DURASI SEBAGAI PENANDA SOSIAL PENUTUR BAHASA MELAYU DELI

Tengku Syarfina
Balai Bahasa Medan
ABSTRACT
This paper deals with the duration of Deli Malay language speakers on the basis of social variation. The research is aimed at searching for duration the marks social groups in Deli Malay language. It starts with the measurement of the duration for spoken language of Deli Malay following with the study to see the meaningfulness of its characteristic as the grouper for social class. In order to reach the goals, some theories of acoustic, duration, which have relations to the analysis of the research, are used as well as the experimental phonetic approaches. Besides, the research also uses the diglosia theory in relation to the social stratification in Deli Malay language. The research shows that the duration gives marks to certain social groups in Deli Malay language.
Key Words: duration, social marker, speaker of Deli Malay language.
1. Pengantar
Bahasa adalah sistem bunyi dan arti yang digunakan manusia sebagai alat komunikasi. Bunyi bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bunyi bahasa dibedakan antara unsur segmental dan suprasegmental. Unsur segmental (terdiri atas vokal dan konsonan) adalah bunyi yang terdapat secara berurutan, sedangkan suprasegmental adalah jenis-jenis frekuensi dasar (Fo), intensitas, dan durasi (baca Rogers, 2000:16; Crystal, 1989:169). Penutur tidak hanya mengartikulasi suara berturut-turut, tetapi juga bersama-sama menghasilkan pengendalian ciri-ciri suara seperti intensitas, tempo, ritme, nada (t’ Hart et al, 1990:1).
Durasi dapat diartikan sebagai penentuan waktu rangkaian artikulatori dan dimensi waktu terhadap sinyal akustik. Lehiste (1970:125) berpendapat bahwa durasi juga bisa diasosiasikan dengan istilah kuantitas jika berfungsi sebagai suatu variabel bebas di dalam sistem fonologi bahasa. Menurut Sugiyono (2003), durasi adalah rentang waktu yang diperlukan untuk realisasi sebuah segmen bunyi yang diukur dalam satuan milidetik. Jika segmen itu berupa kalimat, rentang waktu itu biasanya disebut tempo. Struktur temporal, yang juga dikenal sebagai durasi, adalah seperangkat aturan yang menentukan pola durasi dalam tuturan (van Heuven, 1994).
Bahasa Melayu Deli sebagai salah satu bahasa daerah yang digunakan di Sumatera Utara, berfungsi sebagai alat komunikasi, pendukung kebudayaan, dan lambang identitas masyarakat Melayu Deli. Berbicara tentang masyarakat Melayu (Husny, 1975:109) terdapat dua golongan yakni golongan bangsawan dan golongan kebanyakan. Selanjutnya dari segi bahasa menurut Omar (1987;84) pada masyarakat Melayu terdapat dua golongaan bahasa, yaitu bahasa diraja dan bahasa orang kebanyakan. Kedua golongan tersebut di atas memiliki suatu perbedaan dari sudut adat-istiadatnya, gelar kebangsawanannya, kedudukan (status) peranan, pemakaian bahasa dan sebagainya.
Kelompok-kelompok sosial diasumsikan, dalam interaksinya satu sama lain dibedakan atas bagaimana cara memberi perintah, bagaimana cara bertanya, dan bagaimana cara memberi tahu. Ekspresi penghormatan di dalam bahasa Melayu Deli juga direalisasikan penutur melalui faktor akustik, terutama faktor suprasegmental. Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa BMD memiliki kecenderungan perbedaan kualitas akustiknya.
2. Desain Penelitian
Responden pada penelitian ini adalah penutur bahasa Melayu Deli (108 orang) yang tinggal di wilayah Kota Medan, seperti di Kecamatan Medan Maimoon, Kecamatan Medan Sunggal, serta di wilayah Kabupaten Deliserdang, yaitu di Kecamatan Patumbak dan Kecamatan Hamparanperak. Variabel yang diamati adalah jenis kelamin, kelas sosial, pendidikan, usia, dan frekuensi pemakaian bahasa Melayu Deli. Kelas sosial dibedakan atas tiga kelompok, yaitu kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah (orang kebanyakan). Pendidikan dibedakan atas tiga kelompok, yaitu mereka yang berpendidikan SMP atau yang sederajat, mereka yang berpendidikan menengah (SMA dan yang sederajat), dan mereka yang berpendidikan tinggi. Usia dibedakan atas dua kelompok berdasarkan, yaitu kelompok usia 15 s.d. 25 tahun, 26 s.d. 55 tahun. Frekuensi pemakaian bahasa Melayu Deli dikelompokkan menjadi tiga, yaitu mereka yang lebih sering menggunakan bahasa Melayu Deli daripada bahasa lain, mereka yang lebih sering menggunakan bahasa lain dari pada bahasa Melayu Deli, mereka yang pemakaian bahasa Melayu Deli dan bahasa lainnya berimbang.
