HIKAYAT ISKANDAR ZULKARNAIN DARI TERJEMAHAN KE TRADISI LOKAL

HIKAYAT ISKANDAR ZULKARNAIN
DARI TERJEMAHAN KE TRADISI LOKAL
Henri Chambert-Loir
Ecole française d’Extrême-Orient, Jakarta
Pada awal mulanya kesusasteraan Melayu yang kita kenal, yaitu sastra yang disusun di Pasai dan Malaka pada abad ke-14 dan ke-15, terdapat sejumlah terjemahan dari bahasa Sanskerta, Arab dan Parsi. Baik epos India (Hikayat Pandawa Jaya, Hikayat Seri Rama), epos kepahlawanan Islam (Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Hanafiyah), maupun teks agama (Kitab Aqa’id oleh Najm al-Din al-Nasafi, Burda oleh al-Busiri), atau juga kumpulan dongeng (Hikayat Bayan Budiman), semuanya kiranya merupakan terjemahan. Kita tidak mengetahui dalam konteks sosial dan kondisi mana semua teks itu diterjemahkan, sehingga patut sekali kita renungkan siapa menerjemahkannya, atas permintaan siapa, dan untuk khalayak mana.
Jenis terjemahannya juga perlu diamati, karena berbeda-beda dari satu teks ke teks lain. Kedua epos India misalnya, dalam bahasa Melayu seperti dalam bahasa Jawa, ditambah, dikurangi, diubah, pendeknya disadur sambil disesuaikan dengan alam lokal. Sebaliknya, epos-epos dari Timur Tengah seperti Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Muhammad Hanafiyah dan Hikayat Amir Hamzah diterjemahkan seadanya. Apakah ini berarti bahwa berbagai teks itu, selama berabad-abad, sepanjang perkembangan kesusasteraan Melayu, tetap merupakan terjemahan yang dipandang asing (seperti misalnya Harry Poter sekarang ini jelas merupakan terjemahan dan tidak pernah akan diasimilasi ke dalam budaya Indonesia), ataukah sedikit demi sedikit dicerna, diubah, diproses, sehingga diasimilasi dan menjadi karya Melayu?
Jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya lain-lain untuk masing-masing teks tersebut. Pada kesempatan ini saya akan menyimak salah satu terjemahan itu, yaitu Hikayat Iskandar Zulkarnain, dan secara lebih umum semua tradisi yang bertalian dengan tokoh Iskandar Zulkarnain. Hikayat tersebut jelas merupakan terjemahan, namun sampai sekarang ini kita belum mengetahui dengan pasti apakah diterjemahkan dari bahasa Arab atau Parsi. Dua hasil penelitian
(Leeuwen 1937; Doufikar-Aerts 2003) telah menunjukkan bahwa hikayat Melayu tersebut sangat mirip dengan karya berbahasa Arab oleh al-Suri1 berjudul Sirât al-Iskandar yang selesai disusun pada kira-kira awal abad ke-14.
Kisah Iskandar dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain boleh dikatakan muda sekali dibandingkan dengan kisah-kisah lain dalam berbagai bahasa yang lain, baik di Eropa maupun di Timur Tengah. Hikayat itu merupakan hasil suatu perkembangan panjang dan rumit dalam tradisi sastra Timur Tengah. Buat pengarang-pengarang Persia, Iskandar mula-mula musuh agung yang pernah menghancurkan kitab-kitab suci serta rumah ibadah mereka, dan telah membinasakan para pendeta Parsi. Pandangan itu hidup selama berabad-abad padahal pandangan baru sudah muncul sekitar abad ke-10 ketika tokoh Dhul-Qarnain dalam surat ke-18 al-Qur’an, Surat “Al-Kahfi”, dikenali sebagai Aleksander Agung dan beberapa penulis Islam mulai memperhatikan ceritera Iskandar oleh Pseudo-Callisthenes (yang pada saat itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab). Tabari2 (w. 923), penulis Arab yang hidup terutama di Baghdad, mempunyai peran utama dalam pembaharuan itu. Dalam karyanya tentang “Tarikh Nabi dan Raja” Iskandar telah menjelma sebagai orang Parsi yang mempunyai misi sedunia atas nama agama Islam. Sedangkan dalam bahasa Parsi, kisah-kisah Iskandar yang paling terkenal dan yang juga termasuk karya-karya agung kesusastraan Parsi, adalah karya Firdausi (1010), Nizami (c. 1191) dan Jami (1490)3.
