CITRA WANITA DAN BUDAYA INDONESIA DALAM BEBERAPA NOVEL PRAMOEDYA: BANGKIT KARENA DITINDAS

Prof. Dr. Koh Young Hun
HUFS, Seoul, Korea
Like Poerbatjaraka, though in a very different style, Pramoedya Ananta Toer was, and is, a rebel against the Javanese culture he imbibed as a child and young man. So far as I know, he has never published a page in the language of his childhood home; but this does not mean that Java and its culture are ever very far from his mind.”(Anderson 1990: 218).
1. Pendahuluan
Budaya dapat dijelaskan dalam konteks pengertian sempit dan luas. Budaya dalam pengertian sempit adalah segala aspek kehidupan yang dianggap sebagai bertaraf tinggi, yaitu aspek-aspek kesenian dan adat istiadat yang istimewa. Adapun budaya dalam pengertian luas adalah segala kegiatan dan perlaku manusia yang dilakukan sebagai usaha dalam mencari penyesuaian dan kesempurnaan hidup di dunia.1 Kalau ditinjau dari segi ini, budaya dalam pengertian sempit menjurus kepada budaya kebendaan, sehingga budaya dalam pengertian luas adalah budaya budi. Agus Salim juga berpendapat bahwa budaya merupakan persatuan ‘budi’ dan ‘daya’, menjadi makna yang sejiwa. ‘Budi’ mengandungi makna ‘akal’, ‘pikiran’, ‘pendapat’, ‘ikhtiar’, dan ‘perasaan’; dan ‘daya’ mengandungi makna ‘tenaga’, ‘kekuatan’, ‘kesanggupan’. Dengan demikian, budaya bermakna ‘himpunan segala usaha dan daya upaya yang dikerjakan dengan menggunakan hasil budi untuk memperbaiki sesuatu dengan bertujuan mencapai kesempurnaan’.2 Dalam konteks yang sama, Koentjaraningrat
1 Ismail Ussein. “Arti Kata Kebudayaan” dalam Sharim Abdullah (ed.). 1960. Warna Sari Kebudayaan. Pp. 15-17.
2 Dikutip kembali dari Joko Suyono. “Sedikit tentang Soal-Soal Kebudayaan” dalam Sharim Abdullah (ed.). 1960. Op. cit. P. 72.
menjelaskan bahwa budaya dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan ‘akal’. Tylor juga menyatakan bahwa budaya merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan segala kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kalau ditinjau dari segi ini, budaya sesuatu bangsa merangkumi keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan adat istiadat, sistem dan cara hidup masyarakat mereka yang sebagian besarnya diwarisi dari zaman silam. Budaya itu jelas berupa usaha manusia berakal dan beradab untuk manusia sekarang dan masa lampau. Sesuatu pembaharuan dalam budaya sama sekali tidak mungkin berlaku tanpa didasarkan pada budaya yang telah ada dan yang telah lampau. Penyelidikan sejarah menunjukkan bahwa budaya suatu bangsa mengalami transformasi melalui saling meminjam dan saling mempengaruhi dengan budaya-budaya lain. Dengan adanya unsur-unsur demikian, budaya mendapat rangsangan baru dalam kesuburan dan kesinambungannya.4 Dalam pada itu, pengertian budaya bangsa mencakup: (i) satu anasir batin yang ditujukan kepada kerohanian, kepada arti dan maksud hidup, juga kebenaran, (ii) satu anasir lahir yang ditujukan kepada budaya lahir, yaitu segala sesuatu yang dapat mempermudah dan memperhalus kehidupan manusia, (iii) mengarahkan kepada konsep yang melihat budaya sebagai usaha atau upaya masyarakat untuk menjawab tantangan yang wujud pada suatu tahap tertentu perkembangannya.
Budaya suatu bangsa dan negara dapat dirasakan melalui teks sastra karena seorang sastrawan mencurahkan tanggapan tentang budaya bangsa dan negaranya dalam karya sastra yang dihasilkannya. Dia menunjukkan citra pro dan kontra terhadap budaya negara sendiri. Pramoedya juga tidak terkecuali. Pada prinsipnya Pramoedya membanggakan khazanah budaya Indonesia (Jawa) yang begitu kaya
3 Dikutip kembali dari Ensiklopedi Nasional Indonesia 3. P. 495.
4 Budaya Yunani umpamanya memuncak sesudah disuburkan bidaya Parsi dan Mesir. Budaya dan unggul. Dia berpendapat bahwa kalau ditinjau dari segi peninggalan tulisan, bangsa Indonesia lebih unggul daripada bangsa-bangsa Eropa menjelang abad kedelapan. Ini disebabkan karena bangsa Indonesia sudah dapat menulis pada waktu sebagian besar bangsa Eropa masih dalam keadaan buta huruf. Pada abad itu, bangsa Belanda baru berkenalan dengan agama Nasrani, belum lagi dapat membaca, malahan mereka membunuh penyebar injil golongan pertama, yaitu Bonifacius. Pramoedya kerajaan Roma juga baru memuncak setelah bercampur dengan budaya Yunani. Budaya Jawa dapat berhasil setelah mendapat pengaruh dari budaya India. membanggakan juga hakikat bahwa pujangga Mpu Tantular dan Prapanca berhasil menulis Sutasoma dan Negarakartagama masing-masing pada abad keempat belas, zaman Hayam Wuruk.
Namun, kalau ditinjau dari segi yang lain, bangsa Indonesia mengalami kekalahan terusmenerus selama tiga ratus tahun di medan perang dalam menghadapi peradaban Barat. Pramoedya berpendapat bahwa manusia, bumi, dan pemikiran Indonesia terus dikalahkan oleh Eropa, sehingga mereka tidak mengenal dunia luas. Tambahan pula Indonesia mengambil sikap menutup diri sendiri untuk menjadi bangsa yang terus menerima kekalahan yang kehilangan segala-galanya, baik di laut maupun di darat, malah dirinya sendiri. Yang tinggal hanya beban sejarah. Dalam pada itu, Pramoedya berusaha memperlihatkan citra wanita dengan menghubungkaitkan budaya Indonesia yang menjadi beban sejarah itu. Misalnya saja sebagian golongan priayi yang sanggup menjual anak perempuannya sendiri untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi (Bumi Manusia).
