TANTANGAN BAHASA INDONESIA BAGI PAKAR DI LUAR INDONESIA: EMOSI DAN PENYEBABNYA

TANTANGAN BAHASA INDONESIA BAGI PAKAR DI LUAR INDONESIA: EMOSI DAN PENYEBABNYA
Adjekiva atau verba?
Tantangan yang besar dalam memerikan bahasa yang asing bagi pengamatnya adalah perbedaan kategori semantis (yang mencakupi bukan hanya kosa kata melainkan juga kategori gramatikal), dan tentunya ketidaksejajaran kategori gramatikal itu sendiri. Berbagai pengamat di luar “alam Melayu” atau Asia Tenggara (alias dari Eropa) karena itu cenderung menggarisbawahi perbedaan antara bahasa Melayu/Indonesia dan bahasa mereka sendiri. Ancangan itu menghasilkan pengamatan yang negatif seperti “bahasa ini tidak mempunyai kata sandang dan tidak mengenal kala juga”. Tidak jarang mereka terpikat dengan ciri bentuk yang menonjol (di mata mereka), maka keanehan bentuk itulah yang mereka garis bawahi dengan melangkahi analisis semantis yang memadai (“untuk jamak cukuplah mengulangi kata untuk tunggal”). Dengan berkembangnya linguistik pengamatan pakar asing itu menjadi lebih canggih. Sampai ada yang mencegah istilah adjektiva untuk bahasa Indonesia untuk menekankan perbedaan dengan bahasa Inggris, Prancis, dan Belanda. Padanan adjektiva bahasa-bahasa Eropa itu disamakan mereka dengan verba, khususnya verba intrasitif. Tetapi tidak seratus persen juga, karena tetap dibedakan. Labrousse mengikuti Lombard (1977) membedakan verbes d’action (verba kegiatan, yang mencakupi verbes transitifs dan verbes intransitifs) dan verbes d’état (verba keadaan) (Labrousse 1984: xv). Prentice (1987: 192) dengan membedakan transitive verbs (seperti bunuh, sapu ‘sweep’, rusak ‘damage’), dynamic verbs (seperti pergi, duduk, mati ‘die’, tahu), dan stative verbs “ (seperti bagus, banyak ‘numerous’, mati ‘dead’, rusak ‘damaged’). Steinhauer (2001: 46) malah menggunakan istilah dynamisch intransitieve verbalen dan statisch intrasitieve verbalen (verba intransitif dinamis dan verba intransitif statis).
Sebenarnya bukan hanya pengamat Eropa yang bergelut dengan masalah penggolongan kata dalam bahasa Melayu/Indonesia. Harimurti
Kridalaksana menguraikan berbagai ancangan sepanjang sejarah pengamatan bahasa Melayu/Indonesia (Kridalaksana 1986: 10-25). Satu orang pakar Indonesia mendahului pengamat Eropa dalam menggolongkan adjektiva sebagai subkelas verba. Anton M. Moeliono dalam tesis masternya memilah kategori besar “verbals” (yang ditandai oleh penegasian dengan tidak) menjadi dua subkelas, transitif dan intransitif; subkelas terakhir mencakupi juga adjektiva yang merupakan subkelas bawahan lagi berkat kemungkinannya didahului oleh pemarkah taraf (1965: 15-16).
Yang jelas, kategori adjektiva dalam bahasa Melayu/Indonesia merupakan kategori yang cukup goyah. Namun, itu inheren pada suatu kategori satuan bahasa yang fungsi utamanya mengungkapkan ciri acuan nomina. Dan karena itu bisa muncul sebagai inti atribut nominal atau sebagai inti predikat. Posisi menengah itu tercermin secara lintas bahasa dalam kelakuan kata yang merupakan padanan dari adjektiva dalam bahasa Eropa barat.
Berbagai bahasa di dunia tidak mempunyai adjektiva sama sekali. Dalam tradisi ketatabahasaan klasik romawi apa yang sekarang kita sebut “adjektiva” dalam bahasa Latin dianggap nomina. Kedua-duanya mempunyai kategori kasus dan jumlah dengan morfologinya yang sama juga. Bandingkan paradigma untuk nomina dominus ‘tuan’, dan “adjektiva” doctorandus ‘(laki-laki) yang harus menjadi doktor’, dan bonus ‘(laki-laki) yang baik’.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s