Dengan demikian, dalam jangka waktu beberapa abad, sang penakluk dan penjajah dari Eropa telah berubah menjadi tokoh Islam melalui sejumlah perubahan yang bertentangan dengan sejarah, melalui juga sejumlah besar perbedaan dari pengarang yang satu kepada pengarang yang lain. Kalau mengamati versi cerita sebagaimana tertera dalam versi Melayu, yaitu Hikayat Iskandar Zulkarnain, maka transformasi itu adalah hasil empat unsur ciptaan yang penting.
Ciptaan pertama adalah kelahiran Iskandar. Dalam kenyataan sejarah dan dalam versi-versi Eropa yang terawal dari legenda
1 Abû Ishâq Ibrâhîm ibn Mufarrij al-Sûrî.
2 Abû Ja’far Muhammad bin Jarîr bin Yazîd al-Tabarî.
3 Abû l-Qâsim Firdawsî ; Jamâl al-Dîn Abû Muhammad Ilyâs bin Yûsuf bin Zakî Mu’ayyad Nizâmî Ganjawî ; Mawlânâ Nûr al-Dîl ‘Abd al-Rahmân Jâmî.
Aleksander, tokoh itu adalah putra Raja Philipos dari Makedunia. Tetapi dalam versi Timur Tengah, yaitu versi Islam, Iskandar adalah putra Raja Persia Darab (Darius I), dan dengan demikian dia adalah putra mahkota Persia yang hanya memperoleh haknya waktu mengalahkan adiknya sendiri Dara.
Ciptaan kedua adalah agama Iskandar. Menurut Hikayat Melayu, Iskandar belajar mengaji dengan Aristoteles, lalu digoda Iblis sampai murtad dan kemudian memeluk lagi agama Islam di bawah pengaruh Nabi Khidir.
Ciptaan ketiga adalah tugas Iskandar untuk mengislamkan seluruh alam. Pada asal mulanya Aleksander Agung didorong oleh tujuan memperadabkan dunia, lebih tepatnya membawa peradaban Yunani kepada bangsa-bangsa lain. Tokoh Iskandar dalam Hikayat Melayu juga mempunyai tujuan memperadabkan, tetapi yang sama sekali lain sifatnya. Iskandar telah ditugaskan Allah agar mengislamkan seluruh dunia. Maka dia menjelajahi dunia dari barat ke timur sambil mengislamkan segala bangsa yang belum memeluk “agama Nabi Ibrahim”.
Ciptaan keempat adalah peran Nabi Khidir yang terus menerus mendampingi Iskandar dalam perjalanannya. Nabi Khidir seorang tokoh Islam yang sangat masyhur. Dia tidak fana; dia setengah manusia setengah malaikat, setengah duniawi setengah surgawi. Dia seorang wali Allah. Dia kalifah Allah di laut; dia dapat berjalan di atas air, dapat menjadikan diri tidak kelihatan, dapat berbicara segala bahasa dari segala bangsa. Dalam Hikayat Melayu, Nabi Khidir begitu penting sehingga melebihi Iskandar sendiri sebagai tokoh utama. Dialah yang berjalan di depan tentara, dialah yang menyambut para utusan, dia yang menerjemahkan, dia yang menulis surat. Dia menasehati Iskandar waktu bingung dan memberinya semangat waktu bimbang. Dia mengajarinya, mengambil keputusan, dan dialah yang mengalahkan musuh-musuh mereka. Kehadiran Khidir itu mempunyai dampak terhadap gambaran Iskandar. Iskandar kehilangan segala prakarsa; dia berperang tetapi tidak sebanyak beberapa raja bawahannya. Daripada seorang tokoh epik dia telah menjadi agen manusiawi sebuah rencana ilahi. Dia tetap simbol sifat kerajaan, tetapi tugas penaklukan dan pengislaman terutama dilakukan oleh raja-raja lain dan terutama oleh Khidir. Nabi Khidir senantiasa rendah hati, namun terasa dialah yang menjadi tokoh utama hikayatnya.
