dan Perancis, juga pernah disusun oleh Wan Ali Wan Mamat. Di samping itu, beberapa katalog dalam koleksi masyarakat juga akhir-akhir ini mulai banyak diterbitkan, di antaranya Katalog Naskah Buton, Katalog Naskah Palembang, danKatalog Naskah Aceh yang disusun oleh tim dari Yanassa dan Manassa yang bekerja sama dengan Toyota Foundations dan TUFS, Jepang.
Setelah teks yang menjadi objek kajian didaftarkan dengan menyebutkan tempat penyimpanannya, naskah-naskah tersebut ke-mudian dideskripsi dengan rinci. Langkah selanjutnya adalah perbandingan naskah. Perbandingan ini dilakukan dengan melihat berbagai aspek seperti tulisan, isi, dan bahasa. Dalam perbandingan ini kadangkala ada beberapa naskah yang dieliminasi dan hanya naskah yang dianggap ”bermutu” akan dipakai untuk kajian berikutnya. Setelah ditemukan teks yang “bermutu”, kemudian dibuatlah suatu suntingan (edisi). Dalam penyuntingaini terdapat dua metode yang diperkenalkan dalam filologi, yakni (1) metode edisi diplomatik dan (2) metode edisi kritis (standar). Dalam sebuah edisi biasanya dibuat juga terjemahan dalam bahasa Indonesia jika teksnya memakai bahasa daerah. Bahkan, para penelaah asing biasanya membuat terjemahan ke dalam Inggris atau Belanda. Penerjemahan ini dilakukan semata-mata agar teks dapat dibaca, dipahami, dan dinikmati khalayak pembaca sebab edisi ini merupakan pintu gerbang bagi para peneliti dari disiplin ilmu lain untuk menggali berbagai hasil pemikiran yang terkandung di dalamnya.
Dalam perkembangan studi filologi, konsep teks asli yang paling bermutu mulai beralih dengan munculnya penganut filologi modern yang beranggapan bahwa setiap teks mempunyai nilainya sendiri karena teks tersebut mewakili zamannya; sebuah teks dihasilkan oleh suatu masyarakat pada suatu masa tertentu dengan kekhasannya. Dengan anggapan ini, pilihan teks yang akan disunting bukan hanya pada teks yang paling tua (mendekati aslinya), tetapi disesuaikan dengan tujuan sang peneliti. Dengan munculnya anggapan ini, kajian filologi berkembang pesat. Berbagai edisi naskah tunggal (codex unicus) banyak diterbitkan.
Suntingan dengan kritik teks terhadap naskah Melayu mulai banyak dilakukan pada abad ke-20. Suntingan dengan mencari teks yang mendekati aslinya dilakukan oleh A. Teeuw (1966) terhadap Hikayat Seribu Masail dan Shair Ken Tambuhan dan J.J. Ras (1968) terhadap Hikayat Bandjar dan Kota Waringin. Dalam telaahnya Ras meneliti kurang lebih sekitar 18 naskah Banjar yang terdapat dalam berbagai koleksi, Perpustakaan Nasional, Jakarta (8 naskah), Universitas Leiden, Belanda (3 naskah), Perpustakaan KITLV (1naskah), Milik Prof. G. F. Pijfer (1 naskah), milik Prof. A. Cense (1 naskah), Universitas Tubingan, Jerman Barat (1 naskah), British Museum dan Perpustakaan John Ryland, London, Inggris (masing-masing 1 naskah). Naskah-naskah tersebut dikelompokkan menjadi dua yang disebutnya dengan resensi 1 dan resensi 2, kemudian kedua resensi itu dibandingkan. Berdasarkan perbandingan itu, Ras menemukan bahwa pada dasarnya kedua resensi itu sama, tetapi juga berbeda. Resensi 1 lebih ringkas dan gaya bahasanya lebih sederhana dan jelas, sedangkan resensi 2 mempunyai gaya bahasa yang bertele-tele.