2. Citra wanita dalam karya sastra Indonesia
Dapat dikatakan bahwa banyak karya sastra Indonesia yang memusatkan wanita sebagai tokoh utama yang pasrah kepada nasibnya dalam karya sastra, khususnya dalam karya novel. Lazimnya wanita digambarkan sebagai tokoh yang terpaksa mengorbankan kepentingan dirinya sendiri. B. Simorngkir Simandjuntak pernah mengatakan bahwa kesusastraan Indonesia di masa yang silam dapat dikatakan semata-mata kesusastraan yang terpancar dari jiwa laki-laki saja. Tidak adanya pengarang wanita pada masa lampau tidaklah mengherankan, sebab pada masa dahulu perempuan dalam masyarakat tidak mendapat kesempatan yang sepenuh-penuhnya untuk mencurahkan hatinya atau
menumbuhkan jiwanya. Lagipula perempuan dalam masyarakat terikat oleh bermacam-macam ikatan: misalnya ikatan kebiasaan, kepercayaan, adat istiadat, dan kekeluargaan serta perkawinan. Kesempurnaan perempuan adalah dalam menghilangkan kemauan dan kehendak sendiri, penurut itulah mutu segala perempuan (B. Simorangkir Simandjuntak 1961: 91).
Dapat diambil beberapa tokoh wanita yang memperlihatkan citra pasrah kepada nasibnya dalam sastra Indonesia. Sitti Nurbaya diserahkan kepada Datuk Meringgih untuk dijadikan istri mudanya karena ayahnya Sitti Nurbaya, yaitu Baginda Sulaiman, tidak mampu melunasi utangnya kepada Datuk Meringgih. Sekali waktu, Sitti Nurbaya bermaksud menyusul kekasihnya, Samsulbahri, ke Jakarta. Namun, akibat tipu muslihat dan akal licik Datuk Meringgih yang menuduhnya telah mencuri harta perhiasan bekas suaminya itu, Sitti Nurbaya kembali ke Padang. Sitti Nurbaya malah meninggal karena diracuni anak buah yang disuruh Datuk Meringgih. Dalam pada itu, walaupun Sitti Nurbaya sedikit banyak digambarkan berusaha melarikan diri dari kongkongannya, usaha itu tidak mencolok dalam karya novel Sitti Nurbaya yang dihasilkan oleh Marah Rusli.
Nasib Rafiah dalam Salah Asuhan oleh Abdul Muis juga tidak banyak berlainan dengan Sitti Nurbaya. Kehidupan rumah tangga Hanafi dan Rapiah tidak berjalan lempang. Hanafi tidak merasa bahagia, sungguhpun dari hasil perkawinannya dengan Rapiah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, Syafei. Lagi pula, semua temannya menjauhi Hanafi. Hanafi beranggapan bahwa penyebab semua itu tak lain adalah Rapiah. Oleh karena itu, Rapiah menjadi tempat segala kemarahan Hanafi. Walaupun diperlakukan begitu saja oleh suaminya, Rapiah tetap bersabar. Ketika Hanafi berobat ke Betawi karena digigit anjing gila, dan dia bertemua lagi dengan bekas kekasihnya Corrie, sekian lama Rapiah tetap menjaga rumah tangga dengan ibu mertuanya sambil mengasuh Syafei. Rapiah digambarkan pengarang sebagai seorang wanita yang pasrah kepada takdirnya.
Sri Sumarah dalam Sri Sumarah oleh Umar Kayam memberi contoh tipikal seorang wanita Jawa yang berjuang untuk bertahan hidup. Sri Sumarah, seorang wanita Jawa dari kalangan priayi rendah, yang setelah terlalu dini dirtinggal mati suaminya, terpaksa sendirian mendidik anak perempuannya yang berumur 12 tahun. Dia hidup sederhana dengan menerima jahitan, dan menolak tawaran menikah lagi, walaupun masih tetap cantik. Ketika anaknya yang masih remaja itu pulang dari sekolah menengah dan memberitahukan bahwa dia sudah hamil, Sri menggadaikan sebidang tanah untuk biaya penyelenggaraan upacara perkawinan anaknya agar sesuai dengan tuntutan adat. Malapetaka datang menimpanya karena menantunya mati terbunuh setelah peristiwa Oktober 1965, dan anaknya pun dipenjarakan. Maka, Sri Sumarah tinggal seorang diri dengan cucunya tanpa sarana hidup apa pun. Kemudian Sri Sumarah menjadi tukang pijit, sehingga dapat menghidupi diri sendiri, cucunya, dan bahkan juga untuk anaknya yang dipenjarakan. Selama itu, dia tetap tinggal terhormat sepenuhnya sesuai dengan tata susila Jawa – kecuali pada sekali perjumpaannya dengan seorang langganannya yang mendebarkan berahi. Sikap berjuang untuk bertahan hidup Sri Sumarah dapat dirasai dari adegan berikut.
Duk, memang sudah aku niati untuk menyekolakan kau sampai tinggi. Itu sudah janjiku kepada orang tuamu yang – oh, Allah, kok ngenes betul lelakonmu – sudah meninggal. Aku, embahmu. nDuk, belum akan merasa selesai sebelum aku melihat engkau selesai sekolah di kota, kawin, dan sebelum aku bisa memangku cucuku.” Itulah kata-kata embah putrinya, kata-kata dramatis seorang nenek yang fantasi dan imajinya tentang kewajiban dan pengorbanan adalah penderitaan yang mulia dan berbahagia, seperti penderitaan Kunti (Sri Sumarah: 10).