Demikianlah versi al-Suri, demikian pula versi Melayu.
Sebenarnya, Hikayat Iskandar Zulkarnain bukan satu-satunya versi Melayu dari legenda Aleksander. Pernah ada sedikitnya satu versi lain, hasil pena Nuruddin al-Raniri. Dalam karnyanya bersifat ensiklopedi, Bustan al-Salatin, yang mulai ditulisnya tahun 1638 atas perintah Sultan Iskandar Thani (bertakhta 1636-1641), Nuruddin beberapa kali menyebut Iskandar sebagai teladan raja adil (Jelani 2004: 44). Dia juga menceritakan kisah penaklukan India menurut versi yang dekat dengan cerita Sulalat al-Salatin (di bawah), tetapi tulisnya, “Tiadalah fakir melanjutkan perkataannya dari karena sudahlah di-Jawikan fakir lain daripada kitab ini”4. Kalimat ini rupanya berarti bahwa sebelum tahun 1638 itu Nuruddin sudah pernah menerjemahkan suatu versi legenda Iskandar – mungkin sekali dari bahasa Arab. Namun terjemahan itu pasti bukan Hikayat Iskandar Zulkarnain yang kita kenal oleh karena Hikayat itu sudah ada dua abad sebelumnya.
Karya Nuruddin tentang Iskandar sudah hilang tanpa bekas. Maka jelas pernah ada sedikitnya dua Hikayat Iskandar, dan terbuka kemungkinan bahwa sejumlah tradisi Iskandar dalam sastra Melayu bersumber pada karya Nuruddin yang telah hilang itu, bukan pada Hikayat yang kita kenal. Karena terbukti tradisi Melayu tentang Iskandar sama sekali tidak terbatas pada Hikayat Iskandar Zulkarnain. Terdapat paling sedikit sepuluh tradisi lain, lisan atau tulisan, yang melihat Iskandar dari sudut pandang satu kerajaan tertentu. Di antara tradisi itu yang paling penting terekam dalam Sulalat al-Salatin di Melaka, Hikayat Banjar di Kalimantan Selatan, dan Ceritera Asal Bangsa Jin di Bima (Pulau Sumbawa). Patut dicatat pula bahwa sebuah teks Jawa berjudul Serat Iskandar yang terdapat dalam dua versi berlainan, ditulis di Surakarta pada abad ke-18 sebagai terjemahan dari bahasa Melayu, tetapi bukan terjemahan dari Hikayat Iskandar Zulkarnain karena jelas menyimpang dari teks Hikayat itu (lih. Sudewa 1995).
Sebelum membicarakan versi-versi tersebut lebih lanjut, kita harus mencatat dua hal penting, satu menyangkut resepsi Hikayat Iskandar Zulkarnain di tengah masyarakat Melayu, satu lagi mengenai tradisi Iskandar yang bersumber lain.
4 Dikutip oleh Winstedt 1938 menurut edisi Wilkinson.
Sesungguhnya kisah Iskandar terkenal dalam dunia Melayu dalam bentuk yang sangat berlainan dengan cerita petualangan dan kejayaan Iskandar sebagaimana diceritakan dalam Hikayat Iskandar Zulkarnain. Kisah Iskandar menyerap ke dalam tradisi Melayu itu bukan sebagai cerita utuh melainkan sebagai adegan-adegan terpisah. Harus diingat bahwa kisah tersebut disampaikan secara lisan. Kita mempunyai contoh dari pembacaan Hikayat Iskandar di depan sebuah khalayak pendengar. Contoh ini relatif baru, diceritakan oleh seorang Inggris, John Anderson, pada awal abad ke-19. Ketika berada di Deli, Sumatra Utara, pada suatu pagi di tahun 1823, dia melihat seorang pegawai istana membacakan kisah perjalanan Iskandar di depan dua ratus orang untuk membakar semangat perjuangan mereka5. Ini mengingatkan pada suatu adegan serupa 400 tahun sebelumnya, yaitu dalam Sulalat al-Salatin pada malam sebelum penyerangan orang Portugis, tahun 1511. Kita semua ingat, “segala hulubalang dan anak tuan-tuan semuanya bertunggu di balairung”, maka mereka meminjam dari Sultan Ahmad Hikayat Muhammad Hanafiyah untuk dibacakan di tengah mereka dan menarik faedah dari contohnya. Tak ayal lagi, demikianlah juga Hikayat Iskandar Zulkarnain dibacakan di depan umum sebagai contoh kepahlawanan, dan kiranya pula sebagai hiburan dan sebagai contoh tradisi dan sejarah Islam. Dengan kata lain, teks yang kita kenal sebagai suatu hikayat tertulis yang tersimpan dalam sejumlah naskah harus dipandang juga sebagai suatu “teks lisan” atau tradisi lisan.
