BAHASA MENUNJUKKAN MEDIA

Qaris Tajudin
Redaktur U-Mag (majalah gaya hidup Kelompok Tempo)
Penulis Kolom Bahasa! Majalah Tempo
1. Pengantar
Naskah ini bukanlah makalah ilmiah yang diramu dari berbagai riset yang bisa dipertanggungjawabkan. Saya hanya membuat pengamatan singkat terhadap ping pong pengaruh antara media massa cetak dan masyarakat (pembaca). Meski bukan berdasarkan riset-riset ilmiah, saya yakin apa yang akan saya sampaikan ini dapat memberikan gambaran singkat tentang peran media massa cetak dan pengaruh mereka dalam perkembangan bahasa. Tidak hanya di masyarakat, tapi juga perkembangan bahasa secara umum.
2. Pengaruh Siapa?
Saya ingin membuka bagian ini dengan sebuah cerita. Saat kuliah dulu, saya punya beberapa teman dari Malaysia. Kami biasa berkumpul bersama. Tak ada masalah soal komunikasi, tentu, meski logat Melayu mereka kadang kurang kami mengerti. Singkatnya, suatu saat, seorang mahasasiswa Malaysia mencoba melucu dengan memelesetkan judul salah satu puisi W.S. Rendra, Blues untuk Bonnie. Saya tak ingat persisnya pelesetan itu, yang jelas teman-teman saya dari Malaysia tertawa dengan lelucon itu. Sedangkan teman-teman Indonesia saya hanya meringis atau mencoba tersenyum. Jelas, terlihat sekali mereka tidak memahami apa yang lucu dari pelesetan itu. Setelah diterangkan bahwa yang dipelesetkan adalah salah satu judul puisi terkenal, mereka baru tertawa. Dan saat tertawa yang terlambat itu pecah, saya justru diam dan berpikir. Betapa parahnya pendidikan bahasa dan sastra kita.
Mereka yang dari seberang begitu akrab dengan karya-karya sastra kita, sedangkan orang Indonesia sendiri belum tentu mengenalnya. Belakangan saya ketahui, rupanya saat sekolah, siswa di Malaysia wajib membaca sejumlah karya sastra Melayu, termasuk yang berasal dari Indonesia. Saya tidak ingin mencoba membuat perbandingan tentang penguasaan sastra di kalangan generasi muda kedua negara. Saya hanya ingin mengatakan bahwa penguasaan sastra kita—terutama generasi muda—memang parah. Berapa banyak karya sastra yang kita baca sebelum tamat SMA? Berapa rata-rata buku sastra yang kita beli dalam setahun?
Rendahnya persentuhan masyarakat kita dengan karya sastra—produk bahasa tertinggi—tentu berpengaruh pada kualitas bahasa kita. Asupan bahasa hanya kita dapatkan dari produk berkualitas bahasa nomor dua atau tiga: percakapan sehari-hari, media massa (cetak dan elektronika), atau buku-buku di luar buku sastra. Karya sastra yang seharusnya berfungsi sebagai air susu ibu, karena memiliki kelengkapan dan kualitas bahasa yang lebih baik, ternyata tak selamanya kita nikmati. Media massa cetak yang hadir lebih kerap di depan kita, akhirnya menjadi susu kaleng yang berusaha berperan dalam perkembangan bahasa kita. Tentu saja ini disayangkan. Kosa kata, pembuatan kalimat, bahkan logika bahasa, lebih banyak kita serap dari media massa, dibanding dari karya sastra yang jauh lebih baik.
Lalu apa salahnya? Sebenarnya tidak ada salahnya, jika: Satu, kita tetap mendapatkan asupan yang cukup dari karya-karya sastra. Kedua, jika media massa kita—terutama cetak dan Internet—menurunkan tulisan-tulisan dengan kualitas kebahasaan yang jempolan. Semakin tidak salah lagi jika di saat masyarakat enggan—atau dibuat enggan oleh sekolah—untuk membaca karya sastra, koran dan majalah mampu mengisi kekosongan itu dengan tulisan berkualitas sastra. Banyak menurunkan tulisan bergaya jurnalisme sastrawi. Tentu saja, itu semua tidak bisa menggantikan posisi karya sastra seperti novel dan puisi dalam mengasah kemampuan bahasa masyarakat kita. Tapi, setidaknya, tulisan berkualitas baik di media massa itu dapat menjadi akar saat rotan tiada.