Sri Sumarah mewakili konsepsi Jawa tradisional tentang istri priayi, dan dalam hal ini benar-benar meyakinkan. Ia selalu terkenang bagaimana dulu, ketika masih gadis remaja, oleh neneknya dilatih agar menjadi seorang istri yang baik bagi suaminya kelak, dengan selalu menyuruhnya agar selalu seperti Sumbadra, agar benar-benar menjadi seorang istri yang sabar dan patuh, serta mengerti sepenuhnya kelemahan-kelemahan suami, sementara itu pun mengagumi keperkasaannya sebagai laki-laki, pendek kata agar selalu pasrah dan tidak pernah terang-terangan menolak atau melawan terhadap apa pun yang dimintanya(Teeuw 1989: 197-198). Namun demikian, dapat dikatakan bahwa pandangan Sri sumarah sedikit berbeda dengan pandangan Sitti Nurbaya dan Rapiah. Dibandingkan dengan Sitti Nurbaya dan Rapiah yang mengalami kekalahan sahaja, Sri Sumarah
tidak menyerah kalah kepada nasibnya dengan begitu saja. Sri Sumarah menyadari belenggu yang dikenakan baginya oleh nasib dan budaya Jawa, dan belenggu ini semakin keras bersamaan dengan setiap malapetaka yang menimpa dirinya. Walaupun begitu, dia menunjukkan tingkah laku bebas yang tersisa baginya untuk mempertahankan diri, batas-batas tertentu yang di dalamnya ia masih bisa bergerak. Namun, Sri Sumarah tidak memperlihatkan sikap pemberontakannya terhadap nasib atau nilai-nilai suatu sistem budaya.5 Bagaimanapun, dalam cara yang tampaknya sederhana, pengarang berhasil melebur kisah tentang Sri Sumarah dengan penyingkapan dalam pikiran Jawa berikut kaidah-kaidah serta nilai-nilainya (Teeuw 1989: 198).
Dalam novel Pada Sebuah Kapal, Nh. Dini menampilkan tokoh Sri sebagai seorang wanita Jawa yang menempuh perjalanan hidup yang cukup menyengsarakan. Pada umur tiga belas tahun, Sri ditinggal wafat ayahnya. Selepas SMA, Sri bekerja sebagai penyiar di RRI di kota tempat tinggalnya, Semarang. Ibunya pun meninggal juga tujuh bulan setelah Sri tinggal di Jakarta. Dia jatuh cinta dengan seorang perwira penerbang bernama Saputro. Namun, Sri harus menghadapi peristiwa pahit, yaitu Saputro gugur, jatuh bersama pesawat yang ditumpanginya. Dia menikah kembali dengan Charles Vincent, seorang diplomat di kedutaan Prancis, dan bersamanya tinggal selama bertahun-tahun tanpa kebahagiaan di Jepang. Akhirnya dia bertemu dengan Michael di kapal yang membawanya ke Prancis, dan hubungan
mereka menjadi intim. Nh. Dini mempersoalkan kedudukan wanita dalam perkawinan dalam novel ini. Sri dalam Pada Sebuah Kapal tidak hanya bebas menentukan pilihannya, tetapi juga merasa mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, yang menimbulkan penyelewengan dari segi hukum dan adat. Namun demikian, hubungan antara Sri dengan Michael sama sekali tidak membuat Sri merasa berdosa, bahkan dia merasa menemukan kebahagiaan pada diri kekasihnya. Nh. Dini berhasil memperlihatkan sikap wanita Indonesia yang bebas melalui
5 Mengenai konsep pemberontakan yang dimaksud dalam makalah ini, dapat dirujuk kepada beberapa buku antara lain The Rebel(Albert Camus, terjemahan Anthony Bower, 1969) dan “Mitos Kekalahan dan Imej-imej Pemberontakan dalam Drama Moden Malaysia”(Koh Young Hun, Tesis S2, Universiti malaya, 1990).
Sri, yang berusaha memberontak terhadap nilai budaya yang tidak menguntungkan bagi kaum
wanita.
Dalam pada itu, penulis novel tersebut sengaja mengemukakan tokoh-tokoh asing sebagai jodohnya Sri yang muncul dalam karya ini seperti Carl, Charles Vincent, dan Michael, supaya sedikit banyak dapat mengurangi kesan pemberontakannya terhadap nilai budaya Jawa. Dengan perkataan lain, seandainya tokoh Carl, Charles Vincent, dan Michael diganti dengan orang setempat, kemungkinan besar Sri tidak berani memilih jodohnya seperti yang dilakukan dalam Pada Sebuah Kapal. Teeuw juga berpendapat bahwa Nh. Dini menulis dengan suara yang sangat tertahan, tetapi sangat lancar dan ringan. Kepatutannya ditarik pertama-tama dari tokoh-tokohnya (wanita Indonesia), yang berpihak pada segala yang benar
dan layak menurut ukuran-ukuran Indonesia (Jawa). Wanita-wanita ini sederhana dan lembut,
walaupun memiliki rasa harga diri yang kuat, penyegan dan sopan santun, serta memiliki kepekaan yang lembut, sehingga mereka tanggap terhadap kebaikan dan kelembutan, tetapi tak kurang terguncang dan jijik terhadap kekerasan dan kekasaran (Teeuw 1989: 194).
3. Wanita dan budaya Indonesia dalam beberapa novel Pramoedya
Pramoedya memaparkan citra wanita Indonesia dalam karya novelnya dengan cara yang berlainan dengan novelis-novelis lain. Beberapa tokoh wanita termasuk Nyai Ontosoroh dan Surati dalam tetralogi Bumi Manusia, Midah dalam Midah-Si Manis Bergigi Emas, yang muncul dalam karya novel Pramoedya, memperlihatkan citranya yang erat berhubungan dengan khazanah budaya Indonesia pada umumnya, dan budaya Jawa pada khususnya. Sebagian besar tokoh wanita ini memperlihatkan sikap yang sedikit banyak berlainan dengan wanita Indonesia yang umum. Mereka antara lain menempuh kesulitan dan akhirnya masingmasing menjadi pengusaha besar, membalas dendam atau menjadi seniman yang diidamkan dan sebagainya. Dengan demikian Pramoedya memaparkan citranya melalui tokoh-tokoh yang diciptakannya. Tokoh-tokoh seperti ini sebenarnya jarang muncul dalam arena sastra Indonesia.