Penyampaian hikayat Iskandar secara lisan itu menimbulkan pertanyaan yang sangat penting. Yaitu, kalau hikayat itu dibacakan selama beberapa jam pada waktu malam, berapa adegan dapat dibacakan dalam sekali baca? Hikayat itu sebagaimana kita kenal teksnya sekarang ini cukup tebal, persisnya 363 halaman dalam edisi Khalid Hussain dan tidak kurang dari 653 halaman (yang dicetak dengan huruf kecil sekali) dalam edisi Siti Chamamah Soeratno. Pasti yang dibacakan sebagian kecil saja dari teks tersebut. Kalau kita memperhatikan Hikayat Iskandar Zulkarnain dari sudut itu, maka ternyata cukup banyak adegan yang boleh merupakan kisah utuh, yaitu kisah yang tidak hilang artinya dan tidak hilang daya tariknya kalau
5 John Anderson, Mission to the East Coast of Sumatra in 1823, Kuala Lumpur: Oxford University Press, cité par Soeratno (1991: 142).
lepas dari kerangka hikayatnya. Contohnya penaklukan negeri Jabarsa dan negeri Ifriqiah, kemenangan atas negeri Alwah, petualangan di Kasymir, dan banyak lain lagi merupakan hikayat-hikayat pendek, lengkap dengan kisah cinta, pengkhianatan, peperangan, ilmu gaib, janji, pengalihan agama, hadiah, penemuan dan tipu-muslihat. Tidak perlu, bahkan tidak berguna, mengetahui adegan-adegan sebelumnya untuk mengerti dan menikmati cerita-cerita itu. Bahwa Iskandar sudah atau belum mengalahkan Dara, bahwa dia sedang berjalan ke Timur atau ke Barat, bahwa dia sudah menaklukkan satu atau seratus musuh tidak penting. Satu-satunya hal yang perlu diketahui ialah tugas Iskandar untuk mengislamkan dunia, dan itu jelas dipahami orang begitu mendengar nama Iskandar.
Kalau dilihat dari sudut itu maka Hikayat Iskandar Zulkarnain sebenarnya tampak sebagai suatu kumpulan cerita, hingga dapat diperbandingkan dengan kumpulan terkenal seperti Hikayat Bakhtiar dan Hikayat Bayan Budiman. Beberapa sifat lain dari teks itu membenarkan pandangan ini. Kesimpulan ini boleh mengejutkan karena kita terbiasa melihat Hikayat Iskandar Zulkarnain seperti hikayat lain, sebagai suatu kesuatuan, suatu karya utuh yang berdasarkan suatu struktur. Tapi justru struktur itulah yang tidak ada dalam hikayat tersebut. Cerita Iskandar pada dasarnya adalah sebuah kisah perjalanan. Strukturnya terbentuk oleh faktor ruang dan waktu: dalam ruang, kemajuan tokohnya atas peta dunia; dalam waktu, pelaksanaan suatu tugas. Namun, faktor yang pertama ternyata hancur dalam proses peralihan hikayat itu. Dalam karya-karya awal berbahasa Yunani, rute perjalanan Iskandar mengikuti fakta sejarah. Sampai dalam beberapa versi Arab (misalnya oleh Tha’alibi6) dan Parsi (misalnya oleh Firdausi) perjalanan itu masih dapat dikenali di satu peta. Namun dari satu cerita ke cerita lain perjalanan itu menjadi semakin rumit, antara lain karena ditambah negeri-negeri baru7 yang tempatnya di peta kadang-kadang jauh dari kenyataan (dalam Hikayat Melayu, Andalusia terletak dekat Turki), sedangkan banyak nama
6 Abû Mansûr ’Abd al-Malik ibn Muhammad ibn Ismâ’îl al-Tha’âlibî, 962-1038.
7 Roman Aleksander oleh Pseudo-Callisthene menambah negeri Roma dan Inggris; Roman oleh Alexandre de Paris menambah negeri Prancis, Scotland dan Irlandia; Tha’alibi menambah negeri Tibet; Hikayat Melayu menambah negeri Andalusia, Hijaz, Kairouan, Abysinia, Seilan, dan Cina.
