MEDIA CETAK DAN BAHASA INDONESIA: MELIRIK SEGMEN MEDIA ORANG MUDA

MEDIA CETAK DAN BAHASA INDONESIA: MELIRIK SEGMEN MEDIA ORANG MUDA
Hendry Ch Bangun
Sekjen PWI Pusat
Contoh 1
• Apa sih yang sering kita lakukan untuk mengisi waktu luang atau kegiatan yang kita sukai? Misalnya, kita suka membaca, menggambar, menulis buku harian, dan memasak. Coba deh mengasah hobi kita itu dengan memperbanyak latihan, seperti banyak membaca dan menulis puisi. (Kompas, Muda, 17 Oktober 2008)
Contoh 2
• “Kamu punya buku baru nggak?”
• “Buku ini bagus lho, aku udah baca.”
• Teman-teman mungkin sering denger-denger kata-kata seperti itu dari teman-teman kita yang hobi baca. Dan kalau kita ke toko buku, kita pasti nemuin orang-orang yang nggak cuma liat-liat, tapi juga niat beli atau cuma numpang baca doang. (Warta Kota Muda, 19 Oktober 2008)
Contoh 3
• Dulu..setiap mengisi sebuah form pada bagian “Hobi:” aku seringnya jawab berenang, tidur, ngemil,nonton…Well, bisa aja sih menghasilkan uang dari hobi-hobi tersebut, tapi sebenernya aku punya hobi (the real one which i never realized when i was younger) yang sekarang jadi modal aku bekerja di Gogirl, yaitu hobi baca majalah dan doodling (bikin coret-coretan nggak jelas dimana-mana). Some of you guys mungkin udah tahu kalau me and my sisters are magazine freaks…(Gogirl! Oktober 2008).
Contoh 4
• Social network sites has become a lifestyles nowadays. Situs pertemanan kayak facebook, My Space dan Friendster jadi ajang “ketemu dan ngumpul” bareng temen-temen, finding long
lost friends, cari temen baru bahkan pacar. Adu narsis dengan gonta-ganti foto supaya profile kita dilihat orang sih wajar. But lately, kita bisa lihat banyak banget foto-foto yang “berani” di sana. Hmm, apa maksudnya yah? (Gogirl! Okt 2008)
Contoh 5
• Kuliah di Harvard University-Amerika merupakan dambaan setiap orang, namun study di kampus bergengsi ini bisa diraih gratis lho? Tentu dengan cara melewati program bea siswa yang ditawarkan beberapa institusi untuk mengambil gelar S1, S2 atau non gelar di luar negeri. AMINEF misal lembaga yang menelorkan program Fullbright ini, memberi dana US$ 30.000 pertahun bagi peserta yang lolos test. Karena basicnya harus pintar maka bila memiliki IP 4.00 akan lebih punya peluang mengenyam study di Amerika. (Kartika, 2007)
Contoh 6
• Concern-nya pada bisnis kosmetika Mamanya, Martha Tilaar, Kilala Tilaar menjadi sering keluar masuk mal mencicipi lipstick dan produk kecantikan wanita lainnya. Teman-temannya di Amerika jadi sering menaruh curiga,” Kiki are you gay?” Baginya tidak ada kata manja, bahkan untuk bisa beli mobil rela menjadi loper koran. (Kartika, 2007).
Segmen Pembaca Muda (1)
• Kutipan-kutipan tadi mewakili dua jenis media dengan segmen pembaca muda. Pertama dari media umum yang mencoba menggaet pembaca muda lewat rubrik khusus yang ditujukan bagi kelompok usia belasan tahun tersebut. Di sini pekerja jurnalistiknya pelajar: mereka meliput dan menulis berita atau artikel yang disajikan. Dalam proses mereka dibantu redaksi.
Segmen Pembaca Muda (2)
• Kedua adalah majalah remaja: media dengan sasaran pembaca kaum muda, yang dikelola jurnalis profesional.
• Ada perbedaan dalam dua kelompok contoh, karena perbedaan kepentingan.
• Di media umum, rubrik kaum muda adalah upaya mengajak orang muda membaca koran, karena kecenderungan pembaca makin berusia tua dan akan habis.
Segmen Pembaca Muda (3)
• Media menjadikan kaum muda sebagai target sejak dini agar kelak mereka menjadi pembaca setia.
• Di negara maju kaum muda meninggalkan media cetak karena kemajuan iptek. Anak muda yang akrab komputer dan peralatan teknologi lain terbiasa mendapat berita dari perangkat itu. Mereka harus didekati dengan cara yang sesuai dunia mereka.
Segmen Pembaca Muda (4)
• Selain persoalan dan aneka problema orang muda, maka bahasa yang dipakai pun disesuaikan dengan dunia mereka. Misalnya istilah, ungkapan, kata, yang digunakan, pasti yang sedang ngetren.
• Secara umum bahasa Indonesia yang digunakan masih sesuai kaidah, berkat campur tangan pihak redaksi.