Bukan kebetulan apabila Pramoedya menampilkan wanita dalam novel tetralogi Bumi
Manusia sebagai pembentuk tokoh untuk dapat menjawab tantangan nasional dalam zamannya. Biarpun tokoh wanita yang dicipta oleh Pramoedya adalah bersifat legendaris, namun sasaran utama adalah seruan kepada kaum wanita untuk menyadari bahwa bungabunga nasionalis bangsa itu berada dalam tangan mereka. Nyai Ontosoroh, salah seorang tokoh penting dalam novel ini digambarkan Pramoedya sebagai seorang wanita yang menempuh penderitaan sebagai gundik yang terhina, dan akhirnya menjadi seorang pengusaha yang mengelola perusahaan besar. Sanikem yang berumur empat belas tahun dijual untuk menjadi gundik oleh ayahnya sendiri, Sastrotomo, yang ingin naik pangkat dari juru trengkas kepada juru bayar di pabrik gula Tulangan.
Walau bagaimanapun, adat menjual anak kandung untuk tujuan apa pun tidak dapat dianggap sebagai wajar dan waras. Hal ini diperlihatkan apabila Sanikem dan Surati sangat kesal terhadap perbuatan ayah masing-masing. Karena itulah maka Sanikem kehilangan rasa penghargaan dan hormat pada ayahnya, dan Surati pula membalas dendam dengan cara yang kejam, yaitu ia dengan sengaja dijangkiti wabak cacar dan kemudian menjangkiti pula diri Plikemboh yang akhirnya menemui kematian. Oleh yang demikian dapat dikatakan bahwa Sanikem dan Surati memperlihatkan citra wanita Indonesia yang berlainan dengan wanita umum Indonesia.
Nyai Ontosoroh alias Sanikem digambarkan sebagai seorang wanita yang mendapat pendidikan baik dengan pertolongan suaminya, Herman Mellema, sehingga ia tidak lagi menjadi hina, tetapi sebaliknya dapat menjalani kehidupan yang terhormat di samping memainkan peranan penting dalam kesadaran wanita. Sebagai seorang gundik, Nyai ternyata bukanlah sampah-hina-dina seperti yang sering tergambar pada masyarakat kolonial waktu itu. Berkat ajaran tuannya, Nyai berhasil mengembangkan perusahaan pertanian di Wonokromo, Broedereij Buitenzorg. Bahkan, Nyai bersam-sama Annelies, anak perempuannya, menjadi tulang belakang tegaknya perusahaan setelah Tuan Mellema menjadi disingkirkan Nyai. Dalam pandangan Nyai, suaminya tidak dapat dianggap lagi sebagai manusia bermoral yang patut dihormati dan disayangi, karena Herman Mellema melewatkan sepanjang waktunya di rumah pelacur. Nyai kini mengambil sifat seakan-akan macan betina yang garang: keras, tegas, pintar dan memiliki harga diri yang tidak 8
luluh oleh penindasan. Dengan perkataan lain, Nyai adalah manusia dengan pribadi yang mengagumkan.
Nyai sebagai motif sastra cukup luas tersebar, terutama dalam novel pop lama. Tetapi justru dalam permanfaatan motif itu Pramoedya menunjukkan kemahiran dan keasliannya. Karier Nyai dari budak menjadi nyonya besar sendiri cukup dramatis dan merangsang imajinasi, dan menerobos secara drastis konvensi puluhan cerita nyai yang tradisional. Namun, Pramoedya juga mentransformasikan motif ini menjadi tema utama dalam struktur cerita pembebasan Minke dari sistem feodal-kolonial; Nyai menjadi contoh, bahkan teladannya. Tidak kebetulan pula, dalam keseluruhan perkaryaan Pramoedya, wanitalah yang membebaskan diri (Teeuw 1997: 234). Boris Parkikel berpendapat bahwa kawin paksa yang dialami si cantik Sanikem dalam napas tradisi mitologi Indonesia itu, melambangkan ikatan secara paksa antara tanah Jawa dengan pendatang yang tidak diundang dari seberang laut, suatu ikatan yang diadakan dengan persetujuan raja-raja tanah Jawa yang pengecut dan berpamrih (Boris Parnikel 1981: 260-261).
Adat ini diwariskan kepada anaknya Sastrotomo, yaitu Sastro Kasier, yang menjual juga anak kandungnya, Surati, kepada administrator pabrik gula, Frits Homerus Vlekkenbaaij (Plikemboh), untuk menjaga jabatannya.6 Surati sangat kesal terhadap perbuatan ayahnya. Karena itulah maka Surati membalas dendam dengan cara yang kejam, yaitu dia dengan sengaja dijangkiti wabak cacar, kemudian menjangkiti diri Plikemboh yang akhirnya menemui kematian karena kejangkitan itu. Kedua kasus turun-temurun ini menunjukkan bahwa golongan priayi menganggap jabatan lebih penting daripada segala yang lain. Pandangan seperti ini diungkapkan Pramoedya dalam novelnya sebagai berikut.
Jabatan – dia segala dan semua bagi pribumi bukan tani dan bukan tukang. Harta benda boleh punah, nama boleh rusak, jabatan harus selamat. Dia bukan hanya penghidupan, di dalamnya juga kehormatan, kebenaran, hargadiri, penghidupan sekaligus. Orang
6 Cerita ini mirip dengan cerita Nyi Paina oleh H. Kommer. Dalam cerita itu, protaginisnya membiarkan diri ketularan penyakit cacar dengan tujuan membubuh tuan besar Briot yang dibencinya, yang menuntut hak memiliki dia sebagai Nyai.
berkelahi, berdoa, bertirakat, memfitnah, membohong, membanting tulang, mencelakakan sesama, demi sang jabatan. Orang bersedia kehilangan apa saja untuk dia, karena, juga dengan dialah segalanya bisa ditebus kembali. Semakin jabatan mendekatkan orang pada lingkungan orang Eropa, semakin terhormatlah orang (Anak Semua Bangsa: 130).