tempat tidak dapat dikenali karena sudah rusak bentuknya. Ini suatu paradoks: Hikayat Iskandar Zulkarnain adalah teks pertama dalam bahasa Melayu yang mengandung suatu pemerian dunia (sedikitnya sebagian besar dunia yang diketahui pada masa itu) tetapi pemerian itu tidak berguna karena negeri-negeri yang bersangkutan tidak sesuai dengan peta dunia. Akhirnya yang diperkenalkan dalam Hikayat itu ialah sebuah dunia mitos yang dibatasi oleh daerah matahari terbit, daerah matahari terbenam, dan di daerah lain suatu tembok yang dibangunkan oleh Iskandar sendiri untuk membendung kaum Yajud wa Majud.
Tambahan pula deskripsi dunia itu mempunyai sifat realistis di alam raya (laut, sungai, gurun, lembah, gunung) tetapi hanya bersifat klise saja dalam hal semua kota. Iskandar melalui beberapa di antara kota yang paling terkenal dalam sejarah peradaban manusia (Rum, Yerusalem, Babylonia, Samarkand, dll.) tetapi satu pun tidak diperikan secara realistis.
Struktur cerita dalam Hikayat Melayu semakin rusak karena Iskandar ternyata dua kali melalui tempat yang sama atau melakukan perbuatan yang sama. Hal ini mungkin disebabkan karena percampuran dua versi yang berlainan dari legenda Iskandar. Barangkali (demikianlah Winstedt 1938: 2) penyusun versi Melayu itu8 berupaya untuk menyesuaikan versi Firdausi dengan versi Pseudo-Callisthenes. Bagaimanapun juga sebabnya, ternyata Iskandar dua kali mengunjungi masjid Nabi Sulaiman, dua kali melalui tambang zamrudnya, dua kali membinasakan kuda-kuda dari kuningan yang dibuat oleh Yafet, dua kali melihat matahari terbenam, dua kali bertemu dengan Ratu Ghidaqah, dua kali pergi menghadap Raja Darinus sebagai utusan, dua kali mengalahkan Raja India, dan sebagainya dan seterusnya. Akibat kerusakan alur cerita itu, negeri Persia tidak jelas lagi posisinya di tengah suatu dunia Islam yang luas dan samar geografinya, sedangkan struktur cerita menjadi sangat kabur.
Dengan demikian, biar kita mengamati Hikayat Iskandar Zulkarnain dari dalam (dari segi struktur ceritanya) atau dari luar (dari cara penyampaiannya) tampak kiranya bahwa khalayak Melayu (yang mendengar cerita itu, bukan membacanya) menghadapi hikayat itu
8 Maksudnya penyusun versi Arab yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Melayu.
sebagai sebuah kumpulan cerita yang beraneka ragam, bukan sebagai satu cerita utuh yang beralur tunggal dari awal sampai akhir.
“Hal penting” kedua yang dirujuk di atas, ialah tokoh Iskandar Zulkarnain tidak masuk Alam Melayu hanya melalui hikayatnya. Sumber lain yang tidak kalah penting adalah al-Qur’an (Surat al-Kahfi yang telah disebut di atas) dan berbagai tafsir dan komentarnya. Dari tradisi itulah lahir berbagai cerita yang dikutip berulang-ulang dalam risalah-risalah adab atau ketatanegaraan seperti Bustan al-Salatin, Taj al-Salatin dan ’Arsy al-Muluk (lih. Jelani 2003; Zaini-Lajoubert 2008). Dalam buku-buku tentang ilmu pemerintahan tersebut, Iskandar Zulkarnain sering disebut dan dikutip sebagai teladan raja adil. Dalam versi panjang Hikayat Iskandar Zulkarnain pun Surat al-Kahfi disebut beberapa kali, sebagai bukti betapa penting Surat tersebut buat pengarang hikayat itu.