Menurut Ras, mungkin naskah-naskah yang termasuk dalam resensi 1 berasal dari istana karena resensi ini memberikan perhatian khusus pada lukisan, adat dan istiadat istana dan pemerintahan, sedangkan yang lainnya tidak. Perbedaan lainnya, resensi 1 dimulai dengan masuknya raja-raja dan keturunannya ke dalam agama Islam, dan resensi 2 cerita berakhir dengan masuknya Islam ke Banjar.
Pada masa itu, teks sejarah juga mulai menjadi perhatian, yaitu dengan diterbitkannya De Hikajat Atjeh oleh Teuku Iskandar (1959), demikian pula dengan sastra kitab yang ditelaah oleh Naguib al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri (1970).
Pada tahun-tahun berikutnya telaah naskah tidak lagi hanya berisi kritik teks dan suntingan atau edisi teks, tetapi ditambah dengan kajian isi. Kajian ini muncul karena peneliti berkeinginan untuk memahami makna teks. Keinginan ini merupakan perkembangan baru dalam telaah filologi karena beberapa penelaah mulai menggunakan pendekatan sastra. Misalnya, Achadiati Ikram (1980) terhadap Hikayat Sri Rama dan telaah Edwar Djamaris (1999) terhadap Tambo Minangkabau menggunakan metode struktural. Dalam penelitian Hikayat Sri Rama terungkap bahwa pesan dan amanat tentang raja ideal memiliki tujuh sifat utama. Hal itu ditunjang oleh penokohan, alur, dan latar yang menonjolkan sifat-sifat tersebut menjadi karya yang utuh. Dalam Tambo Minangkabau terungkap bahwa pesan atau amanat dibangun dalam struktur tema, tokoh, latar, dan alur yang keseluruhannya mengarah pada amanat bahwa masyarakat Minangkabau didasari oleh kerukunan dalam masyarakat, yakni nilai desa dan keislaman (masjid).
Pandangan sastra sejarah sebagai fairy tales sudah tidak berlaku lagi, seperti yang dikatakan Hoesein Djajadiningrat dalam Sejarah
Banten. Berbagai telaah yang mengangkat sastra sejarah (historiografi) terus dilakukan dan kritik teks yang cermat juga dikembangkan. Penelitian Chambert-Loir merupakan salah satu contoh. Dia berusaha mengungkap sejarah Bima dengan menelaah beberapa teks, yaitu(1) Syair Kerajaan Bima,(1982), Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, (1985) dan Bo’ Sangaji Kai (1999). Bo’ Sangaji Kai merupakan buku catatan harian Kerajaan Bima yang berisi berbagai hal, sistem pemerintahan kerajaan Bima, silsilah keluarga, hukum, hubungan diplomasi, dan berbagai salinan akte yang disahkan Raja Bima. Semua catatan itu disusun secara kronologis dan lengkap dengan pencantuman tanggal peristiwanya. Dalam kajian ini Chambert-Loir membandingkan naskah Yayasan Museum Sampuraja dengan naskah milik Held.
Sampai saat ini berbagai kajian terhadap naskah-naskah Melayu terus dilakukan di berbagai lembaga akademis dan lembaga penelitian. Hasilnya juga terus diterbitkan oleh berbagai lembaga, di antaranya KITLV dan EFEO, serta lembaga lain di Indonesia. Berturut-turut telah terbit Shair Sinyor Kosta (2004) oleh A. Teeuw dkk, Syair Bidasari (2005) oleh Julian Millie, dan Istiadat Butun oleh Achadiati Ikram (2005), Martabat Tujuh (2006) oleh Mu’jizah, dan Karya lengkap Abdullah oleh Amin Sweeney (2006), dan Karya Lengkap Abdullah bin Muahmmad Al-Misri (2008) oleh Monique Lajoubert.