Pandangan seperti ini menunjukkan betapa pentingnya suatu jabatan bagi priayi Jawa pada masa itu. Kenyataan ini sebenarnya eart berkaitan dengan kebijakan pihak penjajah Belanda yang ingin memperluas dan memperkuat birokrasi tanah jajahannya. Tuntutan idiom budaya Belanda yang sangat menekan rasionalitas, keberkesanan, dan produktivitas, yang ditambah dengan sifat ketamakan sistem kolonialisme, sama sekali tidak memberi ruang kepada para penguasa pribumi untuk memahaminya secara mendalam. Bahkan kemudian ternyata para pangeran, bupati itu, mungkin karena putus asa, coba mencari penyesuaian dengan menempatkan diri mereka sebagai sebagian dari alat roda birokrasi pemerintah Hindia Belanda. Pada abad ke-20, Belanda berhasil membentuk Hindia Belanda sebagai negara apolitik(beambtenstaat), yang lebih mengutamakan dinamiknya pada birokrasi, bukan pada kekuatan politik. Inilah yang menjadi sebab berlakunya penyerapan sistem birokrasi Hindia Belanda.7 Oleh yang demikian, menjadi anggota elit birokrasi, menjadi pegawai gubernemen, adalah cita-cita tipikal terdapat pada orang Jawa. Ini adalah kelanjutan dari nilai lama “ngawula ing praja lan raja” (menghambakan diri kepada negara dan raja). Dengan demikian lakon wayang Sumantri genger yang mengisahkan ambisi seorang pemuda desa untuk menghamba ke ibu kota dan mendapatkan tempat yang baik pada raja meski harus mengorbankan adiknya, merupakan lakon yang sangat penting juga buat orang Jawa (Umar kayam: 19).
Pramoedya memandang berat terhadap warisan budaya priayi yang negatif seperti yang tersebut di atas karena dia menganggap bahwa warisan budaya itu merupakan salah satu
7 Lihat Heather Sutherland, 1979. The making of Bureaucratik elite; the Colonial Transformation of the Javanese Priyayi. P. 1-2.
rintangan dalam usaha pemodernan bangsa, dan tentu saja tidak memberi faedah juga untuk kemajuan bangsanya. Dahm juga berpendapat bahwa pihak Sasanka Purnama, satu badan kaum Jawa yang ditubuhkan dengan prakarsai Tjokroadikusumo pada tahun 1905 dengan bertujuan asas perkembangan kemajuan orang Jawa, mengkritik adat karena dianggap sebagai penghalang kemajuan (Dahm 1988: 41). Oleh yang demikian, menurut Pramoedya melepaskan faktor-faktor warisan budaya yang tidak menguntungkan, kecuali warisan budaya yang waras, penting sekali bagi mewujudkan kembali bangsa yang unggul dan maju. Terdapat nada sinis Pramoedya terhadap sikap beku dan pasif golongan priayi yang sudah puas dengan kedudukannya dan berminat pada kenaikan pangkat dan penjagaan jabatannya saja. Sebenarnya kaum priayilah yang mendapat keuntungan pendidikan yang disediakan pihak penjajah Belanda, kemudian mereka bekerja sebagai alat bagi pemerintahan kolonial. Mereka tidak berusaha apalagi memberontak terhadap kuasa penjajah supaya membebaskan bangsanya sendiri. Sesudah tahun 1830 orang-orang Jawa yang secara fisik berbaku-hantam dengan kaum penjajah hanyalah sekadar sekelompok kecil para haji, jagoan setempat, petani, dan unsur-unsur lain dalam kalangan orang kebanyakan (Sartono Kartodirdjo 1972: 71-125). Dibandingkan dengan itu, kelas atas Jawa telah menjadi pengangkat yang patuh pada Belanda dalam menegakkan Cultuurstelsel yang mengeksploitasi habis-habisan, dalam menyediakan kemudahan bagi perampasan kapitalisme agraria pribumi dalam era Liberalisme, dan sebagiannya sampai berakhirnya zaman penjajahan (Anderson 1990: 200-201). Sebagaimana diketahui, keselarasan dan keseimbangan adalah nilai-nilai yang sangat penting bagi orang Jawa karena hanya dengan demikian keselarasan, harmoni, jagad dapat dipertahankan. Dalam sistem kerajaan konsep harmoni tersebut menjadi harmoni yang hirarkis. Orang Jawa melihat dan menerima tempat kehidupannya sebagai suatu jagad yang utuh dan berjenjang-jenjang. Tempatnya telah ditentukan pada jenjang-jenjang tersebut dan hanya nasiblah yang akan sanggup menggesernya. Dengan pandangan dunia yang demikian priayi sebagai suatu elit birokrasi tidak berkembang menjadi suatu wahana medernisasi yang sebenarnya.8
8 Lihat Umar Kayam, 1989. “Transformasi Budaya Kita”. Pp. 17—18.
Dalam konteks ini, Pramoedya menggambarkan Nyai Ontosoroh sebagai seorang wanita yang berani memberontak terhadap ketidakadilan pihak kuasa kolonial dan juga terhadap adat istiadat bangsanya yang tidak menguntungkan. Tingkah laku Nyai yang mengesankan ini sebenarnya berasal dari rasa dendam terhadap ayahnya sendiri, terhadap sistem pemerintahan kolonial yang tidak seimbang, dan terhadap ketidakadilan masyarakat. Maka, dendam telah terpojok bangkit untuk melawan semuanya yang tersebut di atas. Ruang lingkup Nyai lama kelamaan menjadi luas. Dan, rasa dendam inilah yang menggalakkan Nyai lebih bersikap keras. Nyai mendedahkan peranan wanita yang tidak mudah kalah kepada lelaki. Kalau ditimbangkan keadan masyarakat yang feodal, peranan Nyai lebih menonjol sebagai tokoh perintis kesadaran masyarakat dalam menghadapi tantangan luar. Dalam pada itu, justru Nyai yang berperanan penting dalam mendorong Minke, tokoh utama tetralogi Bumi Manusia, ke arah pemikiran serta nilai baru, sehingga akhirnya menjadi seorang pejuang. Berhubungan dengan itu, Nyai berusaha membuat Minke supaya menyadari hakikat kuasa penjajah Belanda. Adegan berikut menunjukkan sikap Nyai itu.
Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap, Nak, abadi: yang kolonial, dia selalu iblis. Kau hidup dalam alam kolonial. Kau tak dapat menghindari. Tak apa, asal kau mengerti, dia iblis sampai akhir jaman, dan kau mengerti dia memang iblis – – – – Yang tidak kolonial dianggap tak punya hak hidup, termasuk mamamu ini. Berjuta-juta ummat manusia menderitakan tingkahnya dengan diam-diam seperti batu kali yang itu juga. Kau, Nak, paling sedikit harus bisa berteriak. Tahu kau mangapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Dan yang kolonial itu, kan itu persyaratan dari bangsa pemenang pada bangsa yang dikalahkan untuk menghidupinya? – suatu persyaratan yang didasarkan atas tajamnya dan kuatynya senjata?