Kalimat-kalimat target yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Deklaratif (Halimah ndak bertandang ke rumah Siti),
b. Interogatif
b.1 Interogatif Ekoik (Halimah ndak bertandang kerumah Siti?),
b.2 Interogatif Konfirmatoris (+ kan) (Halimah ndak bertandang kerumah Sitikan ?),
b.3 Interogatif Informatoris (Mengkale+) (Mengkale Halimah ndak bertandang ke rumah Siti?),
b.4 Interogatif Konfirmatoris (+ kuteh) (Halimah ndak bertandang ke rumah Siti kuteh?)
c. Imperatif (Bawalah Halimah bertandamg ke rumah Siti).
2.1 Prosedur Penelitian
Gambar 1: Prosedur Penelitian
Gambar di atas adalah tahapan-tahapan yang dilakukan pada kajian ini. Penelitian bermula dari masalah. Untuk menjawab masalah pada kajian ini, dibuat instrumen yang di dalamnya memuat bagaimana cara mengumpulkan data berupa tuturan yang dijadikan target. Malalui validasi dengan cara mengonfirmasi instrumen kepada ahli-ahli BMD dan orang-orang yang dituakan pada masyarakat MD, instrumen itu yang telah didesain itu diuji apakah alat itu dapat menjaring data yang diharapkan peneliti atau tidak. Kemudian, setelah instrumen terbukti sahih dan andal, dilakukan pengumpulan data dan perekaman data kalimat target dalam tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif.
Responden diberi kondisi berupa narasi, kemudian diminta merealisasikan tuturan dengan modus deklaratif, interogatif, dan imperatif. Responden adalah penutur BMD yang terdiri atas kelas sosial atas, kelas sosial menengah, dan kelas sosial bawah. Kondisi diberikan kepada responden dan tuturan yang harus mereka realisasikan, lalu data direkam dengan menggunakan alat perekam.
Setelah perekaman data, dilakukan analisis durasi. Untuk melihat signifikan atau tidaknya data tersebut dilakukan uji statistik. Akhirnya didapat hasil analisis, yang menjawab pertanyaan masalah dan membuktikan asumsi pada kajian ini.
Tahap pertama adalah produksi data terdiri atas tiga kegiatan yang harus dilakukan, yakni pengumpulan data dengan menggunakan teknik rekam, seleksi korpus data dan digitalisasi.Tahap kedua terdiri atas tiga kegiatan, yakni pengukuran durasi. Terakhir tahap ketiga adalah analisis statistik terdiri atas empat kegiatan, yaitu analisis statistik T-Test, Annova, Bonferroni dan Games-Howell. Dalam proses itu, setiap tahapan penelitian selalu dikontrol oleh masalah dan asumsi atau hipotesis. Dengan demikian, hasil analisis dan generalisasi dalam penelitian ini akan dapat menjawab masalah penelitian apabila komponen masalah penelitian, asumsi atau hipotesis, dan hasil analisis berjalan sejajar.
Pengolahan dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah digitalisasi. Pada tahap ini data yang direkam menggunakan kaset audio dialihkan ke format digital dalam bentuk sound wave (lihat gambar 2), kemudian dipilih tuturan-tuturan yang akan dianalisis.
Gambar 2 : Gelombang Suara (Sound Wave)
Tahap berikutnya adalah segmentasi data, yaitu data yang telah terpilih kemudian dipecah-pecah ke dalam segmen tunggal, bunyi per bunyi (lihat gambar 3). Setiap segmen diberi label dengan lambang fonetik yang lazim digunakan.
Gambar 3 : Pengukuran Durasi (Text Grid)
Tahap terakhir adalah tahap uji statistik untuk mengetahui signifikan atau tidaknya hasil pengukuran tersebut. Untuk tahap terakhir ini digunakan program komputer SPSS (Statistics Package for Social Scientist) versi 14.