Akhir-akhir ini penelitian filologi juga diperkaya dengan penelitian kodikologi, yaitu ilmu yang mempelajari naskah (codex). Mulyadi (1994) mengatakan “daerah” kajian kodikologi, antara lain, sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian tempat-tempat penyalinan, penyusunan katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan naskah. Penelitian seperti ini di Indonesia baru dimulai, beberapa penelitian tentang tempat-tempat (scriptorium) penyalinan mulai dilakukan, misalnya penyalinan naskah Merbabu-Merapi oleh Wiryamartana, van der Molen, dan Kartika (1999); naskah Bali oleh H.I.R Hinzler (1993); naskah Jawa oleh T.E. Behrend (1999); naskah Betawi oleh Teuku Iskandar, Chambert-Loir, Dewaki Kramadibrata, dan Maria Indra Rukmi; naskah-naskah Riau oleh UU Hamidi, Ding Choo Ming, Virginia Matheson, dan Mu’jizah.
Dalam penelitian ini berbagai aspek yang berkaitan dengan sejarah naskah dan teks diungkap. Bahkan, keindahan visual pada naskah-naskah bergambar pun mulai dikaji. Dalam penelitian ini
keindahan gambar dalam naskah Melayu mulai dikumpulkan dan diperkenalkan kepada masyarakat; kajian tersebut di antaranya dilakukan oleh Gallop dan Arps (1991), Gallop (1994), Janson Aan dkk (1995), dan Mu’jizah (1992, 2002, 2005). Keindahan seni dalam naskah Jawa diteliti oleh Tim Behrend (1999) dan Sakti Mulya (1996) dan prasi Bali oleh Suparta. Telaah seperti ini diperkaya lagi dengan terbitnya buku Illuminations yang disunting oleh Ann Kumar dan McGlynn (1994). Dalam buku itu berbagai keindahan naskah Nusantara digambarkan dengan sangat baik.
Telaah-telaah yang disebutkan di atas sebagian besar masih dilakukan oleh para akademisi dan peneliti. Pembaca mereka juga berasal dari kalangan khusus, bukan khalayak umum. Akankah telaah seperti ini terus menjadi kegiatan para akademisi, bisakah telaah seperti ini lebih dimasyarakatkan? Berbagai usaha untuk memasyarakatkan kajian teks telah dilakukan, tetapi kelihatannya usaha itu belum berkembang jauh dan masih berjalan di tempat.
Pengalihan pengetahuan dalam kajian filologi terus dilakukan, terutama di universitas-universitas yang membuka program filologi. Namun, hasilnya juga kurang menggembirakan. Mahasiswa yang memilih studi ini sebagai bahan skripsi, tesis, dan disertasi semakin kurang. Berbagai bantuan atau beasiswa untuk studi ini agak membantu, tetapi tidak selamanya bantuan itu dapat berlangsung. Misalnya, Program Penggalakan Tradisi Tulis Nusantara, Universitas Indonesia, Yayasan Naskah Nusantara, The Ford Foundation, yang pada masa lalu giat memberikan beasiswa sejak tahun 2000 mulai tersendat karena dana yang semakin menipis. Kegiatan ini sebenarnya sangat mulia karena bertujuan merangsang dan mendorong minat para peneliti muda untuk mengkaji berbagai khazanah pemikiran masa lalu.
Meskipun begitu, berbagai terbitan teks klasik terus bermunculan. Berbagai suntingan yang mengambil teks tunggal (codex unicus) diterbitkan. Pada tahun 1993 terbit dua edisi faksimile, yakni Hikayat Isma Yatim yang disunting oleh Ismail dan Mukhtasar Tawarikh al-Wusta oleh Roger Toll dan Jan Just Wirkam. Untuk mengetahui berbagai suntingan yang pernah dilakukan, pada tahun 1999 Edi S. Ekadjati dkk. menyusun buku Direktori Edisi Naskah Nusantara. Selain kajian di atas, berbagai tulisan ringkas dalam beberapa jurnal masih terus berlangsung. Namun, jumlah jurnal juga belum banyak bertambah. Sampai kini kita hanya menemukan jurnal
BKI (Belanda), JMBRAS (Inggris), Archipel (Perancis), ditambah dengan Jurnal Filologi (Malaysia), Wacana dan Lektur (Indonesia).
DAFTAR PUSTAKA
Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Behrend, T.E. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.
——. 1993. “Manuscript Production in Nineteenth-Century Java, Codicology and the Writing of Javanese Literary History. Dalam BKI, 149. hlm.408—435.