(Anak Semua Bangsa: 75-76).
Dapat dikatakan bahwa pandangan Nyai Ontosoroh seperti ini mendorong Minke menjadi seorang pemberontak terhadap ketidakadilan kuasa kolonial. Nyai menjadi korban ayahnya yang rakus, tetapi dia menemukan kekuatan dalam keadaan tragis itu untuk mendidik diri, untuk menguasai masalah-masalah perusahaannya dan kemudian untuk memperjuangkan secara gigih hak-hak yang dirampas secara keji oleh sistem kolonial Belanda. Maka dapat dikatakan bahwa Pramoedya berhasil memaparkan kekuatan citra wanita yang bangkit ketika dia ditindas oleh ketidakadilan sistem penjajahan.
Pramoedya memaparkan juga aspek negatif golongan priayi dalam novel Gadis Pantai. Novel ini menggambarkan kehidupan seorang gadis kampung nelayan yang berumur empat belas tahun di pantai utara Jawa, yang terpilih oleh Bendoro Rembang sebagai istri sementaranya. Gadis Pantai, tokoh utamanya dalam novel ini, merupakan teman seranjang, bukan teman hidup Bendoro, yang menunggu perkawinan dengan wanita priayi yang sederajat dengannya. Nasib Gadis Pantai mirip dengan Sanikem alias Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia. Dapat dikatakan bahwa Gadis Pantai juga dijual ayahnya kepada Bendoro Rembang. Gadis Pantai tidur dengan Bendoro dan membantu mengurus kompleks keresidenan, kadang-kadang, dan bahkan sebuah mesjid. Perkawinan itu memberikan semacam wibawa kepadanya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya. Akan tetapi, Bendoro, seorang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya, setelah Gadis Pantai melahirkan seorang bayi perempuan. Hakikat ini menunjukkan bahwa sebagian golongan priayi meremeh-temehkan nasib seorang perempuan yang berasal dari golongan wong cilik. Sikap golongan priayi seperti ini digambarkan Pramoedya seperti berikut.
Seorang Bendoro dengan istri orang kebanyakan tidaklah dianggap sudah beristri, Sekalipun telah beranak selusin. Perkawinan demikian hanyalah satu latihan buat perkawinan sesungguhnya: dengan wanita dari karat kebangsawanan yang setingkat. Perkawinan dengan orang kebanyakan tidak mungkin bisa menerima tamu dengan istri dari karat kebangsawanan yang tinggi, karena dengan istri asal orang kebanyakan – itu penghinaan bila menerimanya (Gadis Pantai: 62-63).
Tingkah laku golongan priayi tentang perkawinan bertepatan dengan penjelasan Koentjaraningrat yang menjelaskan bahwa seorang pria priayi masih diangap seorang pemuda(jaka) selama ia belum mempunyai istri seorang istri utama(padmi) yang dinikahi dengan segala upacara adat perkawinan, walaupun mungkin ia sudah memiliki beberapa orang selir. Seorang padmi mendapat tempat di bangunan utama dari dalem, dan turut dalam semua kehidupan sosial suaminya, terutama bila ia orang yang berpendidikan (Koentjaraningrat 1984: 265).9
Dibandingkan dengan Bendoro yang mewakili golongan priyayi Jawa, Gadis Pantai dalam karya ini digambarkan Pramoedya sebagai seorang wanita yang berwawasan luas serta waras. Walaupun Gadis Pantai sudah menjadi istri seorang priayi (biarpun untuk sementara), dia tetap menunjukkan sikap yang berbeda dengan golongan priayi. Dengan perkataan lain, Gadis Pantai memaparkan sikap yang tidak feodal, yang berasal dari perikemanusiaan. Pandangan seperti ini terdapat dalam beberapa adegan seperti: : “Jangan mempergunakan sahaya itu mBok.” (Gadis Pantai: 23); “Ia merasai adanya jarak yang begitu jauh, begitu dalam antara dirinya dengan wanita yang sebaik itu yang hampir-hampir tak pernah tidur menjaga dan mengurusnya, selalalu siap lakukan keinginannya, selalu siap terangkan segala yang ia tak faham, bisa mendongeng begitu memikat tentang Joko Tarub, dan bisa mengusap bahunya begitu sayang bila siap hendak menangis. Hatinya memekik: mengapa aku tak boleh berkawan dengannya? Mengapa ia mesti jadi sahaya bagiku? Siapakah aku? Apa kesalahan
9 Kalau dibandingkan dengan upacara perkawinan seorang priayi dengan istri utama, terdapat juga perbedaan uapacara pernikahannya dengan selir. Dapat dijelaskan bahwa suatu perkawinan dengan seorang selir jarang dirayakan dengan suatu pesta yang meriah. Seorang selir mandapat bagian yang kecil dari dalem unutk tempat tinggalnya. Ia juga memasak sendiri bagi dirinya sendiri dan anaknya, dibantu oleh seorang atau dua orang pembantunya. Suaminya akan memanggilnya ke rumahnya di bangunan utama dalem apabila ia diperlukan. (Lihat Koentjaraningrat 1984: 264-265).
dia sampai harus jadi sahayaku?” (Gadis Pantai: 32); dan “Mengapa takut pada Bendoro? Mengapa? Bapak lebih kukuh dan kuat dari Bendoro. Bendoro bertubuh tinggi langsing, berwajah pucat, kulitnya terlalu halus, ototnya tak berkembang. Mengapa semua orang takut? Juga diriku?” (Gadis Pantai: 34).