Meski sama-sama berbasis pada teks, media massa cetak diperkirakan lebih mampu menyandang tugas untuk memberi pengaruh baik dalam berbahasa di masyarakat dibanding media Internet. Apa pasal? Media cetak adalah media yang setia pada teks. Dengan demikian, campuran bahasa cakapan yang belum baku tidak terlalu banyak. Kedua, proses penulisan berita di media cetak, terutama majalah, lebih “hati-hati”. Ada proses penyuntingan yang panjang sebelum akhirnya diterbitkan, termasuk penyuntingan dari redaktur bahasa. Ini amat berbeda dengan media Internet. Situs berita di dunia maya amat mementingkan kecepatan. Perhitungannya detik, kawan.
Dalam ketergesaan seperti ini, penyuntingan kerap dikorbankan. Yang terpenting adalah muncul secepat mungkin. Kalau ada yang salah, toh nanti bisa dibetulkan (bukan diralat seperti di media cetak, tapi benarbenar diganti). Dalam situasi seperti ini, yang pertama dikorbankan adalah bahasa. Keindahan tulisan dan kebenaran kaidah sudah pasti disuruh menepi.
Mungkin, karena menyadari tugas itu, sejumlah media massa cetak mencoba memberikan “pendidikan” kebahasaan. Bukan hanya lewat halaman sastra yang hanya nongol seminggu sekali, tapi juga lewat hal lain. Jawa Pos pada 1990-an pernah menurunkan hasil evaluasi kesalahan bahasa yang dilakukan oleh wartawan dan redaktur mereka. Tidak tanggung-tanggung, daftar kesalahan dan koreksinya itu diterbitkan dalam satu halaman penuh selama beberapa pekan. Selain memberi efek malu kepada wartawan yang melakukan kesalahan penulisan dan editor yang meloloskannya, daftar itu bisa dinikmati oleh para pembaca sebagai pelajaran bahasa Indonesia. Harian Kompas dan majalah berita mingguan Tempo hingga kini memiliki rubrik khusus tentang bahasa yang secara berkala membahas masalah-masalah kebahasaan.
Bukan bermaksud memuji institusi sendiri, tapi Tempo memang memiliki kepedulian pada bahasa sejak awal berdirinya pada 1971. Maklum, Tempo awalnya memang diisi oleh para sastrawan seperti Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Syubah Asa, dan lain-lain. Mereka mencoba mengembangkan gaya penulisan berita yang baru di Indonesia, yaitu jurnalisme sastrawi. Gaya penulisan sastra yang dipakai untuk menulis berita. Bagi mereka, beda berita dengan cerita pendek hanya satu: yang satu fakta dan yang lain fiksi. Dari situlah kemudian muncul tag line yang dikenal hingga kini: “Enak dibaca dan perlu.” Tak mungkin enak, jika berita ditulis dengan bahasa Indonesia yang kacau. Seperti makanan yang dibuat dengan resep yang salah.
Untuk menjaga agar resep tetap dipatuhi, pada 1983 dibuatlah bidang pengeditan naskah berita. Bidang pengeditan naskah beritu itu adalah tonggak awal kompartemen bahasa. Tidak hanya di Tempo, tapi juga di berbagai media massa di Indonesia, karena konsep ini kemudian diadopsi sejumlah media massa cetak.
Padahal, awalnya bidang itu dibuat tak sengaja. Adalah Djabarudi, yang dikenal lewat liputan pemerkosaan Sum Kuning pada 1970-an, punya hobi mengomentari tulisan rekan-rekannya. Kesalahan penulisan nama, ejaan, atau logika pada tulisan di Tempo akan ditemukannya. Dia lalu menempelkan naskah yang dikomentarinya itu di papan otokritik. Kecerewetan Djabarudi ini yang mengantarkannya menjadi komandan bidang pengeditan naskah berita pada 1983.
Djabarudi juga mendorong penggunaan imbuhan “mengubah” dan bukannya “merubah” (sebab kata dasarnya “ubah”, bukan “rubah”). Atau mengharamkan penggunaan kombinasi kata “walaupun … tetapi” (cukup “walaupun”) meski pola itu cukup jamak digunakan di masyarakat saat itu.
Masalahnya, tidak semua media massa cetak memahami peran yang dituntut seperti itu. Bahkan hal yang sebaliknya kerap terjadi. Alihalih memberikan pengaruh positif dalam hal bahasa kepada masyarakat, kerap kali media massa (cetak, elektronika, atau Internet) justru terpengaruh oleh kesalahan dan hal-hal negatif dalam soal bahasa yang banyak berkembang di masyarakat. Dan seperti bola ping pong, pengaruh buruk itu kemudian disebarluaskan oleh media massa kepada masyarakat yang lebih luas.