——. 2005. “Frontispiece Architecture in Ngayogyakarta. Dalam Archipel, 69, hlm.42—59.
Chambert-Loir , Henri dan Siti Maryam R. Salahuddin. 1999. Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima. Jakarta : EFEO dan Yayasan Obor Indonesia.
——. 1999. Khazanah Naskah : Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Jakarta : EFEO-Yayasan Obor Indonesia.
Djamaris, Edwar. 1991. Tambo Minangkabau. Jakarta: Balai Pustaka.
Gallop, Annabel Teh dan Bernard Arps. 1991. Golden Letters: Writing Traditions of Indonesia;Surat Emas: Budaya Tulis di Indonesia. Jakarta: Yayasan Lontar.
—–. 1994. The Legacy of the Malay Letter. London: The British Library.
—–. 2002. “Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia”. Disertasi Universitas London.
Ikram, Achadiati. 1980. Hikayat Sri Rama: Suntingan Maskah disertai Telaah Amanat dan Struktur. Jakarta: UI Press.
Kozok, Uli. 2006. Kitab Undang-Undang Tandjung Tanah. Jakarta: Yayasan Obor
Mu’jizah. 2005. Martabat Tujuh: Pemaknaan Tanda, Simbol, dan Makna. Jakarta: Djambatan.
——- 2006. ”Surat Melayu Beriluminasi Raja Nusantara dan pemerintah Hindia-Belanda Abad XVII–XVIII”. Disertasi FIB-UI.
Mulyadi, Rujiati. 1994. Kodikologi Melayu di Indonesia. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve. 1977. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. London: Oxford University Press.
Robson, S.O. 1978. “Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional Indonesia”. Dalam Bahasa dan Sastra, No.6, IV. hlm. 3—48.
——. 1988. Principles of Indonesian Philology. Holland: Foris Publication Series.
Teeuw, A. dkk. 2004. A Merry Senshor in the Malay World Four Texts of the Syair Sinyor Kosta. Leiden: KITLV.
Wiryamartana, I Kuntara. 1999. “The Scriptoria in the Merbabu Marapi Area”. Dalam BKI, 149, hlm. 504—509.
Zaini-Lajoubert, Monique, 2008. Abdullah bin Muhammad Al-Misri. Jakarta: EFEO-Komunitas Bambu.
DAFTAR KATALOG NASKAH MELAYU
Behrend, T.E. 1998. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor.
Howard, Joseph. 1966. Malay Manuscripts: A Bibliographical Guide. Kuala Lumpur: Universuity of Malay Library
Fathurrahman, Oman dan Munawar Holil. 2006. Katalog Naskah Aceh. Jakarta: C-DATS
Ikram, Achadiati, dkk. 2004. Katalog Naskah Palembang. Tokyo: C-DATS.
—–. 1999. Katalog Naskah Buton. Jakarta: Manassa-Yayasan Obor Indonesia.
Juynboll, H.H. 1899. Catalogus van de Maleische en Sundaneesche Handschriften der Leidsche Universiteits-Bibliotheek. Leiden: E.J. Brill.
Mamat, Wan Ali Wan. 19.. Katalog Naskah Melayu di Perancis. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
—— Katalog Naskah Melayu di Jerman. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Ricklefs, M.C. dan P. Voorhoeve. 1977. Indonesian Manuscripts in Great Britain: A Catalogue of Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections. London: Oxford University Press.
Ronkel, Ph. S. Van. 1909. Catalogus der Maleische Handschriften in het Museum van het Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wettenschappen. Leiden: E.J. Brill.
—— 1929. Supplement-Catalogus der Malesche en Minangkabausche Handschriften in de Leidsche Universiteits-Bibliotheek. Leiden: E.J. Brill.
Sutaarga, Amir dkk. 1972. Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Nasional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wieringa, E.P. 1998. Catalog of Malay and Minangkabau Manuscripts in the Library of Leiden University and Other Collections in the Netherlands. Leiden: Legatum Warnerianum in Leiden University Library.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Mei 2009
      S S R K J S M
           
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      25262728293031
  • Cari