Dengan demikian tradisi-tradisi tentang Iskandar Zulkazrnain dalam berbagai sastra di Indonesia dapat berasal dari dua sumber berlainan: baik hikayat terjemahan dari bahasa Arab maupun al-Qur’an dan tafsirnya. Teks yang pertama dalam hal itu adalah Sulalat al-Salatin. Teks itu beberapa kali menyebut Hikayat Iskandar, juga menceritakan sebagian kecil dari riwayatnya, tetapi mengandung unsur yang sama sekali baru, yakni menjadikan Iskandar asal sisilah raja-raja Melayu. Status baru ini akan menyebar ke berbagai teks sejarah yang lain, misalnya Hikayat Aceh, Hikayat Andalas, Salasilah Asal Raja di Negeri Palembang, dan Misa Melayu, masing-masing dalam konteks kerajaan Aceh, Deli, Palembang dan Perak. Secara lebih nyata dan lebih terperinci lagi, teks Bustan al-Salatin menguraikan kisah Iskandar sesuai dengan ceritanya dalam Sulalat al-Salatin, namun Nuruddin menambah suatu unsur baru lagi, ialah sisilah Iskandar mulai dari Nabi Adam.
Dalam suatu teks sejarah yang ditulis di Bima (Pulau Sumbawa) kiranya pada awal abad ke-17, berjudul Ceritera Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa, Iskandar juga berasal dari manusia pertama yang diciptakan Allah. Sejarah dunia sebagaimana digambarkan dalam teks itu adalah sejarah kaum jin yang diciptakan Allah seribu tahun sebelum manusia. Mereka memerintah dunia dan akhirnya menciptakan kerajaan Bima. Peran Iskandar dalam sejarah itu, ialah mengislamkan kaum jin itu dengan menjelajahi dunia sambil mengalahkan jin maghrib dan jin masyrik secara berturut-turut. Jadi makhluk utama adalah jin,
tapi jin yang diislamkan oleh manusia. Suatu ciri lain yang cukup mengherankan dalam teks itu ialah kebanyakan jin itu mempunyai nama yang dipinjam dari tradisi Mahabharata.
Suatu teks lain yang termasuk teks sejarah yang terpenting dalam kesusasteraan Melayu, yakni Hikayat Banjar, juga mencampurkan tradisi Islam dan tradisi Hindu-Jawa. Dalam teks itu dinasti kerajaan Banjar dan Kota Waringin lahir dari anak-anak Iskandar dan Khidir, namun Iskandar adalah menantu Batara Bisnu, dan Khidir menantu Batara Gangga.
Antara berbagai teks yang baru disebut-sebut ini (Sulalat al-Salatin, Butan al-Salatin, Hikayat Banjar, Ceritera Asal Bangsa Jin, dan beberapa yang lain) terdapat pertalian yang tidak jelas. Teks itu termasuk tradisi yang sama, tetapi caranya adegan Iskandar menjalar dari teks yang satu ke teks yang lain tidak diketahui.
Analisa Ceritera Asal Bangsa Jin serta Hikayat Banjar telah membuktikan bahwa tokoh Iskandar pernah dimasukkan ke dalam teks itu untuk mengganti seorang tokoh asal India yang ada sebelumnya. Kedua teks tersebut jelas diolah beberapa kali ketika kerajaan yang bersangkutan kena pengaruh budaya yang baru. Sebuah mitos lokal, yang khas Nusantara, diubah waktu kerajaan tersentuh pengaruh India, dan diubah sekali lagi waktu tersentuh pengaruh Islam. Keluarga diraja setempat merasa perlu mengesahkan asal usulnya sesuai dengan sumber kekuasaan yang baru. Tokoh Iskandar disusupkan ke dalam silsilah keluarga diraja untuk menjelaskan dan mengesahkan sejarah.