Segmen Pembaca Muda (5)
• Boleh disebut bahwa di media umum, remaja menjalani proses pembelajaran dalam mengekspresikan diri melalui Bahasa Indonesia di karya jurnalistik mereka.
• Remaja pembaca pun dapat menikmati topik yang disajikan karena penulisannya tidak jauh dari bahasa sehari-hari mereka.
Segmen Pembaca Muda (6)
• Dalam contoh dua majalah remaja putri di depan, bahasa yang digunakan bersifat paripurna. Bentuk ekspresi dibuat sesuai asumsi target pembacanya.
• Bila di media umum ada semacam proses pembaca muda kelak menjadi pembaca umum (tua), di media remaja tidak: akan selalu ada lapis baru pembaca muda.
• Saya berpendapat di sini tidak ada unsur mendidik, hanya menyuapi pembaca sesuai selera mereka: kurun usia yang suatu saat tokh akan ditinggalkan.
• Bila betul ini terjadi, terjadi perusakan karena ada kesenjangan bahasa media dengan bahasa yang didapat di sekolah.
Siapa Pemenangnya?
• Karena Bahasa Indonesia yang “dimasyarakatkan” di koran, majalah, media elektronik, justru sebagian besar bahasa lisan di pergaulan, bahasa anak muda cenderung menjauh dari bahasa baku. Apa yang mereka dapatkan di sekolah makin tergerus.
Solusi
• Media bagi kaum muda harus mendapat perhatian dari Pusat Bahasa, dijadikan mitra untuk pembinaan bahasa Indonesia.
• Dibuat program yang bermanfaat bagi kedua belah pihak, dan terutama masa depan bangsa secara keseluruhan.
• Sebetulnya media dituntut berperan dalam memasyarakatkan Bahasa Indonesia.
Media Memasyarakatkan Bahasa Indonesia
• Dalam UU no. 40 Tahun 1999 tentang Pers disebutkan dua fungsi media yang menurut saya terkait dengan peranan pemasyarakatan Bahasa Indonesia.
• Pasal 3 ayat : Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
Sebagai Media Informasi
• Berupa berita: memberikan informasi tentang kebijakan pemerintah tentang kebahasaan, kegiatan, tokoh, lembaga kebahasaan, dsb secara kontinyu.
• Memberi ruang: kolom kebahasaan atau artikel, opinis, dan pembahasan problema kebahasaan.
Media Pendidikan
• Media menjadikan dirinya sendiri, produk yang dihasilkannya, sebagai contoh dari masalah kebahasaan itu.
• Wujudnya adalah menyajikan pilihan berita yang menarik dan berdaya jual, tetapi mudah dicerna, sesuai kaidah tata bahasa dan kosa kata yang baku.
Kemampuan Media
• Data Dewan Pers 2006, dari 851 media di Indonesia (284 SKH, 327 SKM, 237 Majalah, 3 Buletin), Cuma 30% yang sehat.
• Sekitar 70% kurang sehat dan tidak sehat. (Tahun 2008 prosentase kira-kira sama)
• Sehat: ekonomis baik, terbit teratur, gaji sesuai standar, punya masa depan.
• Diasumsikan organisasi dan SDM baik.
Media Sehat
• Organisasi baik: di editorial ada fungsi penyaringan berita sebelum dilepas ke bagian produksi.
• SDM baik: memiliki kompetensi dalam meliput, menulis, dan mengolah berita
• Ada evaluasi rutin, pelatihan, dsb untuk meningkatkan kualitas SDM.
Media Tidak Sehat
• Organisasi seadanya, bergantung pada pemilik yang biasa adalah juga pimpinan.
• Wartawan sering merangkap pencari iklan, agen/penjual media tersebut.
• Rekrutmen SDM dengan persyaratan minimal.
• Kemampuan SDM terbatas, kepedulian atas bahasa juga kurang, seperti juga tidak peduli pada kode etik.
Kesimpulan
• Media hanya dapat menjalankan perannya termasuk peran memberi informasi dan edukasi, yakni dalam memasyarakatkan Bahasa Indonesia.
• Kondisi media saat ini memperlihatkan sebagian besar dalam kondisi tidak sehat sehingga sulit diharapkan peran itu dapat dilakukan dengan baik.
• Media untuk kaum muda yang berperan banyak dalam membentuk kepribadian generasi masa depan Indonesia harus mendapat perhatian dari Pusat Bahasa.
• Upaya pemasyarakatan Bahasa Indonesia melalui medium televisi yang menguasai sebagian besar waktu kaum muda perlu digencarkan kembali.
Bahan Bacaan
• Harian Kompas, 17 Oktober 2008
• Harian Warta Kota, 19 Oktober 2008
• Majalah Gogirl!, Oktober 2008
• Majalah Kartika, Desember 2007
• Membangun Profesionalisme Pers Dengan Menegakkan Hukum dan Etika Pers, Jakarta Depkominfo, 2007.
• Wawancara dengan Leo Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers, 20 Oktober 2008

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s