Gadis Pantai menunjukkan sikap seorang wanita Jawa yang tidak mudah dikalahkan oleh nasib yang buruk itu. Dia menyadari bahwa perkawinan dengan Bendoro sudah tidak berarti lagi. Walaupun ayahnya merasa bangga karena anaknya sudah menjadi istri seorang pembesar dan kaya, Gadis Pantai sendiri, seorang korban yang terjual oleh ayahnya, menganggap bahwa perkawinan seperti itu tidak membawa kebahagiaan kepadanya (Lihat Gadis Pantai: 113-114). Dalam pada itu, Gadis Pantai memperlihatkan sikap yang tegas terhadap ketidakadilan budaya yang sanggup menyerahkan anak perempuannya kepada pembesar seperti: “Bukan lagi tepung udang. Manusia! Aku tak bsa dipungut begitu saja dari kampung, disimpan di dalam gudang. Kau, kau orang kota, apa yang kau tahu tentang orang kampung?” (Gadis Pantai: 129-130), “Ah, bapak aku cuma ingin diperlakukan seperti dulu. Pukullah aku kalau aku bersalah. Tapi jangan tabarkan hatiku semacam ini. Apa tak cukup penanggunganku di kota? Apa kurang banyak yang kuberikan buat penuhi keinginan orang tua jadi bini priayi? Mengapa sesudah seumur ini bapak sendiri bersikap begitu? Dan emak hampir-hampir tak mau bicara padaku? Apa dosaku?” (Gadis Pantai: 150). Dalam konteks yang sama, Gadis Pantai memaparkan citra pemberontakan yang lantang terhadap ketidakpatutan sikap golongan priayi yang mengabaikan tugasnya sebagai orang tua bagi bayi yang baru dilahirkan.
“Seribu ampun, sahaya datang buat serahkan anak sahaya ini, anak sahaya sendiri, bukan anak orang lain, Bendoro. Terimalah dia Bendoro.”
“Letakkan di ranjang!”
“Tidak mungkin, tuan.”
“Kau tak dengar perintahku?”
“Sahaya ini emak si bayi. Kalau bapaknya pun tak mau, apa pula merawatnya, Bendoro. Sebaiknya sahaya bawa pulang ke kampung.”
“Murkailah sahaya ini, Bendoro. Bayi bukan perhiasan, bukan cincin, bukan kalung yang bisa dilemparkan pada setiap orang.”
Gadis Pantai mengangkat muka, menantang mata Bendoro. Perlahanlahan ia berdiri tegak dengan bayi dalam gendongannya.
“Ayam pun bisa membela anaknya, Bendoro. Apalagi sahaya ini – seorang manusia, biarpun sahaya tidak pernah mengaji di surau.” (Gadis Pantai: 224).
Gadis Pantai diusirkan Bnedoro dengan tangan kosong. Dia melambangkan penduduk kampung yang dibodoh-bodohkan dan tak berdaya, yang badan-jiwanya dikuasai oleh elit kekotaan Jawa, wakil setempat raja-raja tradisional Jawa Tengah; dan pada latar belakang ada orang Belanda yang lebih kuat dan kekuasaannya lebih agung lagi, kepada siapa priayi Jawa telah menjual tanah Jawa yang keramat. Berkat gaya cerita yang halus dapat diambil bagian dalam ke-heranannya, ketakutannya, kesepiannya, kesedihannya, keterhinaannya, amarahnya, dan dengan demikian pembaca secara sangat intensif menghayati perkembangan Gadis Pantai dari gadis yang polos menjadi wanita dewasa yang penuh kesadaran ideologi (Teeuw 1997: 227-228).
Tokoh Midah dalam Midah-Si Manis Bergigi Emas juga mendedahkan citra yang istimewa. Midah digambarkan sebagai wanita muda yang terus-menerus menjadi korban ketamakan laki-laki. Nasib Midah tidak banyak berbeda dengan nasib Sanikem dan Gadis Pantai dalam urusan perkawinan. Midah dinikahkan dengan laki-laki pilihan ayahnya, dan syaratnya laki-laki itu berasal dari Cibotak, berharta, dan to’at kepada agama. Setelah tiga bulan perkawinan, Midah lari dari lakinya, Haji Terbus, dengan membawa beban hamil karena tahu Haji Terbus memiliki banyak bini. Ia terseret di tengah rimba jalan kota Jakarta tahun 50-an. Sebagai anggota rombongan pengamen, Midah selalu diganggu oleh teman lelakinya, pertama oleh anak muda, kemudian setelah ia melahirkan anaknya oleh pemimpin rombongan. Kemudian seorang agen polisi mengecewakan Midah karena dia menganggap percintaan antara mereka dapat dipercayai. Akan tetapi agen polisi itu lebih mementingkan hawa nafsu daripada cinta.
Pramoedya menggambarkan Midah sebagai seorang wanita yang begitu kuat untuk bertahan hidup. Pramoedya ingin memaparkan kekuatan seorang wanita berjiwa dan berpribadi kuat melawan ganasnya kehidupan. Midah menunjukkan citra seorang wanita yang nekad berusaha untuk mengabulkan cita-citanya. Midah yang punya bakat menyanyi sanggup melepaskan kenyamanan di rumah dan keluar dari rumah menuju ke Jakarta, kemudian dia mendapat kerja sebagai pengamen kroncong yang disukainya. Musik adalah segala-galanya baginya. Midah menganggapnya seperti: “kebebasan tanpa ikatan apapun jua dalam pengabdian pada kroncong” (Midah-Si Manis Bergigi Emas: 36), “Ah itu musik! Itu lagu! Itu keindahan! Itu kebebasan, keriangan, kebahagiaan-terkurung dalam ketumpulan manusia yang tergilas nafsu-nafsunya” (Midah-Si Manis Bergigi Emas: 29). Selain itu, Midah yang mengandung anak Ahmad terpaksa pulang kepada orang tuanya, tetapi ia menyadari bahwa tidak mungkin ia tinggal di rumah itu sesudah anak haramnya lahir. Ia berangkat lagi ke Jakarta dan memulai karier yang sangat berjaya sebagai penyanyi. Dari sikap Midah yang tidak menyerah diri, dapat diketahui hakikat bahwa Pramoedya hendak menciptakan tokoh yang bangkit dalam suasana yang menderita.