Misalnya soal kecenderungan media massa membuat kalimat yang tidak efisien dengan pemakaian kata “melakukan” dan “mengalami”. Untuk lebih jelasnya, saya kutipkan sebuah berita di media massa tentang pencurian mobil Jaguar, tahun lalu. “Polisi memastikan otak perampokan dan pembunuhan adalah Fransiscus, setelah melakukan pemeriksaan dan penggeledahan, serta ditemukannya barang bukti. ‘Setelah dilakukan pengecekan, ini merupakan perbuatan dia,’ kata Kapolres.” Begitulah salah satu media massa menulis berita itu.
Sepintas tidak ada yang aneh dari berita tersebut, tapi ada ketidakefisienan di sana. Frase “melakukan pemeriksaan” dan “dilakukan pengecekan” dapat disingkat menjadi “memeriksa” dan “dicek”. Selain lebih efisien—yang pada akhirnya akan menghemat tempat di halaman koran yang sempit—penghilangan “melakukan” dan “mengalami” juga akan menghindari pengulangan yang membosankan. Bayangkan, ada berapa banyak kata “melakukan” akan kita jumpai dalam satu tulisan jika semua kata kerja aktif harus dibentuk dari frase yang diawali dengan melakukan? Sayangnya, banyak wartawan tidak menyadari hal itu dan cenderung menulis berita dengan kemubaziran tersebut.
Bukannya ingin mencari kambing hitam, tapi media massa mendapatkan pengaruh buruk soal “mengalami” dan “melakukan” ini dari salah satu sumber utama mereka: polisi. Saat mengutip langsung atau tak langsung perkataan sumber mereka, secara tak sadar wartawan terpengaruh. Hingga, ketika menulis tanpa kutipan seperti itu pun, dengan otomatis wartawan akan “melakukan” dan “mengalami”. Yang rugi kemudian adalah masyarakat. Mereka kemudian mendapatkan “pendidikan” bahasa yang buruk dari media massa. Efek ping pong ini akan terus berlanjut, kecuali media massa mau memotong lingkaran setan itu dengan disiplin dalam berbahasa.
3. Bahasa Menunjukkan Kelas?
Kafe atauWarung Kopi?
Bayangkan Anda berada di sebuah perempatan di Jakarta yang macet. Mobil dan motor tak ada yang mau mengalah. Klakson dan makian kenek Metro Mini sahut menyahut. Tiba-tiba seorang penjual koran menempelkan dagangannya di kaca mobil Anda, dan sebuah judul panjang di halaman depan koran itu tepat berada di depan mata, meneror Anda: “Ibu-ibu Kepeleset di Jalan, Eeeh Disamber Kopaja. Mati Deh!”
Anda berhak merasa terteror oleh judul berita tersebut. Selain karena beritanya yang selalu berdarah, juga oleh pemilihan kata-kata yang vulgar dan sama sekali tidak menunjukkan adanya perenungan sebelum dibuat. Seperti sebuah celetukan di warung kopi pinggir jalan.
Kita boleh tidak setuju dengan pembuatan judul seperti itu, tapi para pengelola koran-koran kriminal kota punya dalih lain. Mereka menganggap bahasa seperti itulah bahasa yang akrab dengan para pembacanya: pelanggan warung kopi pinggir jalan. “Ini memang untuk kelas bawah, bung!” begitu kata teman saya yang bekerja di koran kriminal, saat saya tanya kenapa membua judul bernada murahan seperti itu.
Sepertinya teman saya berbohong soal alasannya. Mungkin memang benar, bahasa seperti itulah yang dipakai oleh kalangan ekonomi menengah ke bawah yang menjadi target pemasaran korannya. Tapi apa benar kelompok kelas bawah tidak berhak mengkonsumsi media massa cetak dengan bahasa yang baik? Benarkah mereka tidak mengerti bahasa yang baku? Apakah mereka benar pusing saat membaca berita yang ditulis dengan rasa bahasa yang baik? Atau itu hanya asumsi kita saja? Kenapa pula kita tidak mencoba mengakrabkan bahasa tulis yang baik dan benar kepada masyarakat kelas bawah?