3. Pengukuran Durasi
a. Variabel Jenis Kelamin
050100150200250300aiaaeaaeuaiivokaldurasi (
md)PerempuanLaki-Laki
Gambar 4 Perbandingan Durasi Vokal Setiap Silabel dalam Tuturan Deklaratif
Gambar 4 menunjukkan bahwa durasi vokal dalam tuturan kalimat deklaratif. Hal ini juga terdapat pada kalimat interogatif konfimatoris kuteh, interogatif konfirmatoris (-kan), interogatif informatoris mengkale, dan imperatif. Rentang waktu vokal terakhir (vokal i, tuturan perempuan 256,7 md dan tuturan laki-laki 205,15 md) cenderung lebih panjang daripada rentang waktu vokal-vokal sebelumnya. Perpanjangan durasi silabel terakhir tidak terjadi pada kalimat interogatif konfirmatoris kuteh, tetapi perpanjangan terjadi pada vokal i dan vokal i pada kata Siti. Perpanjangan durasi terjadi pada kalimat interogatif –kan. Vokal terakhir a dari silabel –kan rentang waktunya lebih panjang daripada vokal i pada silabel Siti walaupun vokal i tersebut juga menunjukkan perpanjangan. Selain pemanjangan durasi silabel terakhir, pemanjangan juga tampaknya memarkahi perbedaan antara kontur deklaratif, kontur interogatif ekoik, kontur interogatif konfirmatoris (-kan), kontur interogatif informatoris mengkale, dan kontur imperatif. Jadi durasi terhadap tuturan perempuan lebih panjang daripada durasi tuturan laki-laki pada kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif.
b. Variabel Usia
050100150200250300350aaaaiaeaaeuaiivokaldurasi (
md)MudaTua
Gambar 5 Perbandingan Durasi Vokal Setiap silabel dalam Tuturan Imperatif
Gambar 5 menunjukkan hasil analisis durasi vokal dalam tuturan kalimat imperatif. Rentang waktu vokal terakhir (vokal i, tuturan usia tua cenderung lebih panjang daripada rentang waktu vokal-vokal sebelumnya seperti pada kalimat interogatif ekoik, interogatif konfimatoris kuteh, interogatif konfirmatoris kan, interogatif informatoris mengkale, dan deklaratif. Dalam hal ini, kecenderungan lebih panjangnya rentang waktu vokal terakhir pada tuturan usia muda dan usia tua, sama polanya pada tuturan perempuan dan laki-laki. Yang mungkin berbeda pada rerata panjang waktu pengucapan vokal-vokal tersebut. Tidak terdapat perpanjangan durasi silabel terakhir pada kalimat interogatif konfirmatoris kuteh seperti yang terjadi pada vokal i dan vokal i pada kata Siti. Pada kalimat interogatif –kan, vokal terakhir a dari silabel –kan rentang waktunya lebih panjang daripada vokal i pada silabel Siti walaupun vokal i tersebut menunjukkan perpanjangan juga. Perpanjangan vokal-vokal tertentu tampaknya juga memarkahi beda antara kalimat deklaratif, interogatif konfimatoris maya, interogatif konfirmatoris kan, interogatif informatoris mengkale, dan imperatif. Jadi, durasi tuturan usia tua lebih panjang daripada durasi tuturan usia muda pada kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif. Dapat diambil simpulan sementara bahwa tuturan durasi usia tua lebih panjang dari tuturan usia muda. Makin tua usia seseorang makin panjang rentang waktu yang dibutuhkannya dalam pengucapan kalimat tersebut.
c. Variabel Kelas Sisial
0100200300400eaeaiaaeaaeuaiivokaldurasi (
md)AtasMenengahBawah
Gambar 6 Perbandingan Durasi Vokal Setiap silabel dalam Tuturan Informatoris mengkale
Gambar 6 menunjukkan hasil yang sama dengan hasil analisis durasi tuturan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Kecenderungan rentang waktu vokal terakhir (vokal i, tuturan kelas sosial atas 228,78, kelas sosial menengah 220,85, dan kelas sosial bawah 251,39) lebih panjang daripada rentang waktu vokal-vokal lainnya. Pada kalimat 8
interogatif konfirmatoris kuteh terjadi perpanjangan durasi pada vokal i pada kata Siti. Pada kalimat interogatif –kan, durasi vokal terakhir a dari silabel –kan lebih panjang daripada durasi vokal i pada silabel Siti, walaupun vokal i tersebut juga menunjukkan perpanjangan. Dengan demikian, dapat diambil simpulan bahwa tuturan kelas sosial bawah lebih panjang daripada tuturan kelas sosial menengah dan atas. Dapat dikatakan bahwa makin tinggi kelas sosial seseorang makin pendek rentang waktu yang dibutuhkannya dalam bertutur. Sebaliknya, makin rendah kelas sosial seseorang makin panjang rentang waktu yang dibutuhkannya dalam mengucapkan kalimat tersebut.