Dengan demikian cerita ini dapat juga dibaca sebagai pengaduan atas kekuasaan kaum lelaki serta kesewenang-wenangannya dalam masyarakat Indonesia. Pramoedya dalam karya sastra ini membawa wanita dalam kedudukan sosialnya lemah, yang akhirnya mengatasi masalah yang dihadapinya. Sekaligus menariklah dan unik dalam karya Pramoedya bahwa Midah, betapa pun banyaknya yang harus dikorbankan, memperoleh kebebasan dalam kesenian. Motif ini: seni yang membebaskan dan membahagiakan, bahkan memberikan pertahanan final terhadap segala ketidakadilan dan malapetaka, meresap seluruh cerita ini (Teeuw 1997: 202).
4. Kesimpulan
Pramoedya memandang berat terhadap budaya bangsa yang tidak menguntungkan, misalnya sikap golongan priayi yang mengamalkan pentingnya satu jabatan serta penyalahgunaan kekuasaan mereka. Menurut Niel, penyelewengan kekuasaan oleh sejumlah priayi telah demikian berkembang, sehingga terjadilah penderitaan yang luas di kalangan rakyat biasa (Niel 1984: 42). Dalam konteks ini Pramoedya memaparkan besarnya peranan perempuan atas citra-citra perempuan, khususnya perempuan Jawa, dalam berhadapan dengan sistem nilai kalangan priayi yang feodal. Sejak awal Pramoedya beranggapan bahwa perempuan telah menanggung beban yang paling berat atas sistem nilai tersebut. Tokoh Nyai Ontosoroh ditampilkan Pramoedya sebagai tokoh yang melihat beban dan subordinasi itu menjadi energi untuk membangun kekuatan. Gadis Pantai dan Midah dalam novel Gadis Pantai dan Midah-Si Manis Bergigi Emas masing-masing memaparkan sikap berjuang atau memberontak terhadap ketidakadilan budaya priayi yang feodal.
Dalam pada itu, Pramoedya tidak gagal juga untuk menunjukkan budaya priayi yang negatif dalam novel ini. Pramoedya sangat peka terhadap kekalahan bangsanya tang berpunca dari kelemahan warisan budaya bangsa sendiri. Dalam pada itu, dia berpendapat bahwa melepaskan beban sejarah yang tidak bermanfaat adalah salah satu jalan untuk memajukan bangsa yang pernah mempunyai sejarah yang gemilang karena warisan budaya yang membebani itu membawa penderitaan kultural yang berkepanjangan (Koh Young Hun 2005: 222). Kalau ditinjau dari segi ini, dapat dikatakan bahwa Pramoedya menjadikan karyanya sebagai benteng untuk melanjutkan perang saudara dalam budaya Jawa (Anderson 1982: 81).
Perlu ditegaskan bahwa pemikiran umum dalam pengkaryaan Pramoedya adalah perikemanusiaan. Pramoedya berusaha mewujudkan misinya lewat pengalaman konkrit seseorang. Dalam pada itu, satu benang merah yang ditetapkan adalah perikemanusiaan. Sebagian besar karya novel memaparkan pemikiran dasar ini melalui tokoh-tokoh yang diciptakannya. Misalnya, melalui tingkah laku dan tabiat tokoh-tokoh dalam novel Gadis Pantai, Midah-Si Manis Bergigi Emas, Perburuan, Keluarga Gerilya, dan tetralogi Bumi Manusia, dapat diperlihatkan pandangan Pramoedya ini. Jakob Sumardjo pun berpendapat bahwa masalah-masalah yang dikupasnya adalah masalah-masalah dasar manusia: kecintaannya pada keluarga dan bangsa, kebenciannya pada kebatilan sesama, kebahagiaan dan cacad-cacadnya. Semua itu dia tuangkan dalam bentuk fiksi yang padat, kaya dengan pengalaman manusia, menarik dan mengharu biru rasa kemanusiaan kita (Jakob sumardjo 1983: 64). Selain itu, Pramoedya mengembara dari dunia kekecewaan ke dunia hasrat. Dengan perkataan lain, ia mengkarya novel untuk mengejar impiannya yang menggunung. Baginya dunia kekecewaan adalah dunia kenyataan yang menjadi hambatan, sedangkan dunia hasrat adalah dunia impian yang memberi harapan dan semangat. Kedua dunia bertentangan ini membuat Pramoedya merasa sengsara, dan sekaligus memberinya semangat untuk melawan kesengsaraan itu. Dunia rekaan Pramoedya merupakan satu mimpi yang dijelmakan untuk memenuhi hasratnya, yaitu penjelmaan kemanusiaan, selain dapat memajukan bangsanya dengan menolak warisan budaya yang menjadi hambatan.
SUMBER RUJUKAN
Anderson, Benedict R. O’G. 1990. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Ithaca and London: Cornell University Press.
Anderson, Benedict R. O’G. 1982. “Sembah-Sumpah, Politik bahasa dan Kebudayaan jawa”. Prisma 11. November.
B. Simorangkir-Simandjuntak. 1961. Kesusastraan Indonesia. Jakarta: Pembangunan Dahma Bernhard. 1988. Sejarah Indonesia Abad Kedua Puluh(terjemahan Abd. Aziz Hitam). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Goenawa Mohamad. 1993. Kesusastraan dan Kekuasaan. Jakarta: Pustaka Firdaus. Jakob Sumardjo. 1983. Pengantar ovel Indonesia. Jakarta: Karya Unipress.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Niel, Robert van. 1984. Munculnya Elit Modern Indonesia(terjemahan Ny. Zaharah Deliar Noer). Jakarta: Pustaka Jaya.
Parnikel, Boris. 1981. “Roman yang ditulis di Pulau Buru” dalam Inostrannya Literatura, No. 8, (terjemahan Koesalah Soebagyo Toer).
Pramoedya Ananta Toer. 2003. Midah-Si Manis Bergigi Emas. Jakarta: Lentera Dipantara.
Pramoedya Ananta Toer. 2000. Gadis Pantai. Jakarta: Hasta Mitra.
Pramoedya Ananta Toer. 1980. Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra.
Pramoedya Ananta Toer. 1980. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Hasta Mitra.
Sutherland, Heather. 1979. The making of Bureaucratic elite: the Colonial Transformation of the Javanese Priyayi. Singapore: Heinamann.
Teeuw. A. 1997. Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer. Jakarta: Pustaka Jaya.
Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya.
Umar Kayam. 1975. Sri sumarah. Jakarta: Pustaka Jaya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s