Terus terang, saya kurang setuju dengan cap seperti itu. Penggolongan bahasa berdasarkan kelas terkadang tak menunjukkan masalah yang sebenarnya. Menurut saya, kecenderungan untuk “menurunkan kelas” bahasa koran untuk kalangan menengah ke bawah, karena para pengelola koran itu tidak dapat menemukan hal lain yang dapat dijadikan magnet. Untuk isi, mereka enggan kabur dari berita kriminalitas, karena—sekali lagi—mereka mengasumsikan berita macam itulah yang akan dibaca oleh kalangan menengah ke bawah. Karena beritanya itu-itu saja, mereka pun mencoba menarik perhatian dengan judul-judul yang bombastis dan dibuat semenjijikkan mungkin. Padahal, jika mau sedikit bereksperimen dan berani keluar dari kotak, mereka akan menemukan cara lain untuk menarik minat baca kelas menengah ke bawah. Misalnya, dengan menyodorkan berita yang secara langsung menyentuh kepentingan mereka.
Sejumlah koran dan majalah nasional memang menunjukkan kelas bahasa yang lebih baik. Ada penyuntingan berlapis, termasuk peran redaktur bahasa di ujung penyuntingan. Tapi apakah benar demikian? Betulkah, media massa kelas atas memiliki kualitas bahasa yang lebih baik? Tidak juga. Ketidakefisienan tetap terjadi. Pengaruh bahasa cakap yang belum tentu benar juga masih besar.
Namun, yang lebih parah lagi kita temui pada majalah-majalah gaya hidup yang mengklaim hanya dibaca oleh kalangan menengah ke atas. Pada majalah-malajah itu saya justru menemukan masalah yang sama dengan masalah pada koran kriminal: memanjakan pembaca dengan bahasa yang familiar, meski itu berarti bahasa yang kacau. Bedanya, yang dimanjakan kini adalah para pengunjung kafe berpendingin ruangan.
Tak percaya? Mari pergi ke kafe, duduk di sofa, dan pesanlah kopi susu atau cappucino. Sambil menunggu pesanan Anda datang, ambil salah satu majalah gaya hidup, baik yang berbayar atau gratis—meski gratis tetap terlihat berkelas. Bagaimana tidak berkelas, jika para penulisnya adalah anak-anak muda berpendidikan tinggi. Bahkan banyak yang lulusan luar negeri. Selera mereka sudah pasti bagus punya.
Tapi belum juga membuka majalah, kita sudah ragu, ini majalah bahasa Inggris, Indonesia, atau dwibahasa? Judulnya sebagian besar ditulis dalam bahasa Inggris. “Kayaknya lebih pas kalau in English. Kalau di-translate, malah jadi flat,” begitu kata teman saya yang menjadi redaktur di sebuah majalah gaya hidup. Belum lagi, kata dia, “Vocab bahasa Indonesia itu terbatas. Kita mengambil kata mode dari Prancis.”
Kita harus mengakui, banyak istilah mode dan gaya hidup lainnya yang tidak kita miliki. Tapi itu bukan berarti bahasa Indonesia miskin. Saya mencoba membuktikannya dengan membaca satu per satu entri di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Baru sampai huruf D saya sudah mendapatkan 75 kata yang berkaitan dengan mode. Bahkan banyak di antaranya yang tidak dapat kita jumpai di bahasa lain. Misalnya, cindai, yang berarti kain sutera bermotif bunga. Atau cita: kain katun bermotif bunga.
Masalah para wartawan media gaya hidup kelas atas ini ternyata sama dengan yang saya temui pada wartawan koran kelas bawah: terlalu malas untuk menggali bahasa Indonesia dan mengujicobanya. Salah satunya adalah sebuah artikel berjudul Classy Home. Begini bunyi salah satu paragrafnya: “Atau, the best thing you can do adalah membeli barang-barang dengan design yang classy enough, tentu dengan kualitas prima dan dilabeli brand ternama.”
Kekacauan bahasa majalah-majalah gaya hidup tidak sebatas pada penggunaan kata-kata bahasa Inggris yang tak terkontrol, tapi juga kekacauan kaidah dan tata bahasa dasar yang seharusnya sudah mereka ketahui sejak sekolah dasar. Misalnya, di majalah-majalah itu Anda tidak akan bisa membedakan “di” yang menunjukkan tempat dan “di” yang harus digabung dengan kata kerja. Kerap mereka menulis “dimana” atau “di katakan”. Dalam keadaan seperti ini, tak usah lagi berharap pada eksplorasi kosa kata bahasa Indonesia.