d. Variabel Pendidikan
0100200300400aaaaiaeaaeuaiivokaldurasi (
md)DasarMenengahTinggi
Gambar 7 Perbandingan Durasi Vokal setiap Silabel dalam Tuturan Imperatif
Gambar 7 menunjukkan bahwa hasil analisis durasi pada variabel pendidikan sama dengan hasil analisis durasi tuturan berdasarkan variabel jenis kelamin, usia, dan kelas sosial. Secara umum, durasi vokal terakhir lebih panjang daripada durasi vokal-vokal lainnya. Pada kalimat imperatif terjadi perpanjangan durasi pada vokal i (tuturan yang berpendidikan dasar 257 md, menengah 254 md, tinggi 257 md) pada kata Siti. Pada kalimat interogatif (–kan), durasi vokal terakhir a dari silabel –kan lebih panjang daripada durasi vokal i pada silabel Siti, walaupun vokal i tersebut juga menunjukkan perpanjangan. Dengan demikian, dapat diambil simpulan bahwa tuturan pendidikan dasar lebih panjang daripada tuturan pendidikan tinggi dan menengah. Dapat dikatakan bahwa makin tinggi pendidikan seseorang, makin pendek rentang waktu yang dibutuhkannya dalam bertutur. Sebaliknya, makin rendah pendidikan seseorang, makin panjang rentang waktu yang dibutuhkannya dalam mengucapkan kalimat tersebut.
e. Variabel Pemakaian Bahasa Melayu Deli
050100150200250300350aiaaeaaeuaiiiivokaldurasi (
md)lebih sering BMDBMD dan BL sama seringnyalebih sering BL
Gambar 8 Perbandingan Durasi Vokal setiap Silabel dalam Tuturan Interogatif Ekoik
Hasil analisis yang ditunjukkan gambar 8 adalah bahwa hasil durasi berdasarkan variabel pemakaian BMD sama dengan hasil analisis durasi pada tuturan berdsarkan variabel jenis kelamin, usia, kelas sosial, dan pendidikan, walaupun tiap-tiap tuturan memiliki perbedaan pada rentang waktu pengucapan. Rentang waktu pengucapan vokal terakhir (vokal i, tuturan yang lebih sering pemakaian BMD (BMD>BL) 308,69 md, tuturan BMD dan BL sama seringnya (BMD=BL) 252,89 md, dan lebih sering BL daripada BMD (BMDBL) lebih panjang daripada tuturan BMD dan BL sama seringnya (BMD=BL), dan lebih sering BL daripada BMD (BMDBL) makin panjang rentang waktu yang dibutuhkannya dalam bertutur. Sebaliknya, makin sama seringnya pemakaian BMD dan BL (BMD=BL), dan lebih sering pemakaian BL daripada BMD (BMDBL), pemakaian BMD dan bahasa lainnya sama sering (BMD=BL), dan pemakaian bahasa lainnya lebih sering dibandingkan dengan BMD (BL>BMD). Durasi silabel terakhir konstituen selalu lebih panjang dibanding dengan durasi silabel awal konstituen, kecuali pada durasi kalimat interogatif informatif kuteh, durasi silabel akhir konstituen lebih rendah daripada durasi awal konstituen.
4. Simpulan
Hasil analisis terhadap durasi telah dibahas dan diuraikan diatas, diperoleh kesimpulan bahwa durasi menjadi pemarkah penutur BMD. Secara rinci, berdasarkan analisis itu dapat disimpulkan sebagai berikut.
(a) Durasi tuturan perempuan lebih panjang daripada durasi tuturan laki-laki.
(b) Durasi tuturan generasi muda lebih pendek daripada durasi generasi tua.
(c) Durasi tuturan KSB lebih panjang daripada KSM dan KSA. Durasi tuturan KSM lebih panjang daripada KSA. Semakin tinggi kelas sosial semakin pendek durasi tuturannya, sebaliknya semakin rendah kelas sosialnya semakin panjang durasi tuturannya.