Penggunaan tokoh Iskandar sebagai sumber sifat kerajaan di dunia Melayu rupanya tidak dipinjam dari tradisi budaya yang lain, melainkan merupakan sebuah unsur budaya yang khas Melayu. Sebabnya juga bukan karena para cendekia zaman itu ingin mempertalikan raja-raja Melayu dengan seorang tokoh sejarah tertentu. Dalam hal ini kesusasteraan Melayu mempergunakan unsur-unsur yang dipinjam dari tradisi budaya asing dengan cara yang sangat orisinil, yakni seorang tokoh dapat mengganti tokoh lain kalau ciri dan sifatnya sesuai dengan perannya dalam sistim kosmologi setempat.
Dari uraian singkat ini dapat kita menarik beberapa kesimpulan. Pertama, tradisi Iskandar di dunia Melayu sama sekali tidak terbatas pada karya yang paling terkenal, Hikayat Iskandar Zulkarnain. Pernah ada paling sedikit satu, barangkali beberapa hikayat atau cerita yang lain.
Selain itu, cerita Iskandar ternyata sangat populer di dunia Melayu antara abad ke-15 dan 19. Tokoh Iskandar muncul dalam berbagai teks berbahasa Melayu, Minangkabau, Jawa dan Bugis yang meliputi suatu kawasan geografis yang sangat luas mulai dari Semenanjung Melayu (Melaka, Johor, Perak, Kelantan), lewat keseluruhan Pulau Sumatra (Aceh, Deli, Minangkabau, Mandailing, Bengkulu, Palembang), Borneo (Banjarmasin), Jawa (Surakarta), Sulawesi (daerah Bugis), dan Nusa Tenggara (Bima). Maka jelas kiranya bahwa tokoh yang pada asalnya sama sekali asing itu lama-kelamaan meresapi kebudayaan lokal.
Selain itu pula, kalau kita menyimak Hikayat Iskandar Zulkarnain dari sudut pandang sejarah maka jelaslah hikayat itu adalah terjemahan dari suatu hikayat Arab yang – melalui sekian tahap dan perantara – adalah saduran dari kisah Aleksander Agung. Dengan kata lain, hikayat Melayu tersebut adalah semacam perpanjangan, penerusan atau hasil dari kikayat Yunani. Tetapi kalau tradisi Iskandar di dunia Melayu kita simak dari segi cara penyampaiannya dan segala manifestasinya maka kesimpulan kita sangat lain, ialah tradisi itu mula-mula tradisi yang khas Islam, dan kemudian menjadi tradisi yang khas Melayu.
DAFTAR PUSTAKA
Chambert-Loir, Henri. 2004. Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia – EFEO.
Doufikar-Aerts, Faustina. [2003]. Alexander Magnus Arabicus. Zeven eeuwen Arabische Alexandertraditie: van Pseudo-Callisthenes tot Sûrï, PhD thesis, Leiden University.
Jelani Harun. 2003. Pemikiran Adab Ketatanegaraan Kesultanan Melayu, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
– – – 2004. “Bustan al-Salatin, ‘The Garden of Kings’: A universal history and adab work from seventeenth-century Aceh”, Indonesia and the Malay World, vol. 32, No. 92: 21-52.
Khalid Hussain. 1967. Hikayat Iskandar Zulkarnain, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Leeuwen, P.J. van. 1937. De Maleische Alexanderroman, Meppel: Ten Brink.
Ras, J.J. 1968. Hikayat Bandjar: A study in Malay historiography, The Hague: Nijhoff.
Soeratno, Siti Chamamah. 1991. Hikayat Iskandar Zulkarnain: Analisis resepsi, Jakarta: Balai Pustaka.
Soeratno, Siti Chamamah. 1992. Hikayat Iskandar Zulkarnain: Suntingan teks, Jakarta: Balai Pustaka.
Sudewa, Alex. 1995. Dari Kartasura ke Surakarta. Jilid Pertama. Studi Kasus Serat Iskandar, Yogyakarta : Lembaga Studi Asia.
Winstedt, R.O. 1938. “The date, authorship, contents and some new manuscripts of the Malay romance of Alexander the Great”, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 16 (2): 1-23.
Zaini-Lajoubert, Monique. 2008. Karya Lengkap Abdullah bin Muhammad al-Misri, Jakarta: Komunitas Bambu.

1 Komentar

  1. tolong carikan hikayat ceritanya yg orisinal bukan KW


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s