Gaya bahasa seperti inilah yang kemudian ditularkan kepada kelompok kelas menengah atas. Gaya bahasa dan gaya penulisan, serta kosa kata majalah-majalah itu kemudian diadopsi oleh para penulis novel chicklit (yang memang pembaca setia majalah-majalah itu). Lingkaran setan itu terus berputar, dan tak akan selesai kecuali media massa cetak seperti itu mau mengubah diri, mengurangi kemalasan, dan berdisiplin soal bahasa. Masalahnya memang bukan soal kelas. Ini soal kemauan.
Lalu Apa?
Jika ada kesempatan, silahkan bertanya kepada anak, keponakan, atau cucu Anda. “Adik, apakah adik tahu, peribahasa yang artinya berpendirian tak tetap?” Mereka mungkin bisa menjawabnya, karena di sekolah mereka disuruh untuk menghapalnya. “Bagai air di daun talas.” Begitu kata mereka dengan nada kemenangan. Lalu lanjutkan dengan pertanyaan kedua. “Tahukah adik, seperti apa daun talas itu? Apa yang terjadi saat air ditaruh di atas daun talas?” Mereka—terutama yang dari perkotaan—pasti menggeleng dan berkata tak tahu. Apa artinya ini?
Apa artinya ketidaktahuan mereka? Artinya, ada jarak antara ungkapan yang kita hapalkan di sekolah dengan lingkungan sekitar kita. Peribahasa tentang daun talas itu dibuat puluhan atau bahkan lebih dari seratus tahun lalu, ketika orang setiap hari melihat daun talas di pekarangan mereka dan tahu apa yang terjadi saat embun atau air hujan jatuh di atasnya.
Ketika lingkungan berubah, dan kita tak pernah lagi melihat daun talas di kota, peribahasa seperti itu tetap wajib dihapal di sekolah. Kenapa? Karena tak ada peribahasa baru yang dapat menggantikannya. Kenapa? Karena bahasa kita macet!
Ya, pabrik bahasa kita telah malas berproduksi, seperti halnya banyak pabrik gula tua di negeri ini. Kita tak lagi rajin memproduksi katakata baru. Kalau pun ada, itu hasil serapan dari bahasa lain. Tak ada lagi peribahasa baru. Metafora sudah jarang dipakai. Semua serba verbal. Kering.
Di saat seperti ini, media massa seharusnya bisa berperan lebih besar membawa pembaruan dan penyegaran dalam berbahasa. Media massa harus berani keluar dari peti mati ini, dan memperkenalkan halhal baru. Media massa pernah memperkenalkan kata “dangdut” saat masyarakat masih memakai kata musik Melayu. Media massa cetak juga mengenalkan untuk pertama kalinya istilah “kelas kambing” untuk baris penonton paling belakang. Perkaranya, hanya karena sang wartawan melihat kandang kambing di barisan belakang penonton saat meliput kehidupan tobong.
Tidak semua wartawan seberuntung itu, mampu menciptakan kata-kata baru, mengenalkannya kepada masyarakat, dan dipakai di mana-mana. Hal yang lebih sederhana bisa kita lakukan. Misalnya, mengadopsi bahasa cakapan dari masyarakat, lalu mengembalikannya dalam bentuk baku dan tertata. Ini karena bahasa cakap ternyata jauh lebih kreatif dalam menciptakan istilah, kata, dan ungkapan baru. Pusat Bahasa mungkin menolak memasukkan kata-kata itu ke dalam kamus bahasa Indonesia karena dianggap cakapan, tapi media massa bisa “memaksa” dengan mempopulerkannya dan memakainya terus-menerus.
Itulah yang coba dilakukan oleh sejumlah media massa. Menurut Sapto Nugroho, redaktur bahasa Tempo, medianya mencoba fleksibel mengambil penggunaan bahasa yang berkembang di masyarakat. “Misalnya, kami tidak alergi memakai kata cowok atau cewek,” kata Sapto.
Tentu, memperkaya bahasa dengan memasukkan sejumlah kosa kata cakapan, berbeda dengan menyerap semua yang ada di masyarakat seperti yang dilakukan oleh media massa belakangan ini. Dalam proses pengayaan bahasa ini, media massa harus memiliki filter yang kuat. Mereka dengan sadar tahu mana kata cakapan yang harus diperjuangkan menjadi baku, dan mana cara ukap lisan yang harus dihindari di atas kertas. Kesadaran itu harus menjadi dinding api yang tegas.
Hanya dengan begitu media massa cetak bisa menjalankan misinya untuk meluruskan kekeliruan berbahasa di masyarakat, sekalius ikut berperan dalam perkembangan bahasa Indonesia.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Mei 2009
      S S R K J S M
           
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      25262728293031
  • Cari