(d) Durasi tuturan PD lebih panjang daripada PM dan PT.
(e) Durasi tuturan BMD>BL lebih panjang daripada BMD<BL dan BMD=BL. Durasi i tuturan BMD<BL lebih pendek daripada BMD=BL. Semakin tinggi pemakaian BMD semakin panjang durasii tuturannya, sebaliknya semakin rendah pemakaian BMD semakin rendah durasi tuturannya.
Dengan demikian terlihat bahwa asumsi pada penelitian ini yang mengatakan kelompok-kelompok sosial tersebut yang sesuai dengan golongannya, dalam interaksinya satu sama lain dibedakan atas bagaimana cara memberi perintah, bagaimana cara bertanya, dan bagaimana cara memberitahu. Perbedaan ini terbukti melalui analisis akustik, yang datanya direalisasikan penutur melalui faktor akustik, terutama faktor suprasegmental.
Yang menarik, pada kajian ini juga ditemukan bahwa dalam BMD ketika bertutur dapat diduga kepada siapa seseorang bertutur, diperingkat yang mana seseorang itu disapa berdasarkan kelompok- kelompok sosial tersebut. Jadi dalam menyapa seseorang kita dapat melihat di dalam data atau hasil analisis durasi bagaimana durasi seorang golongan bawah bertutur dengan golongan atas (keluarga raja), begitu juga sebaliknya bagaimana nada, tempo dan intensitas golongan atas berututur kepada golongan menegah atau kepada golongan kebanyakan.
Selanjutnya dari hasil kajian ini juga ditemukan adanya 3 variasi sosial (KSA, KSM, dan KSB ) dalam masyarakat Melayu Deli, bukan 2 variasi sosial (KSA dan KSB )seperti yang dikemukakan sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya susunan lapisan masyarakat sesuai dengan situasi pada masyarakat Melayu Deli. Dari hasil kajian ini telah ditemukan bahwa terdapat perbedaan antara sesama masyarakat Melayu Deli dalam interaksinya berbeda dalam memberi perintah, cara bertanya, dan cara memberitahu melalui anallisis akustik. Perbedaan yang ada hasil dari penerusan tradisi Melayu lama yang diwarisi hingga kini.
PUSTAKA
Ebing, Ewald. 1997. Form and Function of Pitch Movements in Indonesian. Leiden: Research School CNWS.
Ferguson, C.A. 1976. “Bilingualism and Diglossia”. Dalam Norbert Dittmar. Sociolinguistics: A Critical Survey of Theory and Application. London: Edward Arnold Ltd.
‘t Hart, J., R. Collier, and A. Cohen. 1990. A Perceptual Study of Intonation: An Experimental-phonetic Approach to Speech Melody. Cambrige: Cambrige University Press.
Husny, T.H.M. Lah. 1975. Lintasan Sejarah Peradabandan Budaya Penduduk Pesisir Sumatera Timur. Medan: B.P. Husny.
Lapoliwa, Hans. 1988. Pengantar Fonologi I: Fonetik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Lehiste, Ilse. 1970. Suprasegmentals. Cambridge: The MIT Press.
Moain, Amat Juhari. 1989. Sistem Panggilan dalam Bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
Nooteboom, Sieb. 1999. “The Prosody of Speech: Melody and Rhythm”. Dalam Hardcastle, William J. and John Laver. 1999. The Handbook of Phonetics Sciences. Oxford: Basil Blackwell.
Omar, Asmah. 1998. Bahasa Diraja. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Sugiyono. 2003. Pemarkah Prosodik Kontras Deklaratif dan Interogatif Bahasa Melayu Kutai. Disertasi Universitas Indonesia.
Syarfina, T. 2000. “Sistem Sapaan dan Istilah Kekerabatan dalam Bahasa Melayu Deli: Tinjauan Sosiolinguistik” (Tesis). Medan: Pascasarjana USU.
Syarfina, T. 2008. “Ciri Akustik Sebagai Pemarkah Sosial Penutur Bahasa Melayu Deli” (Disertasi). Medan: Pascasarjana USU.
van Heuven, Vincent J. 1994. “Introducing Prosodic Phonetics”. Dalam Ode, Cecilia and Vincent J.van Heuven (eds.). 1994. Experimental Studies of Indonesian Prosody (Semaian 9). Leiden: Rijksuniversiteit te Leiden

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s